Akses meluas, dampak masih perlu dibuktikan
Bulan Inklusi Keuangan adalah rangkaian kegiatan untuk memperluas akses masyarakat terhadap produk dan layanan jasa keuangan sekaligus meningkatkan pemahaman tentang cara menggunakannya secara bijak. Pada Oktober 2026, OJK mencatat 27,23 juta rekening dan akun keuangan baru melalui program yang digelar bersama industri dan berbagai pemangku kepentingan. Angka ini memberi sinyal kuat bahwa pintu layanan formal terbuka bagi banyak orang, tetapi belum menjawab pertanyaan penting: apakah akses itu berlanjut menjadi penggunaan yang berguna? Rekening yang dibuka bukan ukuran otomatis dari ketahanan keuangan. Nilai capaian BIK akan lebih nyata bila produk yang diakses sesuai kebutuhan, dipahami biayanya, dan tetap digunakan tanpa mendorong keputusan yang merugikan. Karena itu, angka besar ini patut diapresiasi sebagai capaian jangkauan, bukan dianggap sebagai bukti akhir inklusi yang berkualitas.

Angka besar, dengan jenis akses yang beragam
Rincian capaian memperlihatkan bahwa istilah rekening baru mencakup berbagai produk, bukan hanya tabungan. OJK mencatat 7,21 juta rekening perbankan, 2,07 juta rekening pasar modal, 5,38 juta polis asuransi, 2,07 juta rekening perusahaan pembiayaan, 4,63 juta rekening pegadaian, serta 5,87 juta akun teknologi finansial. Komposisi ini menunjukkan bahwa program menyentuh beragam kebutuhan dan jalur layanan. Namun, angka dari produk-produk berbeda tidak dengan sendirinya menjelaskan apakah setiap akses digunakan, berapa lama bertahan, atau apakah cocok dengan kemampuan pemiliknya. Bagi masyarakat, ukuran yang lebih bermakna adalah manfaat yang benar-benar diterima: transaksi lebih mudah, perlindungan yang dipahami, atau pembiayaan yang dikelola secara bertanggung jawab. Capaian OJK BIK 2026 menjadi titik awal yang menjanjikan, tetapi perlu dilengkapi pemantauan hasil setelah pembukaan.
Jangkauan kegiatan belum sama dengan kedalaman pemahaman
Sepanjang Oktober, OJK, industri jasa keuangan, dan para pemangku kepentingan mengadakan 6.446 kegiatan literasi dan inklusi keuangan yang menjangkau lebih dari 798.000 peserta di berbagai wilayah. Cakupan itu penting, terutama karena program menyasar masyarakat di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar serta kelompok seperti perempuan, pelajar, pemuda, UMKM, pekerja informal, petani, nelayan, penyandang disabilitas, dan warga perdesaan. Namun, banyaknya kegiatan dan peserta masih merupakan ukuran keluasan, bukan bukti bahwa materi dipahami atau akses menjadi kebiasaan yang aman. Di Jawa Barat, misalnya, 15 kegiatan edukasi bagi UMKM di Bogor, Bekasi, dan Purwakarta menjangkau 4.500 pelaku usaha, dengan materi arus kas, pencatatan, dan akses pembiayaan bijak. Dampak praktis semacam ini perlu menjadi tolok ukur: apakah peserta lebih mampu mengambil keputusan sesuai kebutuhan dan kemampuan?
Puncak Bulan Inklusi Keuangan dan Financial Expo berlangsung di Trans Studio Mall Bandung pada 29 Oktober hingga 1 November 2026. Dalam acara puncak pada 29 Oktober, Dicky Kartikoyono menegaskan bahwa perluasan akses harus berjalan seiring dengan literasi dan kepercayaan masyarakat. Ia juga menyebut, “Industri keuangan itu kuncinya cuma satu, kalau masyarakat percaya.” Pesan ini tepat: kepercayaan tidak tumbuh dari jumlah akun semata, melainkan dari produk yang transparan, bertanggung jawab, serta sesuai kebutuhan dan kemampuan pengguna. OJK menyatakan akan terus memperkuat kolaborasi dengan pemerintah daerah, industri jasa keuangan, dan pemangku kepentingan. Keberhasilan tindak lanjutnya sebaiknya dinilai dari pemahaman warga atas manfaat, risiko, biaya, hak, dan kewajiban—bukan hanya dari pertambahan rekening.
Ukur keberhasilan dari penggunaan yang sehat
Bulan Inklusi Keuangan 2026 menunjukkan kemajuan nyata dalam membuka akses layanan keuangan: 27,23 juta rekening dan akun baru disertai ribuan kegiatan dengan jangkauan peserta yang luas. Tetapi inklusi yang berhasil tidak berhenti saat rekening tercatat. Masyarakat perlu memahami produk yang dipilih, mampu menimbang risiko dan biaya, serta menggunakannya dengan cara yang mendukung kesejahteraan keluarga. Bagi penyelenggara, pekerjaan berikutnya adalah memastikan akses tetap relevan dan aman setelah kegiatan selesai, khususnya bagi kelompok yang selama ini kurang terlayani. Kesimpulannya, angka BIK merupakan capaian penting, tetapi bukan garis finis. Ukuran akhirnya ialah apakah akses tersebut berubah menjadi penggunaan yang berkelanjutan, keputusan keuangan yang lebih baik, dan ketahanan keluarga yang lebih kuat.






