Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Mencegah Radikalisme dan Kekerasan Remaja Dimulai dari Keluarga

Mencegah Radikalisme dan Kekerasan Remaja Dimulai dari Keluarga
Minat|Pendidikan Orang Tua dan Anak

Keluarga adalah fondasi perlindungan

Ketahanan keluarga adalah kemampuan rumah tangga untuk menyediakan rasa aman, kasih sayang, komunikasi, dan pendampingan yang membantu anak menghadapi tekanan serta membentuk sikapnya terhadap orang lain. Karena itu, pencegahan radikalisme remaja tidak bisa hanya dibebankan kepada sekolah atau pemerintah; perlindungan bermula dari hubungan sehari-hari di rumah. Pakar pendidikan Ki Darmaningtyas menilai keharmonisan keluarga ikut menentukan kemampuan anak mengelola emosi dan menemukan pegangan hidup. Ia memperkirakan keluarga menyumbang 50 persen pembentukan karakter, sekolah 30 persen, dan lingkungan pergaulan 20 persen. Angka itu bukan alasan untuk menyalahkan keluarga atas setiap tindakan anak, melainkan pengingat bahwa perhatian orang tua punya bobot besar. Ketika remaja merasa kehilangan kasih sayang atau arah, kegelisahan dapat memengaruhi tindakannya, termasuk meluapkan emosi melalui kekerasan terhadap sesama. Maka, hubungan keluarga dan remaja perlu dibangun lewat kehadiran yang konsisten, bukan sekadar aturan.

Mencegah Radikalisme dan Kekerasan Remaja Dimulai dari Keluarga

Arus digital menuntut pendampingan, bukan sekadar larangan

Tantangan hari ini bukan hanya paparan paham ekstrem, tetapi juga budaya perhatian instan yang tumbuh di media sosial. Aksi anarkis di ruang publik mudah direkam, tersebar, dan menjadi viral; sorotan semacam itu dapat membuat sebagian anak muda mengira tindakan destruktif adalah jalan menuju pengakuan. Menghadapi keadaan ini, orang tua perlu membantu remaja membaca informasi secara kritis, bukan hanya berharap mereka menjauh dari konten berbahaya. Pembatasan penggunaan gawai patut menjadi bagian dari pencegahan, tetapi larangan tanpa percakapan berisiko menjauhkan anak dari orang tua. Darmaningtyas mengingatkan agar keluarga tidak menyerahkan seluruh pendidikan anak kepada gawai; komunikasi langsung dan pendampingan membantu membangun kedekatan sekaligus menyaring informasi digital. Praktiknya bisa dimulai dengan kesepakatan waktu layar, kebiasaan berbincang tanpa perangkat, dan pertanyaan terbuka tentang konten yang mereka temui. Tujuannya bukan mengawasi setiap gerak, melainkan memastikan remaja tahu ke mana mencari bantuan saat menemukan ajakan kebencian atau kekerasan.

Edukasi berkelanjutan lebih kuat daripada penyuluhan sesaat

Keluarga tidak dapat bekerja sendirian. Sekolah dan masyarakat perlu memperkuat pemahaman tentang toleransi, kekerasan, serta cara memeriksa klaim yang beredar, sementara edukasi keluarga memberi orang tua bekal untuk mendampingi remaja. Darmaningtyas menekankan bahwa pencegahan radikalisme dan terorisme memerlukan keterlibatan keluarga, sekolah, dan masyarakat melalui pendidikan publik yang konsisten; upaya edukasi, termasuk yang dilakukan BNPT, perlu berlangsung berkesinambungan. Satu kali penyuluhan tidak cukup untuk membangun daya tahan terhadap pandangan sempit. Pendekatan dialogis juga lebih menjanjikan daripada hanya memberi cap atau hukuman. Remaja perlu ruang untuk bertanya, menyampaikan keraguan, dan menguji pandangan tanpa takut dipermalukan. Edukasi yang berulang membantu keluarga mengenali perubahan sikap dan meresponsnya sebelum konflik membesar. Kekerasan pada remaja bukan persoalan yang selesai dengan membatasi layar atau menambah aturan; kedekatan, teladan, dan percakapan harus berjalan bersama. Kesimpulannya, rumah yang aman menjadi titik awal, sementara pendidikan berkelanjutan menjaga perlindungan itu tetap hidup di sekolah, ruang digital, dan lingkungan pergaulan.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!