Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Stasiun Kereta Beralih ke Atap Surya: Langkah Nyata Green Station

Stasiun Kereta Beralih ke Atap Surya: Langkah Nyata Green Station
Minat|Asia Tenggara

Atap Stasiun Jadi Pembangkit: Esensi Gerakan Green Station

PLTS stasiun kereta adalah pemanfaatan panel surya di atap bangunan stasiun untuk menghasilkan listrik yang digunakan langsung mendukung operasional layanan penumpang, mulai dari penerangan ruang tunggu hingga ruang kerja petugas, dengan tujuan menekan konsumsi listrik dari jaringan konvensional dan mengurangi jejak karbon sistem transportasi massal. Langkah PT KAI Daop 9 Jember memasang Pembangkit Listrik Tenaga Surya di empat stasiun bukan sekadar proyek infrastruktur, melainkan pernyataan sikap tentang arah masa depan transportasi. Alih-alih menunggu regulasi memaksa, mereka memilih mengubah atap yang tadinya pasif menjadi aset energi surya transportasi. Sikap proaktif ini penting: tanpa keberanian operator besar menguji konsep green station Indonesia, transisi energi di sektor transportasi hanya akan berhenti di wacana. Keputusan menaruh panel surya di atas jalur mobilitas harian publik menunjukkan bahwa efisiensi energi KAI mulai ditempatkan sebagai bagian inti strategi, bukan tambahan kosmetik.

39 kWp di Empat Stasiun: Angka yang Mulai Mengubah Neraca Energi

Empat stasiun di wilayah Daop 9—Probolinggo, Jember, Ketapang, dan Banyuwangi Kota—kini berbagi satu kesamaan penting: atapnya menghasilkan listrik. PLTS Probolinggo, Jember, dan Ketapang beroperasi sejak Desember 2023 dengan kapasitas 6 kWp, 15 kWp, dan 7 kWp, disusul Banyuwangi Kota pada Maret 2025 dengan 11 kWp, sehingga total mencapai 39 kWp. Sistem on-grid memungkinkan energi dari panel surya infrastruktur ini masuk langsung ke jaringan PLN dan menopang area pelayanan penumpang, mulai dari ruang tunggu, loket, area publik, hingga ruang kerja petugas. Data konsumsi listrik menunjukkan dampak yang tidak bisa diabaikan: penghematan 22 persen di Stasiun Jember, 14 persen di Probolinggo, 13 persen di Banyuwangi Kota, dan 10 persen di Ketapang. "KAI mencatat penghematan konsumsi listrik sebesar 22 persen di Stasiun Jember," menjadi kutipan yang menandai bahwa energi surya transportasi bukan lagi sekadar konsep.

Dampak ke Penumpang: Listrik Lebih Hemat Tanpa Mengorbankan Kenyamanan

Yang sering terlupakan dalam diskusi energi terbarukan di sektor transportasi adalah pengalaman penumpang. Di Daop 9, efisiensi energi KAI diam-diam sudah terasa di titik paling sederhana: lampu ruang tunggu yang tetap terang meski konsumsi listrik menurun. Energi PLTS stasiun kereta digunakan untuk penerangan ruang tunggu, loket, area publik, dan ruang kerja petugas, sehingga sebagian beban listrik di jam sibuk siang hari dialihkan ke matahari. Bersamaan dengan itu, KAI mengganti lampu konvensional dengan LED hemat energi dan memasang sistem timer untuk mengatur nyala lampu sesuai jam operasional. Menariknya, penghematan tidak dibayar dengan penurunan layanan—"Efisiensi dilakukan dari berbagai sisi… tanpa mengurangi kenyamanan maupun pelayanan kepada penumpang," tegas Cahyo Widiantoro. Inilah inti green station Indonesia yang patut diapresiasi: penumpang tidak disuruh berkorban demi lingkungan, tetapi menikmati layanan yang lebih andal dengan jejak energi yang lebih kecil.

Atap sebagai Aset Energi: Cara Baru Memandang Infrastruktur Transportasi

Di banyak kota, atap stasiun kereta selama ini hanya dianggap pelindung dari panas dan hujan. Di Daop 9, cara pandang itu diubah: sebagian atap kini berfungsi sebagai pembangkit listrik tenaga surya yang terhubung ke jaringan PLN. Pendekatan panel surya infrastruktur semacam ini strategis karena memanfaatkan area yang sudah ada, tanpa perlu lahan baru. Atap stasiun menjadi lapisan ganda: pelindung fisik sekaligus sumber daya energi. Konsep ini sangat relevan untuk green station Indonesia, di mana keterbatasan ruang di pusat kota sering dijadikan alasan menunda inovasi. Dengan kapasitas 39 kWp yang memukul balik konsumsi listrik konvensional, konsep atap produktif menunjukkan bahwa transformasi energi bisa dimulai dari hal yang tampak sepele: menganggap setiap meter persegi bangunan sebagai potensi energi surya transportasi, bukan hanya struktur pasif.

Menuju Ekosistem Transportasi Berkelanjutan: PLTS Baru Permulaan

Pemasangan PLTS di empat stasiun sesungguhnya baru langkah awal dari agenda yang lebih besar. Daop 9 Jember berencana memperluas pemanfaatan PLTS ke bangunan-bangunan lain milik KAI, terutama yang aktif di siang hari dan rakus listrik. Selain atap stasiun, lampu Penerangan Jalan Umum berbasis solar panel mulai diposisikan sebagai bagian strategi efisiensi. Di sisi teknologi, pengelolaan energi akan diperkuat dengan sistem berbasis Internet of Things dan Integrated Building Management System untuk pemantauan dan pengendalian penggunaan energi secara real time. Ini penting untuk memastikan setiap kilowatt yang dihemat bukan kebetulan, melainkan hasil keputusan yang terukur. Bagi KAI, efisiensi energi di stasiun adalah komponen ekosistem transportasi berkelanjutan, bukan proyek tersendiri. Jika pendekatan ini konsisten dan menular ke daerah operasi lain, istilah green station tidak akan berhenti di poster kampanye, tetapi menjadi standar baru bagi jaringan kereta nasional.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!