Keluarga adalah garis pertahanan pertama
Radikalisme remaja adalah paparan terhadap gagasan intoleran atau ekstrem yang dapat mendorong anak membenarkan kekerasan dan tindakan sepihak. Karena itu, pencegahannya tidak cukup dengan mengawasi perilaku setelah masalah muncul; anak memerlukan pegangan sosial dan emosional sejak di rumah. Pada Selasa, 3 November 2026, pakar pendidikan Ki Darmaningtyas menilai akar persoalan anak yang terpapar radikalisme berawal dari rapuhnya fondasi sosial keluarga. Penilaian ini patut menjadi pengingat bahwa rumah bukan sekadar tempat tinggal, melainkan ruang pertama untuk belajar mengelola emosi, menghargai perbedaan, dan mencari bantuan. Anak yang tumbuh tanpa keharmonisan dan merasa kehilangan kasih sayang, menurut Darmaningtyas, dapat lebih mudah meluapkan kegelisahan melalui kekerasan terhadap orang lain. Artinya, perhatian dan komunikasi orang tua merupakan bagian nyata dari pencegahan, bukan urusan pribadi yang terpisah dari keselamatan bersama.

Pembentukan karakter perlu berlangsung berkesinambungan
Darmaningtyas memperkirakan pembentukan karakter anak berasal 50 persen dari keluarga, 30 persen dari sekolah, dan 20 persen dari lingkungan pergaulan. Angka itu bukan alasan untuk menyerahkan seluruh tanggung jawab kepada orang tua. Sebaliknya, angka tersebut menegaskan bahwa keluarga, sekolah, dan lingkungan harus saling menguatkan. Edukasi anak yang berkesinambungan lebih berguna daripada nasihat sesekali setelah terjadi konflik: nilai empati, cara berbeda pendapat tanpa ancaman, dan sikap kritis terhadap ajakan kekerasan perlu dibicarakan dan dicontohkan secara konsisten. Sekolah dapat memperluas pelajaran itu, sementara keluarga menjaga agar anak merasa aman untuk bertanya atau mengakui kebingungan. Jika satu lingkungan mengajarkan toleransi tetapi lingkungan lain membiarkan kebencian, pesan pencegahan kehilangan daya. Fokusnya bukan menakut-nakuti remaja, melainkan membangun pegangan yang cukup kuat agar mereka mampu menilai ajakan ekstrem.
Dunia digital menuntut pendampingan, bukan sekadar larangan
Arus informasi digital membuat tindakan anarkis di ruang publik cepat tersebar, sementara media sosial dapat memberi pelaku perhatian instan. Darmaningtyas memperingatkan bahwa sebagian anak muda bisa keliru menganggap sorotan atas tindakan destruktif sebagai pencapaian atau cara untuk menjadi terkenal. Dalam situasi ini, penggunaan gawai tidak semestinya diperlakukan sebagai satu-satunya penyebab kekerasan. Pembatasan waktu dapat menjadi bagian dari aturan rumah, tetapi tanpa percakapan dan pengawasan yang wajar, larangan saja tidak menjelaskan cara menghadapi konten intoleran atau tekanan untuk ikut-ikutan. Orang tua perlu mengetahui apa yang menarik perhatian anak, membahas konten yang meresahkan tanpa menghakimi, dan membantu mereka memahami bahwa viral bukan berarti benar atau patut ditiru. Pendampingan semacam ini menjadikan literasi digital bagian dari hubungan keluarga, bukan hanya kontrol atas layar.
Pencegahan dimulai dari ikatan yang kuat
Pencegahan radikalisme remaja tidak bisa dibebankan pada keluarga saja, tetapi keluarga tetap menjadi titik awal yang tak tergantikan. Keharmonisan, rasa aman, dan perhatian memberi anak alasan untuk mencari dukungan sebelum kegelisahan berubah menjadi tindakan yang melukai orang lain. Sekolah dan lingkungan pergaulan kemudian perlu meneruskan edukasi secara konsisten, termasuk dalam menghadapi arus informasi digital dan daya tarik perhatian instan. Kebijakan penggunaan gawai akan lebih bermakna bila disertai keterlibatan orang tua, bukan sebatas larangan tanpa dialog. Kesimpulannya, fondasi keluarga yang kuat dan edukasi berkelanjutan bukan jaminan bahwa setiap risiko hilang, tetapi keduanya memberi remaja pegangan untuk menolak intoleransi dan kekerasan. Upaya ini harus dimulai dalam keseharian: mendengar anak, memberi teladan, dan menjaga ruang belajar tetap terbuka.






