Mengapa Bea Cukai Turun ke Sekolah dan Kampus
Program edukasi bea cukai adalah serangkaian kegiatan sosialisasi kepabeanan pelajar dan mahasiswa yang dirancang untuk mengenalkan tugas, fungsi, serta peran otoritas kepabeanan dan cukai kepada generasi muda melalui materi di kelas dan kunjungan langsung ke fasilitas operasional, agar pemahaman dan kepatuhan terhadap aturan terbentuk sejak dini.
Keputusan Bea Cukai memperluas program Customs Goes to School dan berbagai kunjungan studi bukan sekadar agenda seremonial. Ini adalah strategi komunikasi publik yang cukup berani: membawa aparat yang sering dipersepsikan sebagai “penjaga batas” masuk ke ruang kelas dan kampus, lalu membuka diri lewat dialog. Pada bulan September, rangkaian kegiatan edukasi ini digelar di Indragiri Hilir, Pesisir Barat, Banyuwangi, dan Surabaya oleh Bea Cukai Tembilahan, Bandar Lampung, Banyuwangi, serta Tanjung Perak. Pendekatan ini menunjukkan kesadaran bahwa regulasi kepabeanan dan cukai tidak akan berjalan efektif jika tetap diperlakukan sebagai wacana teknis yang tertutup. Edukasi publik menjadi kunci membangun kepercayaan dan mematahkan stigma bahwa urusan bea cukai selalu rumit dan menakutkan.

Customs Goes to School: Dari Materi Kelas ke Peluang Karier
Program Customs Goes to School di SMA wilayah kerja Bea Cukai Tembilahan, Bandar Lampung, dan Banyuwangi jelas dirancang lebih dari sekadar penyuluhan rutin. Di dalam kelas, siswa diajak memahami impor-ekspor, pengawasan lalu lintas barang antarnegara, hingga pengenalan barang kena cukai sebagai bagian dari ekosistem ekonomi, bukan hanya pasal-pasal yang mengancam. Di Surabaya, Bea Cukai Tanjung Perak menggandeng mahasiswa D3 Perpajakan Universitas Airlangga dalam Tax Goes to School, menjadikan generasi muda bukan objek sosialisasi, tetapi juga pelaku yang menyampaikan materi kepada teman sebayanya. Menurut Netty Hartawati selaku Kepala Subdirektorat Humas dan Penyuluhan Bea Cukai, kegiatan ini ditujukan untuk memperkenalkan peran Bea Cukai dalam penerimaan negara, perlindungan masyarakat, fasilitasi perdagangan, dan dukungan terhadap industri. Ini sikap yang patut diapresiasi: menjelaskan kekuasaan sekaligus tanggung jawab institusi di hadapan calon pemilih dan pekerja masa depan.
Dimensi lain yang menarik adalah penyampaian informasi mengenai Politeknik Keuangan Negara STAN sebagai pintu masuk pendidikan dan karier di lingkungan Kementerian Keuangan. Di titik ini, sosialisasi kepabeanan pelajar berubah menjadi percakapan tentang masa depan: bagaimana bergabung, belajar, dan bekerja di sektor publik. Ini penting untuk mengubah persepsi bahwa profesi di bea cukai hanya berkaitan dengan pemeriksaan dan penindakan. Dengan menceritakan peluang pendidikan dan jalur karier, Bea Cukai mengirim pesan bahwa mereka butuh talenta muda yang memahami ekonomi, hukum, dan pelayanan publik. Jika konsisten, model edukasi semacam ini dapat melahirkan generasi pegawai yang lahir dari kultur transparansi, karena sejak awal mereka mengenal institusi melalui forum terbuka, bukan lewat cerita dari mulut ke mulut.
Tur Kapal Patroli dan Anjing Pelacak: Belajar Regulasi Lewat Pengalaman
Kekuatan utama program edukasi bea cukai terbaru adalah keberanian membawa pelajar langsung ke jantung operasi pengawasan. Di Karimun, kegiatan School Goes to Customs diikuti siswa SMA Santo Yusup pada 16 September 2026 dengan office tour di PSO Bea Cukai Tanjung Balai Karimun. Mereka melihat kapal patroli bea cukai dan mempelajari fungsinya dalam pengawasan di lapangan. Ini bukan sekadar “jalan-jalan ke pelabuhan”, melainkan kelas hukum dan ekonomi yang dipindahkan ke tempat kerja aparat. Di Cirebon, sebanyak 43 siswa SMA Edu Global belajar tentang peran Bea Cukai dalam APBN, fungsi cukai, dan penegakan hukum, lengkap dengan peragaan seragam dan pengenalan anjing pelacak K9. Keterlibatan mahasiswa Hukum dari Universitas Islam Negeri Siber Syekh Nurjati dalam diskusi dan tanya jawab menandakan bahwa bea cukai mulai dipahami sebagai aktor penegakan hukum yang bisa dikritisi dan diajak berdialog, bukan sekadar aparat yang “di kejauhan”.
Di Lampung, kunjungan studi siswa SMA Pelita Bangsa berlanjut ke UTPK Pelabuhan Panjang untuk menyaksikan aktivitas ekspor-impor serta proses pemeriksaan barang secara nyata. Menurut Netty Hartawati, penyampaian informasi yang mudah dipahami adalah cara efektif membantu masyarakat mengenal tugas dan fungsi Bea Cukai sekaligus memahami ketentuan yang berlaku. Secara praktis, pendekatan berbasis pengalaman ini jauh lebih meyakinkan dibanding brosur dan spanduk. Pelajar yang menyaksikan sendiri pemeriksaan kontainer atau melihat bagaimana anjing pelacak bekerja, akan lebih mudah menghubungkan aturan kepabeanan dengan isu sehari-hari seperti barang kiriman, produk ilegal, atau keamanan konsumsi. Di sinilah sosialisasi kepabeanan pelajar berubah menjadi pendidikan warga: menjelaskan mengapa aturan ada, bukan hanya bahwa aturan harus dipatuhi.
Dampak ke Masyarakat: Dari Wawasan ke Kepercayaan
Serangkaian kegiatan ini tidak boleh dilihat sebagai promosi citra semata, meski efek branding jelas terasa. Bea Cukai sendiri berharap upaya edukasi dapat memperluas wawasan siswa dan guru, lalu informasi itu diteruskan ke teman dan keluarga sehingga manfaatnya meluas. Jika pengetahuan tentang impor, cukai, dan pengawasan barang menyebar di lingkar sosial generasi muda, pola interaksi masyarakat dengan aparat di lapangan juga akan berubah. Semakin masyarakat teredukasi, semakin besar harapan tumbuhnya kepatuhan dan kepercayaan terhadap Bea Cukai, yang pada akhirnya memperkuat citra institusi. Kegiatan di Karimun, Lampung, dan Cirebon menunjukkan bahwa pendekatan ini sudah menembus tiga wilayah berbeda, membuka peluang jangkauan yang lebih luas tanpa harus mengandalkan kampanye nasional yang sering terasa jauh dari kehidupan pelajar. Namun tantangannya jelas: kontinuitas dan pendalaman materi, agar edukasi tidak berhenti di pengalaman sesaat.
Dari sisi dampak praktis, kunjungan langsung ke pelabuhan dan kantor operasional memberi pengalaman konkret sehingga materi kepabeanan dan cukai tidak lagi abstrak. Siswa melihat penerapan aturan di lapangan, memahami bagaimana pengawasan dilakukan, dan menyaksikan hubungan antara regulasi dan penerimaan negara. Jika ini diulang secara berkala, generasi muda akan tumbuh dengan pengetahuan dasar mengenai hak dan kewajiban di bidang kepabeanan: apa yang boleh, apa yang dilarang, siapa yang mengawasi, dan bagaimana prosedurnya. Dalam jangka panjang, pendidikan seperti ini berpotensi menekan pelanggaran karena ketidaktahuan, sekaligus mendorong kritik yang lebih cerdas ketika masyarakat menemukan layanan publik yang tidak sesuai harapan.
Kesimpulan: Edukasi Sebagai Jalan Mengubah Relasi Warga dan Aparat
Langkah Bea Cukai memperluas program edukasi ke sekolah dan kampus patut dibaca sebagai upaya mengubah relasi antara warga dan aparat: dari sekadar hubungan pengawasan menjadi hubungan belajar bersama. Dengan Customs Goes to School, kunjungan ke kapal patroli, peragaan anjing pelacak, dan dialog dengan mahasiswa hukum, lembaga ini menempatkan diri sebagai sumber pengetahuan yang bisa dipertanyakan dan diajak berdiskusi. "Edukasi merupakan salah satu upaya Bea Cukai untuk mendekatkan institusi kepada masyarakat dan meningkatkan pemahaman mengenai kepabeanan dan cukai," ujar Netty Hartawati. Sikap ini sejalan dengan kebutuhan jangka panjang: regulasi yang kuat membutuhkan warga yang mengerti, bukan hanya takut. Tantangannya kini adalah konsistensi dan perluasan jangkauan tanpa kehilangan kualitas interaksi. Jika berhasil, program edukasi bea cukai dapat menjadi contoh bagaimana institusi penegak hukum membangun legitimasi bukan lewat kekuatan, tetapi lewat keterbukaan dan pengetahuan.






