Uji nyata energi untuk era digital
Pusat data hijau adalah fasilitas penyimpanan dan pemrosesan informasi yang dirancang untuk mengurangi dampak lingkungan, termasuk dengan memakai listrik dari sumber terbarukan. Rencana Pertamina Geothermal Energy (PGE) menarik karena menjadikan energi panas bumi bukan sekadar tambahan bagi jaringan, melainkan calon sumber utama bagi infrastruktur digital yang terus membutuhkan listrik.
PGE membidik pengembangan pusat data ramah lingkungan yang pasokannya hanya berasal dari panas bumi dan tidak tersambung ke pembangkit lain. Proyek percontohan sedang berjalan di kawasan PLTP Kamojang, Kabupaten Bandung, dengan alokasi 5 megawatt. Direktur Utama PGE Ahmad Yani menyebut proyek itu dirancang untuk membuktikan bahwa PLTP dapat memasok kebutuhan operasional pusat data secara andal tanpa bergantung pada sumber pembangkit lain.
Ambisi menjadi yang pertama di dunia masih perlu dibaca sebagai target, bukan capaian yang sudah terwujud. Nilai terpenting proyek ini adalah pengujian langsung: apakah listrik panas bumi mampu memenuhi kebutuhan pusat data dengan pasokan yang konsisten, sekaligus memberi dasar bagi model bisnis yang dapat diterapkan di lokasi lain.
Pasokan langsung punya peluang sekaligus batas
PGE juga menjajaki penjualan listrik panas bumi secara langsung kepada pengelola pusat data. Model pasokan listrik data center seperti ini berpotensi memberi konsumen akses yang lebih jelas ke energi terbarukan, sementara PGE dapat membuka penggunaan baru bagi pembangkit panas bumi. Namun, penyaluran langsung tidak boleh mengurangi pasokan perusahaan kepada PLN.
Direktur Eksplorasi dan Pengembangan PGEO, Edwil Suzandi, mengatakan perusahaan tengah mengkaji dampak pasokan langsung terhadap listrik yang disalurkan kepada PLN. PGE juga berdiskusi dengan sejumlah calon pembeli atau offtaker, tetapi proyek baru dapat dieksekusi setelah persyaratan regulasi dipenuhi.
Artinya, keberhasilan tidak ditentukan oleh ketersediaan sumber panas bumi saja. Kebutuhan pusat data harus dipertemukan dengan kapasitas pembangkit, kewajiban pasokan ke jaringan, perjanjian jual beli, dan kepastian jadwal. Tanpa perencanaan itu, klaim pasokan langsung hijau berisiko menjadi lebih menarik di atas kertas daripada dapat diandalkan dalam operasi.
Perizinan dan dampak lingkungan menentukan langkah berikut
Tantangan berikutnya bersifat praktis. PGEO sedang merevisi izin Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) karena kebutuhan memasok pusat data memerlukan izin yang berbeda dari izin yang berlaku saat ini. Perusahaan berharap revisi AMDAL dan kajian terkait rampung pada akhir 2026 atau paling lambat kuartal I-2027, sebelum proyek bergerak ke tahap lanjutan.
PGE juga berharap proyek percontohan menjawab kekhawatiran masyarakat mengenai pengelolaan air dan dampak lingkungan lain dari pengembangan pusat data. Ini penting: label hijau tidak cukup jika dampak fasilitas terhadap lingkungan setempat tidak dijelaskan dan dikelola dengan baik. Pembuktian harus mencakup bukan hanya asal listrik, tetapi juga aspek lingkungan operasional pusat data.
PGE menilai pengembangan lebih luas akan membutuhkan tarif yang kompetitif, transparan, dan dapat diprediksi, dukungan insentif fiskal serta pembiayaan hijau, dan penyelarasan rencana kerja panas bumi dengan jaringan, kontrak pasokan, serta target operasi. Jika percontohan Kamojang berhasil, pendekatan ini dapat membuka peluang pusat data hijau di wilayah kerja panas bumi lainnya. Namun, replikasi sebaiknya mengikuti bukti teknis dan lingkungan, bukan sekadar ambisi menjadi pelopor.
Peluang besar, tetapi pembuktian harus lebih dulu
Panas bumi menawarkan daya tarik bagi infrastruktur digital karena dapat menjadi sumber energi terbarukan yang memasok pusat data secara langsung. Proyek Kamojang menguji gagasan itu dengan skala 5 megawatt, sekaligus mengukur apakah pasokan dapat berjalan tanpa mengorbankan komitmen kepada PLN. Tahap perizinan, kepastian calon pembeli, dan kelayakan komersial akan menentukan apakah uji teknis berkembang menjadi layanan nyata.
Rencana PGE patut didukung sebagai eksperimen strategis, tetapi keberhasilannya tidak cukup diukur dari sebutan pusat data hijau atau klaim sebagai yang pertama. Ukuran yang lebih berarti ialah pasokan yang andal, dampak lingkungan yang tertangani, dan aturan yang memungkinkan proyek beroperasi dengan jelas. Jika ketiganya terbukti, listrik panas bumi dapat menjadi bagian penting dari fondasi digital yang lebih bersih.






