Penguatan udara untuk kebakaran yang meluas
Karhutla adalah kebakaran hutan dan lahan yang memerlukan pemadaman terkoordinasi, terutama ketika api muncul di medan luas dan sulit dijangkau. Pada Jumat, 23 Oktober 2026, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan akan menambah armada udara untuk memperkuat penanganan karhutla di Jawa Timur.
Keputusan ini tepat, tetapi juga menunjukkan betapa beratnya situasi di sejumlah pegunungan: Arjuno-Welirang, Bromo, Semeru, dan Ijen. Titik api yang muncul bersamaan, ditambah cuaca ekstrem, membuat respons darat saja tidak memadai. Karena itu, tambahan armada udara BNPB bukan sekadar dukungan teknis; ini kebutuhan untuk mengejar api sebelum kebakaran meluas dan mengancam kawasan yang lebih besar.

Aset dari Kalimantan, dua fungsi berbeda
BNPB mengirim satu helikopter dari Kalimantan Selatan ke Malang untuk melakukan pengeboman air, serta satu pesawat dari Kalimantan Barat untuk mendukung Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Pengiriman itu menempatkan dua jenis dukungan udara dalam satu operasi: helikopter pemadam api menyasar titik kebakaran, sementara pesawat OMC mendukung upaya menghadirkan hujan.
Pembagian peran ini masuk akal, tetapi hasilnya tetap bergantung pada koordinasi dengan tim darat dan kondisi cuaca. Pesawat pemadam karhutla telah diterbangkan 462 kali oleh pemerintah provinsi sepanjang 2026, namun kebakaran masih tersebar di banyak lokasi. Tambahan aset dari Kalimantan berpotensi mempercepat respons, bukan menggantikan kebutuhan pemantauan dan pemadaman darat.
Skala kebakaran menuntut perlindungan kawasan dan petugas
Selama masa siaga darurat, karhutla Jawa Timur tercatat melanda 26 kabupaten dan kota dalam 184 kejadian, dengan luas terbakar mencapai 11.449 hektare. Sebanyak 77,05 persen area tersebut berada di hutan konservasi. Angka itu menegaskan bahwa operasi bukan hanya soal meredam api, melainkan juga membatasi kerusakan ekosistem yang sulit dipulihkan.
Teknologi udara juga penting bagi keselamatan dan jangkauan. Drone penyemprot air berkapasitas 100 liter digunakan untuk area bert tebing curam yang sulit dicapai petugas darat. Risiko bagi manusia pun nyata: jumlah petugas dan sukarelawan yang meninggal akibat karhutla di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru mencapai enam orang. BNPB menyatakan akan mengevaluasi kematian sukarelawan agar kejadian serupa tidak terulang.
Kecepatan harus dibarengi keselamatan dan pengawasan
Pengerahan helikopter dan pesawat dari Kalimantan merupakan langkah yang perlu, tetapi keberhasilannya tidak boleh diukur hanya dari jumlah penerbangan. Ukuran yang lebih penting ialah apakah titik api cepat terkendali, kawasan konservasi terlindungi, dan petugas tidak kembali kehilangan nyawa. Pengawasan juga harus diperkuat karena titik api yang muncul bersamaan di beberapa gunung menjadi perhatian di tengah cuaca ekstrem.
Dengan menggabungkan pengeboman air, OMC, teknologi untuk medan sulit, operasi darat, dan penegakan pengawasan, BNPB serta pemerintah daerah memiliki peluang lebih baik untuk menahan penyebaran api. Namun, tambahan armada udara hanya akan efektif bila disertai koordinasi yang disiplin dan evaluasi keselamatan. Inilah ujian sesungguhnya bagi respons karhutla Jawa Timur: bukan sekadar mengirim aset, melainkan memastikan aset itu melindungi hutan dan manusia.






