Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Asap Karhutla Masih Menekan Kualitas Udara di Sejumlah Wilayah

Asap Karhutla Masih Menekan Kualitas Udara di Sejumlah Wilayah
Minat|Tembikar

Hujan belum membersihkan udara

Karhutla adalah kebakaran hutan dan lahan yang menghasilkan asap serta partikel pencemar, sehingga dampaknya terhadap udara dapat bertahan meskipun hujan mulai turun. Pada Senin, 2 November 2026, kualitas udara di Palembang, Ogan Ilir, dan PALI masih masuk kategori tidak sehat. Kondisi ini menunjukkan bahwa hujan memang membantu menekan kebakaran, tetapi belum cukup untuk menghilangkan paparan asap yang sudah menyebar. Bagi warga, persoalannya bukan sekadar langit yang tampak berkabut: udara tercemar dapat mengganggu kegiatan sehari-hari dan menuntut kewaspadaan, terutama ketika kualitasnya masih berada di kategori tidak sehat. Karena itu, penurunan titik panas patut disambut, tetapi tidak boleh disamakan dengan pulihnya kualitas udara. Selama api dan lahan terbakar masih tersisa, dampak asap tetap menjadi masalah nyata.

Data ISPU PM2,5 mencatat angka 131 untuk kualitas udara Palembang, sementara ISPU Ogan Ilir berada di angka 101. PALI mencatat angka 200 dan konsentrasi PM2,5 tertinggi, yakni 200 mikrogram per meter kubik; pemantauan mengategorikan kualitas udaranya sangat tidak sehat. Perbedaan angka antardaerah penting, tetapi kesimpulannya sama: hujan belum mengakhiri risiko paparan. Warga sebaiknya memperhatikan pembaruan kualitas udara dan membatasi paparan asap saat kondisi memburuk.

Asap Karhutla Masih Menekan Kualitas Udara di Sejumlah Wilayah

Titik panas turun, tetapi belum stabil

Menurut Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD Sumsel, Sudirman, secara umum hotspot dan kejadian karhutla menurun seiring hujan yang mulai turun di sebagian besar wilayah. Namun, angka harian memperlihatkan bahwa situasinya masih naik-turun, bukan penurunan yang sudah aman. Pada 27 Oktober tercatat 224 titik panas, lalu turun menjadi 16 pada 28 Oktober. Angkanya kembali menjadi 23 pada 29 dan 30 Oktober, melonjak ke 118 pada 31 Oktober, dan mencapai 141 pada 1 November. Dalam pemantauan 24 jam hingga pukul 06.00 WIB pada 2 November, tercatat 109 hotspot di 12 kabupaten/kota. Pola ini mengingatkan bahwa hujan memberi bantuan, bukan jaminan bahwa api tak akan kembali meluas.

OKI menjadi wilayah dengan hotspot terbanyak, sebanyak 42 titik. Muara Enim mencatat 17 titik, Musi Banyuasin 10, Lahat sembilan, dan OKU tujuh. Titik panas juga tercatat di sejumlah wilayah lain, termasuk Banyuasin, PALI, dan beberapa kabupaten dengan jumlah lebih kecil. Secara kumulatif, karhutla Sumsel mencapai 120.589 hotspot sejak Januari hingga 1 November 2026. Besarnya angka ini memperkuat alasan agar penanganan tidak mengendur hanya karena sebagian wilayah telah diguyur hujan. Cuaca membantu, tetapi pemantauan dan pemadaman tetap menentukan apakah penurunan bertahan.

Asap Karhutla Masih Menekan Kualitas Udara di Sejumlah Wilayah

Masih ada lahan yang belum padam

Dari estimasi total 79,50 hektare lahan terbakar, pemadaman darat menangani 35,50 hektare dan pemadaman udara 17 hektare. Total 52,50 hektare telah berhasil dipadamkan, tetapi sekitar 27 hektare masih belum padam. Selisih itu bukan catatan administratif belaka: lahan yang tersisa dapat terus menjadi sumber asap dan menyulitkan pemulihan udara. Karena itu, penanganan karhutla masih harus berlanjut, terutama di lokasi yang masih memiliki titik api dan lahan terbakar. Data yang tersedia tidak merinci lokasi fokus pemadaman, sehingga kesimpulan yang paling kuat adalah perlunya operasi tetap berjalan sampai api benar-benar terkendali.

Angka kebakaran yang menurun dan hujan yang turun memberi alasan untuk optimistis secara terbatas, bukan untuk menganggap ancaman selesai. Tiga wilayah masih mencatat udara tidak sehat, PALI menanggung konsentrasi PM2,5 tertinggi, dan puluhan hektare lahan belum padam. Prioritas berikutnya harus jelas: tuntaskan pemadaman, lanjutkan pemantauan, dan sampaikan kondisi udara secara rutin agar warga dapat mengambil keputusan yang lebih aman. Selama asap masih memengaruhi kualitas udara, keberhasilan penanganan seharusnya diukur bukan hanya dari berkurangnya hotspot, tetapi juga dari pulihnya udara yang dihirup masyarakat.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!