Pertumbuhan 5,29 Persen yang Belum Merata dan Jawaban TDA 9.0
Program TDA 9.0 adalah inisiatif komunitas pengusaha yang berfokus membangun ekosistem bisnis lokal terintegrasi di 119 daerah melalui penguatan kapasitas usaha, pemanfaatan teknologi untuk UMKM, dan perluasan akses pasar regional agar pengusaha daerah naik kelas secara berkelanjutan. Pertumbuhan ekonomi sebesar 5,29 persen pada triwulan II 2026 menjadi latar penting, karena tidak semua pelaku usaha merasakan dampaknya secara merata. Di titik inilah TDA mengambil posisi: pertumbuhan makro harus diterjemahkan menjadi peluang konkret di lapangan, bukan sekadar angka di laporan. MUKERNAS TDA 9.0 yang digelar 13–15 Oktober di Surabaya mengumpulkan sekitar 500 pengurus dari 119 daerah untuk menyusun strategi bersama. Ini bukan sekadar rapat organisasi, melainkan pernyataan sikap bahwa pengusaha lokal tidak boleh dibiarkan berjalan sendiri menghadapi perubahan pasar.

Ekosistem Bisnis Lokal: Dari Kopdar ke Mesin Transaksi Komunitas
Kekuatan utama TDA 9.0 bukan pada jargon, tetapi pada keberanian mengubah pertemuan komunitas menjadi ekosistem bisnis lokal yang hidup. Ferdian Brilian menegaskan bahwa pengusaha tidak bisa bertahan sendirian; mereka perlu saling memasok produk dan memakai layanan sesama anggota dalam satu ekosistem. Strategi ini menggeser fokus dari persaingan ke kolaborasi: transaksi diupayakan terjadi dulu di dalam komunitas sebelum anggota memperluas pasar ke luar jaringan. Di sinilah jalan pintas pengusaha daerah naik kelas: mereka mendapatkan pasar awal yang relatif aman, sekaligus umpan balik cepat untuk memperbaiki produk. Model kemitraan dan pembukaan cabang yang didorong TDA memberi alternatif bagi pengusaha yang ingin masuk sektor baru tanpa harus membangun sistem dari nol. Ekosistem yang terintegrasi seperti ini membuat risiko belajar menjadi lebih terukur, sementara peluang tumbuh menjadi lebih nyata.
Penguatan Kapasitas Usaha: 97 Persen Anggota Masih di Level Pondasi
Data internal TDA menunjukkan sekitar 97 persen anggota masih berada di level foundation dengan omzet di bawah Rp2,5 miliar per tahun. Angka ini seharusnya menjadi alarm, bukan sekadar statistik. Dedy Syandera Putera mengingatkan bahwa peluang tidak otomatis berubah menjadi pertumbuhan jika kapasitas pengusahanya tidak ikut berkembang. Di sinilah TDA Academy memainkan peran strategis: menyediakan pembelajaran manajemen, keuangan, pemasaran, kepemimpinan, pengelolaan SDM, teknologi, hingga kesiapan scale up. Pendekatan ini menunjukkan bahwa penguatan kapasitas usaha bukan lagi pelengkap, melainkan inti strategi. Pengusaha daerah yang ingin naik kelas membutuhkan kurikulum yang membumi: bagaimana mengelola arus kas, membangun tim, membaca data penjualan, hingga menyiapkan SOP untuk model cabang atau kemitraan. Tanpa fondasi ini, akses pasar regional hanya akan menjadi beban baru, bukan peluang.
TDA One: Teknologi untuk UMKM dari Go Digital ke Go Kompetitif
Teknologi untuk UMKM sering berhenti pada slogan “go digital”, tetapi TDA 9.0 mencoba melangkah lebih jauh melalui TDA One. Platform ini dirancang sebagai pusat konektivitas yang menghubungkan anggota, profil bisnis, pengetahuan, dan peluang kolaborasi. Data hampir 70.000 anggota yang masuk ke TDA One diharapkan membantu pengusaha menemukan koneksi yang tepat dengan kebutuhan usaha mereka. Menurut Arif Wicaksono Pramunagoro, teknologi harus menghasilkan produktivitas, membuka pasar, dan menciptakan peluang; pengusaha perlu bergerak dari Go Digital menuju Go Produktif dan Go Kompetitif. Rencana penambahan fitur learning management system (LMS) membuat TDA One bukan sekadar direktori, tetapi juga ruang belajar berkelanjutan. Dengan gamification, anggota didorong aktif memindai aplikasi, bertukar informasi bisnis, dan membangun relasi baru. Jika konsisten dijalankan, TDA One berpotensi menjadi tulang punggung ekosistem bisnis lokal yang terukur dan data-driven.
Akses Pasar Regional dan Peran 119 Daerah sebagai Jaringan Hidup
Keunggulan TDA 9.0 terletak pada jaringannya yang tersebar di 119 daerah, bukan hanya di pusat. Pengurus wilayah dan daerah didorong menjadi connector, facilitator, dan activator yang menghubungkan kebutuhan pengusaha lokal dengan jaringan bisnis yang lebih luas. Melalui jaringan antardaerah ini, akses pasar regional dibuka lewat kerja sama bisnis, pertukaran pengetahuan, dan kemitraan dengan pemerintah, lembaga keuangan, korporasi, perguruan tinggi, serta penyedia teknologi. Strategi ini penting karena setiap daerah punya potensi dan produk unggulan berbeda, sementara tantangan mereka mirip: kapasitas terbatas, akses pasar sempit, dan pemanfaatan teknologi yang belum optimal. Program nasional TDA 9.0 dirancang agar tidak berhenti di dokumen; keberhasilannya diukur dari manfaat yang dirasakan pengusaha di daerah. Jika ekosistem terintegrasi ini konsisten dijalankan, pengusaha daerah naik kelas bukan lagi wacana, melainkan konsekuensi logis dari kapasitas yang menguat, teknologi yang tepat guna, dan pasar yang saling terhubung.






