Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Menyelamatkan Emprak Lewat Pentas Bulanan dan Tur Desa

Menyelamatkan Emprak Lewat Pentas Bulanan dan Tur Desa
Minat|Pertukangan Kayu

Emprak di Ambang Punah, Inisiatif Bulanan Hadir sebagai Alarm Budaya

Pelestarian kesenian Emprak adalah upaya sadar untuk menjaga seni pertunjukan khas Jepara yang memadukan teater, musik, tembang, tari, dan lawakan, dari ancaman kepunahan akibat perubahan selera hiburan, keterbatasan panggung, tingginya biaya pertunjukan, serta minimnya regenerasi pengrajin muda, melalui pentas kesenian bulanan dan tur desa yang membuka kembali ruang pertemuan antara seniman tradisional dan masyarakat luas. Di Joglo Pancasila Jepara, Sabtu malam (17/10), Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menginisiasi agar Emprak dipentaskan rutin setiap bulan dan berkeliling ke desa-desa. Langkah ini bukan sekadar agenda seremonial, melainkan sikap politik kebudayaan: menolak diam ketika satu-satunya kelompok aktif, Sido Mukti, hanya bertahan dengan sekitar tujuh hingga sembilan seniman dari desa-desa sekitar. Jika mata rantai ini putus, Emprak bukan hanya kehilangan panggung, tetapi juga kehilangan ingatan kolektif yang dikandungnya.

Menyelamatkan Emprak Lewat Pentas Bulanan dan Tur Desa

Ancaman Kepunahan: Ketika Panggung Menghilang dan Generasi Muda Menjauh

Emprak pernah menjadi raja hiburan hajatan warga pada era 1980–1990, tampil semalam suntuk dan didukung sedikitnya lima kelompok aktif di wilayah Jepara. Kini, kondisi itu berbalik tajam: kelompok yang bertahan dapat dihitung dengan jari, bahkan Sido Mukti dari Desa Kepuk diduga menjadi satu-satunya kelompok yang masih hidup. Perubahan selera hiburan ke arah tontonan instan, keterbatasan ruang pentas, tingginya biaya pertunjukan, dan mandeknya regenerasi pengrajin Jepara membuat Emprak tersisih dari ruang sosial. Di balik panggung yang sepi, seniman senior menyimpan pengetahuan yang tumbuh dari pengalaman panjang, tetapi tanpa murid muda, pengetahuan itu terancam hilang. Ketika sebuah kesenian mulai ditinggalkan dan nyaris punah, hadirnya kebijakan konkret menjadi keharusan, bukan pilihan. Inilah titik krisis yang dijadikan momentum oleh Lestari Moerdijat untuk mengubah arah nasib Emprak.

Menyelamatkan Emprak Lewat Pentas Bulanan dan Tur Desa

Pentas Kesenen Bulanan dan Tur Desa: Strategi Akar Rumput untuk Regenerasi

Jawaban atas krisis itu datang dalam bentuk yang sederhana namun strategis: pentas kesenian bulanan dan tur desa. Lestari Moerdijat mendorong agar Emprak dipentaskan rutin setiap bulan dengan konsep keliling desa-desa di Jepara, bukan hanya sekali dalam setahun. Ketua DPD NasDem Jepara, Pratikno, menyatakan siap menyusun formula pelaksanaan pentas keliling di titik-titik keramaian warga, agar Emprak kembali hadir di tengah kehidupan sehari-hari. Langkah ini jelas berpihak pada pelestarian kesenian Emprak: membuka panggung berarti membuka kesempatan kerja bagi seniman, sekaligus menciptakan ruang belajar bagi anak muda yang tertarik menjadi penerus. Program tur desa dan pentas reguler dirancang untuk meningkatkan kesadaran publik terhadap warisan seni lokal, sembari menciptakan peluang ekonomi dan sosial bagi pengrajin tradisional yang selama ini terpinggirkan. Tanpa panggung yang rutin, regenerasi pengrajin Jepara akan tetap mandek di ruang wacana.

Restorasi Budaya Tradisional: Emprak sebagai Fondasi, Bukan Ornamen

Inisiatif pelestarian kesenian Emprak tidak berdiri sendiri; ia diposisikan sebagai bagian dari restorasi budaya tradisional yang lebih luas. Lestari Moerdijat menegaskan bahwa pelestarian budaya daerah bukan sekadar merawat masa lalu, melainkan fondasi strategis restorasi Indonesia untuk mewujudkan bangsa yang lebih berdaya. Di dalam kesenian rakyat seperti Emprak terdapat ingatan, pengetahuan, dan nilai yang membentuk kehidupan bersama; merawatnya berarti menjaga sumber kekuatan bangsa untuk terus bergerak maju. Data Kementerian Kebudayaan mencatat lebih dari 2.700 warisan budaya tak benda secara nasional, dengan 16 di antaranya telah diakui UNESCO. Angka ini menunjukkan betapa besar modal budaya yang kita miliki, tetapi tanpa perawatan berkelanjutan, warisan seni lokal akan tergerus zaman. Pelestarian Emprak, karena itu, bukan upaya membekukan tradisi, melainkan memastikan ia tetap hidup, berkembang, dan relevan bagi generasi sekarang.

Dari Joglo ke Desa-Desa: Menjadikan Masyarakat Pemilik Utama Warisan Seni Lokal

Momentum Hari Kebudayaan dengan tema “Budaya Hidup, Berdaya” dijadikan titik tolak untuk mengembalikan Emprak ke pemilik sejatinya: masyarakat. Pagelaran di Joglo Pancasila Jepara bukan akhir, melainkan awal dari gerakan yang menempatkan warga sebagai penonton, pendukung, sekaligus pewaris. DPD NasDem Jepara memilih Emprak sebagai kesenian lokal yang perlu mendapat perhatian karena nilai luhur yang dikandungnya. Di sini, restorasi budaya tradisional dimaknai sebagai kerja dekat dengan masyarakat: membuka panggung di keramaian desa, mempertemukan seniman dengan penonton, dan memberi ruang bagi anak-anak muda untuk belajar langsung dari pelaku. Kesimpulannya tegas: tanpa pelibatan akar rumput, pelestarian kesenian Emprak akan berhenti sebagai slogan. Dengan pentas bulanan dan tur desa, Emprak diberi kesempatan kedua untuk hidup, dan masyarakat diberi kesempatan pertama untuk kembali memilikinya.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!