Gangguan pusat, dampaknya ditanggung peserta
Gangguan server TKA adalah kendala pada sistem ujian daring terpusat yang membuat peserta gagal masuk, mengakses, atau menuntaskan soal sesuai sesi yang dijadwalkan. Masalah ini kembali memperlihatkan bahwa kelancaran ujian tidak hanya bergantung pada kesiapan komputer dan jaringan di sekolah.
Pada Selasa, 27 Oktober 2026, pelaksanaan TKA di SMKN 2 Bandung dan SMKN 5 Pontianak terganggu saat hari kedua. Di Bandung, peserta mengalami kegagalan login dan aplikasi bermasalah ketika beralih dari survei ke tahap berikutnya; lebih dari 30 siswa di satu laboratorium harus dijadwalkan ulang. Di Pontianak, server pusat sempat tidak berfungsi sekitar setengah jam dan sebagian siswa tidak berhasil melanjutkan ujian.
Pola serupa terjadi di Madiun: layar komputer kosong dan pesan eror menghambat peserta, sementara perangkat serta jaringan sekolah dinilai bukan sumber masalah. Ketika sistem berada di luar kendali sekolah, peserta yang menanggung akibat paling nyata: waktu persiapan terputus dan kepastian kapan bisa mengerjakan kembali menjadi penting.

Kediri menunjukkan besarnya skala susulan
Dampak gangguan tak berhenti pada beberapa ruang ujian. Di Kediri, lebih dari 3.000 siswa SMA/SMK disebut harus mengikuti ujian susulan TKA pada 30 Oktober setelah server pusat bermasalah pada hari kedua gelombang pertama. Banyak dari mereka belum sempat mengerjakan soal; di SMKN 1 Kota Kediri, gangguan terjadi ketika peserta sudah masuk dan hendak mulai mengerjakan Bahasa Inggris.
Besarnya angka itu membuat susulan bukan lagi urusan administratif kecil. Ia menjadi bagian penting dari pelaksanaan TKA SMA SMK yang adil: siswa yang gagal karena sistem semestinya memperoleh kesempatan setara, tanpa diperlakukan seolah-olah tidak siap.
Namun, pemulihan perlu disertai penjelasan yang jelas. Di Madiun, pejabat pendidikan masih menunggu petunjuk resmi tentang penanganan peserta terdampak, termasuk kepastian jadwal dan kemungkinan penambahan waktu. Di Kediri pun sekolah menyatakan masih menunggu arahan dinas mengenai cara pelaksanaan susulan. Menentukan jadwal ujian susulan secepatnya penting, tetapi informasi yang konsisten sama pentingnya bagi siswa dan sekolah.

Susulan juga melindungi peserta yang berhalangan
Ujian susulan bukan hanya jalan keluar saat teknologi gagal. Di Pacitan, sejumlah siswa SMA/SMK tidak mengikuti gelombang pertama karena sakit dan dijadwalkan menjalani ujian susulan pada pertengahan November 2026. Kasus ini mengingatkan bahwa kebijakan susulan harus mengakomodasi peserta yang berhalangan secara sah, sekaligus mereka yang dirugikan kendala sistem.
Pelaksanaan TKA gelombang kedua di Pacitan dijadwalkan pada 2–5 November 2026, sedangkan peserta yang sakit tetap menunggu kesempatan susulan. Pihak pendidikan setempat juga mengingatkan sekolah untuk menyiapkan genset, sebab ujian berbasis komputer rentan terganggu jika listrik padam. Kesiapan infrastruktur lokal tetap perlu, meski masalah di Bandung, Pontianak, Kediri, dan Madiun menunjukkan server pusat juga harus andal.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan ujian bukan hanya apakah sesi utama terlaksana, melainkan apakah setiap peserta mendapat kesempatan yang layak. Pemerintah perlu menyampaikan jadwal ujian susulan dan petunjuk pelaksanaan dengan cepat, transparan, serta seragam. Tanpa kepastian itu, ujian susulan berisiko menambah kecemasan yang seharusnya bisa dihindari.







