KuybeliKuybeli

Memberdayakan Pengelola Desa Wisata lewat Pelatihan dan Berbagi Pengetahuan

Memberdayakan Pengelola Desa Wisata lewat Pelatihan dan Berbagi Pengetahuan
Minat|Destinasi Luar Negeri

Desa wisata berkelanjutan dimulai dari kualitas pengelolanya

Desa wisata berkelanjutan adalah model pengembangan destinasi lokal yang mengandalkan pariwisata berbasis masyarakat, kearifan lokal wisata, dan tata kelola profesional agar manfaat ekonomi, sosial, dan budaya dinikmati warga dalam jangka panjang. Tanpa pengelola yang terlatih, desa wisata hanya menjadi “panggung” sesaat: ramai ketika tren naik, lalu meredup karena layanan buruk, promosi lemah, dan konflik internal. Itu sebabnya pelatihan pengelola wisata dan transfer pengetahuan dari destinasi yang lebih matang bukan pelengkap, tetapi fondasi. Pengalaman di Belik, Mojokerto, dan Serangan, Denpasar, menunjukkan satu hal: kampus dan pemerintah daerah mulai berpindah dari pola seremonial ke pendampingan yang menantang cara pikir lama dan melatih keterampilan praktis yang langsung menyentuh kehidupan pelaku usaha lokal.

Memberdayakan Pengelola Desa Wisata lewat Pelatihan dan Berbagi Pengetahuan

Belajar dari Bali: ketika kearifan lokal diubah jadi manajemen destinasi

Inisiatif Universitas Surabaya mengajak pengelola Desa Wisata Belik melakukan pembelajaran lapangan ke sejumlah destinasi unggulan di Bali adalah langkah berani memotong jarak teori–praktik. Alih-alih menambah jam seminar, mereka memilih membuka mata pengelola pada bukti hidup: bagaimana desa budaya seperti Batuan menjaga warisan lebih dari seribu tahun sambil mengemasnya menjadi atraksi yang layak jual. Program ini jelas menempatkan kearifan lokal wisata sebagai modal utama, bukan sekadar dekorasi. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari Program Pemberdayaan Desa Wisata Berkelanjutan Berbasis Potensi dan Kearifan Lokal. Tujuannya tegas: penguatan tata kelola profesional, institusi pengelola yang solid, inovasi produk, hingga strategi pemasaran kreatif yang relevan dengan pasar saat ini. Hasil pembelajaran tidak berhenti di catatan kunjungan, tetapi direncanakan diterapkan pada pengembangan Petung Park dan Pasar Budaya Preng Sewu di Belik.

Serangan: layanan prima sebagai senjata daya saing pariwisata berbasis masyarakat

Jika Belik belajar manajemen destinasi, Desa Wisata Serangan mendapat suntikan kapasitas di titik paling rapuh: kualitas layanan. Tim pengabdian Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Jakarta menyelenggarakan pelatihan Service Excellence bagi pelaku ekonomi kreatif di Serangan, dari nelayan sampai pedagang suvenir. Program ini mengakui masalah yang selama ini diabaikan: pelaku usaha banyak bergantung pada pengalaman pribadi dan belum memiliki standar pelayanan terstruktur. Pelatihan dirancang partisipatif, mulai dari sosialisasi, simulasi praktik, pendampingan lapangan, hingga monitoring dan evaluasi. Sebanyak 20 peserta mengikuti program ini dan memberi skor kepuasan rata-rata 4,43 dari 5, dengan 91 persen menyatakan setuju hingga sangat setuju terhadap manfaat pelatihan. Ini bukan angka kecil; ini sinyal bahwa standar layanan baru diterima dan dirasa relevan dengan kerja harian mereka.

Dari modul ke pasar: dampak nyata bagi warga desa

Pertanyaan pentingnya: apa manfaat semua pelatihan ini bagi warga biasa, bukan hanya pengelola? Di Belik, kemampuan mengangkat potensi lokal sebagai ciri khas diarahkan agar desa wisata bukan hanya destinasi foto, tetapi penggerak ekonomi dan pemberdayaan masyarakat setempat. Di Serangan, penguatan komunikasi layanan, teknik menangani keluhan, dan pemasaran berbasis pengalaman membuat nelayan, nahkoda, driver, dan pedagang suvenir punya alat baru untuk meningkatkan pendapatan dan menjaga reputasi kampungnya. Peserta menilai materi tersebut sangat relevan dengan aktivitas sehari-hari dan meningkatkan motivasi mereka melayani wisatawan. Lebih jauh lagi, tim menyusun Modul Service Excellence, Pocket Guide Komunikasi Layanan, SOP frontliners, media promosi, dan dokumentasi praktik terbaik sebagai bekal jangka panjang bagi masyarakat dan pemerintah desa. Artinya, pengetahuan tidak hilang ketika pelatihan selesai.

Peran strategis akademisi dan pemerintah: dari proyek ke gerakan

Dua contoh ini membuktikan, transformasi desa wisata berkelanjutan butuh orkestrasi, bukan kerja sporadis. Di satu sisi, tim lintas disiplin dari universitas menghadirkan keahlian manajemen, teknologi informasi, dan pariwisata untuk menopang pengembangan destinasi lokal seperti Belik. Di sisi lain, kolaborasi antar kampus dalam program Serangan memperluas jejaring dan peluang replikasi model pendampingan berbasis service excellence ke desa wisata lain. Dalam jangka panjang, peran pemerintah daerah mestinya bergeser: dari hanya mengesahkan status desa wisata menjadi penyedia ekosistem kebijakan, anggaran, dan regulasi yang memberi ruang pada pariwisata berbasis masyarakat. Ketika akademisi terus menguji model pelatihan pengelola wisata dan pemerintah menjamin keberlanjutannya, desa-desa tidak lagi menunggu “influencer” datang; merekalah yang memimpin narasi pariwisata berbasis kearifan lokal wisata, dengan kapasitas manusia yang siap bersaing.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda. Artikel ini dibuat dengan AI dari sumber yang dipublikasikan dan data produk.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!