Emprak Jepara: Seni Rakyat yang Nyaris Padam, Kini Dinyalakan Ulang
Kesenian emprak Jepara adalah seni pertunjukan rakyat yang memadukan teater, musik, tembang, tari, dan lawakan dalam satu panggung, yang dulu menjadi hiburan utama hajatan warga dan kini berada di ambang kepunahan karena perubahan selera hiburan, minimnya panggung, dan terputusnya regenerasi seniman. Inisiatif pentas bulanan dan tur desa yang digagas Lestari Moerdijat bukan sekadar agenda seremonial, melainkan intervensi langsung pada titik paling lemah: ruang tampil dan pewarisan. Di tengah arus hiburan digital, langkah ini adalah pernyataan politik budaya bahwa pelestarian seni tradisional tidak boleh diserahkan pada “nasib baik” semata. Jika negara dan partai politik selama ini sering menjadikan budaya sebagai latar panggung, kali ini emprak ditempatkan sebagai aktor utama yang harus diselamatkan, bukan sekadar dekorasi acara.

Dari Joglo Pancasila ke Desa-Desa: Mengapa Pentas Bulanan Itu Penting
Pemicunya jelas: pagelaran emprak di Joglo Pancasila Jepara pada Sabtu malam 17 Oktober, yang menjadi bagian dari peringatan HUT ke-15 sebuah partai sekaligus Hari Kebudayaan Nasional bertema “Budaya Hidup, Indonesia Berdaya”. Alih-alih berhenti sebagai tontonan satu malam, Lestari Moerdijat menginisiasi agar kesenian tradisional khas Jepara ini dipentaskan rutin setiap bulan dan berkeliling ke desa-desa. Ini keputusan strategis: kesenian rakyat hanya hidup jika bertemu penonton secara berkala, bukan sesekali. Ketua DPD setempat, Pratikno, menyatakan siap menyusun formula pentas keliling, terutama di titik-titik keramaian warga. Di sinilah pentas budaya lokal diubah menjadi infrastruktur kebudayaan: jadwal tetap, rute desa, dan komitmen logistik. Tanpa pola seperti ini, pelestarian seni tradisional akan terus terjebak dalam wacana tanpa panggung.
Ancaman Kepunahan: Ketika Satu Kelompok Menanggung Beban Satu Tradisi
Realitas di lapangan mengkhawatirkan: pada masa kejayaannya, setidaknya terdapat lima kelompok emprak di wilayah Jepara, termasuk di Kepuk, Plajan, dan Tengguli. Kini, kelompok Sido Mukti dari Desa Kepuk disebut sebagai salah satu, bahkan mungkin satu-satunya kelompok yang masih aktif, dengan hanya sekitar tujuh hingga sembilan seniman yang menjaga kesenian ini tetap hidup. Di balik angka kecil itu, tersimpan beban besar: perubahan selera hiburan, keterbatasan ruang pentas, biaya pertunjukan yang tidak ringan, serta sulitnya regenerasi membuat emprak kian terpinggirkan. Para seniman senior menyimpan pengetahuan yang tumbuh dari pengalaman panjang; tanpa regenerasi pengrajin seni, pengetahuan itu akan hilang bersama usia mereka. Dalam konteks ini, pentas bulanan bukan bonus, melainkan oksigen terakhir bagi kesenian emprak Jepara yang sedang sekarat.
Pelestarian Emprak sebagai Fondasi Restorasi Warisan Budaya
Lestari Moerdijat menegaskan bahwa pelestarian budaya daerah bukan sekadar merawat masa lalu, melainkan fondasi strategis restorasi Indonesia untuk mewujudkan bangsa yang lebih berdaya. Di dalam kesenian rakyat seperti emprak terdapat ingatan, pengetahuan, dan nilai yang membentuk kehidupan bersama; merawatnya berarti menjaga sumber kekuatan kolektif. Data Kementerian Kebudayaan mencatat lebih dari 2.700 warisan budaya tak benda secara nasional, dengan 16 di antaranya telah diakui UNESCO. Angka ini menunjukkan betapa besar modal budaya yang dimiliki, tetapi tanpa pelestarian seni tradisional yang berkelanjutan, modal itu akan tergerus. Pentas emprak bulanan adalah contoh konkret restorasi warisan budaya yang tidak membekukan tradisi, melainkan memastikan ia tetap hidup, berkembang, dan relevan bagi generasi sekarang. Pelestarian di sini berarti mengizinkan tradisi bernafas di ruang publik, bukan mengurungnya di museum.
Tur Desa sebagai Strategi Regenerasi: Dari Penonton Menjadi Pelaku
Program pentas keliling desa di Jepara dirancang bukan hanya untuk menambah agenda hiburan, tetapi untuk menghidupkan kembali hubungan antara seniman, komunitas lokal, dan generasi muda. Langkah ini ditujukan untuk mengenalkan kembali emprak kepada masyarakat sekaligus membuka ruang bagi para pelakunya agar tetap bisa berkarya. Rerie menegaskan, kesenian akan terus hidup ketika para senimannya mendapat ruang untuk berkarya dan generasi berikutnya mempunyai kesempatan untuk belajar; komitmen pelestarian harus hadir dalam tindakan: membuka panggung, mempertemukan seniman dengan penonton, serta mendukung pewarisan pengetahuan kepada anak-anak muda. Di sinilah pentas budaya lokal berubah menjadi sekolah terbuka: anak desa tidak hanya menonton, tetapi berpotensi naik panggung, belajar, dan suatu hari menggantikan para maestro. Jika pola ini konsisten, regenerasi pengrajin seni bukan lagi slogan, melainkan proses nyata yang berakar di desa.






