Warisan rasa yang kembali hadir di ruang publik
Festival Jajanan Bingen adalah perayaan kuliner yang mengangkat kudapan tempo dulu sebagai warisan budaya dan mempertemukannya kembali dengan masyarakat masa kini. Di Palembang, acara ini menunjukkan bahwa jajanan tradisional Palembang layak mendapat tempat di tengah pilihan makanan modern, bukan hanya dikenang sebagai rasa dari masa lalu. Festival Jajanan Bingen 2026 berlangsung di Little Star OPI Mall Jakabaring pada 31 Oktober hingga 1 November, dalam rangka HUT ke-39 Sriwijaya Post. Salah satu agendanya adalah pengajuan rekor MURI melalui penyajian jajanan bingen dengan jenis terbanyak. Gagasan itu memberi festival daya tarik publik, tetapi nilai terbesarnya ada pada perjumpaan lintas generasi: pengunjung dapat mengenal kudapan, resep, dan tradisi keluarga yang berisiko terlupakan jika hanya tersimpan dalam cerita.
Kehadiran Ketua TP PKK Kabupaten Musi Banyuasin, Hj Patimah Toha Tohet, bersama Staf Ahli TP PKK Muba Liliyani Abdur Rohman, memberi dukungan nyata terhadap upaya pelestarian ini. Patimah menilai festival dapat menjaga kuliner tradisional sekaligus mendorong promosi dan pemberdayaan UMKM. Itu sudut pandang yang tepat: pelestarian akan lebih kuat ketika jajanan tetap dibuat, diperkenalkan, dan dinikmati, bukan sekadar dipajang sebagai nostalgia. Dengan menjadikan kudapan lama bagian dari acara publik, festival membantu tradisi bertemu dengan peluang usaha tanpa melepaskan akar budayanya.

Tradisi perlu diwariskan lewat pengalaman
Kuliner tempo dulu membawa lebih dari rasa. Di balik jajanan bingen terdapat resep turun-temurun dan kebiasaan keluarga, termasuk proses pewarisan dari ibu kepada anak. Karena itu, festival seperti ini penting bukan semata-mata sebagai hiburan, melainkan sebagai tempat generasi muda melihat dan mengenal warisan kuliner secara langsung. Harapan Patimah agar anak cucu tidak hanya mengetahui jajanan bingen dari cerita merangkum alasan pelestarian harus dibuat nyata: tradisi bertahan ketika orang masih bisa menjumpainya dalam kehidupan sehari-hari. Sajian beragam dan suasana festival dapat membuka rasa ingin tahu, sementara pelaku UMKM memperoleh ruang untuk memperkenalkan produk lokal kepada khalayak yang lebih luas. Tantangannya bukan memilih antara menjaga resep lama dan mengikuti zaman, melainkan memastikan perubahan tidak memutus hubungan dengan asal-usulnya.
Dukungan terhadap jajanan tradisional juga perlu berlanjut setelah acara usai. Perhatian publik yang tumbuh di festival dapat menjadi awal, tetapi keberlanjutan bergantung pada pengenalan rutin kepada generasi muda serta kesempatan bagi pembuat jajanan untuk terus berkreasi. Dengan cara itu, kudapan lama tidak terkurung sebagai objek nostalgia; ia tetap menjadi bagian dari identitas daerah dan keseharian masyarakat. Festival Jajanan Bingen memperlihatkan bagaimana perayaan kuliner dapat menjembatani dua tujuan tersebut: menghormati warisan sekaligus membuka jalan agar jajanan terus dikenal.
Penghargaan favorit menegaskan minat publik
Antusiasme terhadap kudapan tradisional juga tampak dalam Festival Jajanan Jadul di OPI Mall Palembang. Dalam acara yang berlangsung pada 30 Oktober hingga 1 November 2026 itu, TP-PKK Kabupaten Empat Lawang meraih Juara Terfavorit I. Penghargaan tersebut menunjukkan bahwa sajian daerah mampu menarik perhatian pengunjung sekaligus membawa identitas lokal ke hadapan khalayak yang lebih luas. Ketua TP-PKK Empat Lawang, Hj. Heppy Sapriani, menyampaikan bahwa jajanan tradisional menyimpan cerita, kenangan, dan nilai budaya yang diwariskan antargenerasi. Pengakuan favorit menjadi dorongan bagi tim untuk terus menggali dan mempromosikan potensi kuliner daerah, bukan sekadar penanda kemenangan dalam sebuah acara.
Dua peristiwa ini memperlihatkan fungsi festival yang lebih berarti daripada sekadar mengumpulkan aneka makanan. Perayaan kuliner dapat membangun perhatian publik, memberi ruang bagi daerah untuk memperkenalkan kekhasannya, dan mengingatkan keluarga bahwa resep warisan perlu diteruskan. Jika dukungan terhadap pembuat jajanan serta pengenalan kepada generasi muda terus berjalan, kudapan tempo dulu berpeluang tetap hidup di luar panggung festival. Itulah ukuran keberhasilan yang seharusnya dikejar: bukan hanya banyaknya sajian atau meriahnya acara, tetapi hadirnya tradisi kuliner dalam ingatan dan pilihan masyarakat.
Kesimpulan: nostalgia harus berlanjut menjadi kebiasaan
Festival Jajanan Bingen dan Festival Jajanan Jadul membuktikan bahwa kuliner tradisional masih punya daya tarik ketika diberi ruang untuk tampil dan diceritakan. Kehadiran Patimah Toha Tohet menegaskan pentingnya dukungan terhadap pelestarian dan UMKM, sementara penghargaan favorit yang diraih TP-PKK Empat Lawang memperlihatkan sambutan masyarakat terhadap sajian daerah. Namun, nostalgia saja tidak cukup. Warisan kuliner akan bertahan jika resep terus diwariskan, pembuat jajanan mendapat dukungan, dan generasi muda diajak mengenal serta menikmatinya. Festival menjadi pemantik yang berharga; pekerjaan menjaga tradisi harus diteruskan setelah lampu acara padam.






