Keselamatan Kelistrikan Siswa: Preventif, Bukan Sekadar Sosialisasi Seremonial
Program PLN Goes to School adalah inisiatif edukasi listrik sekolah yang menghadirkan langsung petugas PLN ke kelas-kelas SD, SMP, SMA, dan SMK untuk mengajarkan keselamatan kelistrikan siswa, penggunaan listrik yang aman, serta tanggung jawab sebagai pengguna energi dalam kehidupan sehari-hari. Ini bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan strategi preventif yang menempatkan pengetahuan sebagai pelindung pertama dari bahaya listrik. Dengan menjadikan siswa sebagai target utama, PLN memilih jalur yang paling masuk akal: mengubah kebiasaan sejak muda, sebelum perilaku berisiko terbentuk. Di tengah rumah tangga yang semakin penuh perangkat elektronik, buta terhadap risiko kelistrikan bukan lagi pilihan. Program ini, bila konsisten dan meluas, berpotensi mengubah cara keluarga memperlakukan listrik—dari sesuatu yang dianggap “biasa” menjadi sesuatu yang digunakan dengan sadar dan waspada.
Dari Semarang hingga Banjar: Listrik Aman untuk Calon Pekerja dan Pengguna Dewasa
Di Semarang, PLN ULP Semarang Tengah bersama PLN UP2D Jawa Tengah menggelar program PLN Goes to School di SMK Negeri 5 Semarang dengan tema keselamatan dan kesehatan kerja (K3) bagi siswa Teknik Listrik. Fokusnya jelas: menyiapkan calon tenaga kerja yang menganggap keselamatan sebagai budaya, bukan beban prosedur. Penjelasan teknis tentang cara kerja arus, sistem kelistrikan, dan prosedur kerja aman menunjukkan bahwa yang diajarkan bukan teori kosong, melainkan pengetahuan praktis yang menentukan apakah seorang teknisi pulang dengan selamat atau tidak. Di Banjar, Unit Layanan Pelanggan Banjar hadir di SMA Negeri 1 Banjar untuk mengedukasi penggunaan listrik yang aman, bijak, dan bertanggung jawab sekaligus memperkenalkan aplikasi PLN Mobile. Menggabungkan keselamatan kelistrikan dengan literasi digital adalah langkah cerdas: siswa tidak hanya tahu cara menghindari bahaya, tetapi juga tahu kanal resmi untuk mengadukan gangguan atau mengelola kebutuhan listrik secara tertib.
Jeneponto: Ketika Pencegahan Risiko Kelistrikan Dimulai dari Siswa SD
Contoh paling tegas bahwa keselamatan kelistrikan harus dimulai sedini mungkin terlihat di Jeneponto. Pusat Manajemen Proyek PLN melalui UPMK V mengajak 28 siswa kelas 6 UPT SD Negeri 3 Bangkala mewaspadai berbagai risiko kelistrikan. Pendekatan interaktif membuat anak-anak mengenali bahaya yang sangat dekat dengan kehidupan mereka: stop kontak yang digunakan berlebihan, kabel rusak, hingga risiko korsleting. Imbauan seperti tidak bermain layang-layang di dekat jaringan listrik, tidak bermain air di sekitar stop kontak, dan segera melapor jika melihat kabel putus adalah bentuk pencegahan risiko kelistrikan yang konkret, bukan slogan abstrak. Pernyataan manajer UPMK V bahwa keselamatan ketenagalistrikan adalah budaya yang perlu ditanamkan sejak usia dini menegaskan satu hal: jika anak SD bisa memahami bahaya listrik, alasan orang dewasa untuk tetap abai menjadi tidak lagi bisa diterima.

Dari Kelas ke Rumah: Budaya Aman Listrik sebagai Tanggung Jawab Kolektif
Benang merah dari Semarang, Tasikmalaya, hingga Jeneponto adalah ambisi PLN membangun budaya keselamatan yang berkelanjutan melalui generasi muda. Materi tidak berhenti pada daftar bahaya; siswa diajak memahami langkah pencegahan sederhana dan sikap saling mengingatkan demi keselamatan bersama. Di Banjar, penekanan pada sikap peduli dan bertanggung jawab memposisikan pelajar bukan sebagai penerima informasi pasif, tetapi sebagai agen perubahan di rumah dan sekolah. Integrasi edukasi listrik sekolah dengan pemanfaatan PLN Mobile mengalihkan kebiasaan “diam dan pasrah” menjadi kebiasaan melapor dan mengelola layanan secara tertib. Kesimpulannya, program PLN Goes to School layak dipandang sebagai embrio kebijakan nasional keselamatan kelistrikan: jika keluarga, guru, dan PLN konsisten memelihara budaya ini, angka kecelakaan akibat listrik seharusnya turun bukan karena keberuntungan, tetapi karena keputusan sadar untuk hidup lebih aman.






