Angka besar, ukuran keberhasilan yang belum lengkap
Bulan Inklusi Keuangan adalah rangkaian kegiatan tahunan yang mendorong masyarakat mengakses layanan keuangan formal sekaligus meningkatkan pemahaman agar layanan itu digunakan secara bijak. Pada Oktober 2026, OJK bersama industri jasa keuangan dan pemangku kepentingan menggelar 6.446 kegiatan literasi dan inklusi yang menjangkau lebih dari 798.000 peserta di berbagai wilayah. OJK juga mencatat 27,23 juta pembukaan rekening dan akses produk keuangan selama BIK. Capaian itu menunjukkan upaya perluasan berlangsung dalam skala besar, tetapi angka pembukaan saja bukan ukuran tuntasnya inklusi. Keberhasilan yang lebih berarti terlihat ketika layanan yang dijangkau sesuai kebutuhan, dapat dipahami, dan membantu keluarga mengelola keuangan. Karena itu, capaian BIK layak diapresiasi sebagai pintu masuk, bukan bukti bahwa seluruh pengguna sudah memperoleh manfaat yang sama.
Apa yang tercakup dalam 27,23 juta capaian?
Rincian capaian memperlihatkan bahwa angka 27,23 juta tidak hanya merujuk pada rekening bank. OJK mencatat 7,21 juta rekening perbankan, 2,07 juta rekening pasar modal, 5,38 juta polis asuransi, 2,07 juta rekening perusahaan pembiayaan, 4,63 juta rekening pegadaian, serta 5,87 juta akun fintech. Dengan demikian, istilah rekening baru OJK dalam pemberitaan merangkum beragam bentuk akses, termasuk polis dan akun, bukan satu kategori produk yang seragam. Pembukaan akun adalah pencatatan akses baru pada suatu layanan; akses produk keuangan mencakup jangkauan terhadap beragam layanan. Keduanya tidak otomatis membuktikan bahwa pemilik memahami biaya, risiko, manfaat, dan kewajiban produk tersebut. Perbedaan ini penting agar besarnya angka tidak disalahartikan sebagai ukuran langsung pemahaman ataupun kesejahteraan.
Jangkauan kegiatan perlu diikuti pemahaman
Sebanyak 6.446 kegiatan dan lebih dari 798.000 peserta memberi gambaran luasnya upaya edukasi, tetapi jumlah peserta belum menjelaskan seberapa jauh pengetahuan bertahan atau mengubah keputusan sehari-hari. Literasi keuangan berarti lebih dari sekadar hadir dalam sosialisasi: masyarakat perlu mampu menilai manfaat, risiko, biaya, serta cara menggunakan layanan secara bertanggung jawab. Contoh praktisnya tampak pada kegiatan bagi UMKM di Bogor, Bekasi, dan Purwakarta. Sebanyak 15 kegiatan menjangkau 4.500 pelaku usaha, dengan tujuan menguatkan kemampuan mengelola arus kas, mencatat keuangan, dan mengakses pembiayaan secara bijak. Bagi pengguna, edukasi seperti ini dapat membantu keputusan lebih selaras dengan kebutuhan dan kemampuan. Namun, penilaian dampak sebaiknya tidak berhenti pada jumlah acara dan peserta; mutu pemahaman dan penerapannya juga perlu menjadi perhatian.
Inklusi yang merata harus membangun kepercayaan
BIK 2026 menyasar masyarakat di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar, serta perempuan, pelajar dan pemuda, UMKM, pekerja informal, petani, nelayan, penyandang disabilitas, dan warga perdesaan. Perhatian pada kelompok yang beragam penting karena akses formal tidak otomatis hadir dengan cara yang sesuai bagi semua orang. OJK menegaskan bahwa perluasan akses perlu berjalan beriringan dengan literasi dan kepercayaan, agar masyarakat memahami manfaat, risiko, dan biaya sebelum menggunakan layanan. Pembentukan Dewan Nasional Kesejahteraan Keuangan, yang diresmikan pada 22 Oktober 2026, diharapkan memperkuat koordinasi agar akses juga mendukung pengelolaan keuangan yang sehat. BIK dan FinExpo berlangsung di Bandung pada 29 Oktober hingga 1 November 2026. Arah selanjutnya semestinya jelas: memperluas akses yang berkualitas, meningkatkan pemahaman, dan menjaga kepercayaan. Jutaan akun menjadi capaian penting, tetapi inklusi baru terasa ketika layanan aman, dipahami, dan berguna bagi kehidupan masyarakat.






