Dari sampah menjadi nilai ekonomi
Ekonomi berbasis lingkungan adalah upaya warga mengubah sampah yang dipilah dan ruang pekarangan yang tersedia menjadi sumber penghasilan serta pangan, dengan gotong royong sebagai penggeraknya. Di RW 03 Kelurahan Perak Barat, Kecamatan Krembangan, Surabaya, gagasan ini tampak dalam bank sampah dan kegiatan budidaya yang melibatkan warga. Keduanya bukan hiasan untuk sebuah lomba, melainkan cara praktis memperkuat kemandirian ekonomi dan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bank Sampah Induk Gotong Royong telah berjalan lebih dari satu tahun dan didukung mesin pengolah sampah dari Pelindo. Warga memilah material, terutama plastik, lalu mengumpulkannya agar dapat dijual dan diolah lebih lanjut. Langkah sederhana ini mengubah kebiasaan membuang menjadi kebiasaan melihat nilai guna. Bagi ekonomi warga Surabaya, inisiatif seperti ini lebih berarti ketika manfaatnya terasa di tingkat rumah tangga dan tumbuh dari partisipasi warga sendiri.

Pemilahan yang memberi hasil nyata
Nilai dari olah sampah bernilai terlihat jelas pada plastik yang terkumpul: material itu dijual sekitar Rp 2.000 per kilogram, kemudian dikemas dan disalurkan untuk pengolahan lebih lanjut. Harga tersebut membuat hasil pilah rumah tangga punya nilai konkret, meski keberhasilan program tidak seharusnya diukur dari rupiah saja. Bank sampah juga menerima penjemputan dari sejumlah wilayah sekitar, termasuk sekolah dan pasar, sehingga jangkauannya melampaui satu lingkungan. Ketua RW 03, Machfud Bachtiyar, menekankan pentingnya membiasakan pemilahan dan menyebut hasil penjualan dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Pesannya tepat: pengelolaan sampah perlu menjadi tanggung jawab bersama, bukan kegiatan musiman. Keikutsertaan RW 03 dalam Lomba Kampung Pancasila 2026 menjadi dorongan untuk memaksimalkan program, tetapi keberlanjutannya bergantung pada kebiasaan warga setelah penilaian usai.
Pekarangan sebagai ruang pangan
Kemandirian tidak berhenti pada penghasilan dari sampah. KWT Dorang Cinta mengembangkan sayuran dengan sistem hidroponik, akuaponik, dan media tanah, serta membudidayakan ikan patin, gurami, lele, dan nila. Kangkung, bayam, sawi, dan selada memperlihatkan bagaimana pekarangan produktif dapat menyumbang pangan sekaligus membuka peluang usaha. Sebagian panen dijual kepada warga dan masyarakat luas; sebagian lain dinikmati bersama. Ketua KWT, Vivi Oktavianti, juga mendorong warga menanam di pekarangan rumah dan mengadakan lomba setiap tiga bulan untuk menjaga semangat bertanam. Hasilnya bahkan diolah menjadi produk jual, bukan hanya dipasarkan sebagai sayuran segar. Pendekatan ini layak diperluas: ruang kecil di permukiman bisa mendukung kebutuhan pangan, memperhijau lingkungan, dan memberi warga pilihan untuk berbagi maupun memperoleh pendapatan.

Gotong royong yang perlu terus tumbuh
Pengalaman RW 03 sejalan dengan upaya warga RW 08 Tanjung Perak yang menjalankan program ketahanan pangan, bank sampah, pemberdayaan UMKM, dan kerukunan sosial sebagai kegiatan berkelanjutan. Ketua RW 08, Moh Kamil, menyebut Lomba Kampung Pancasila 2026 sebagai kesempatan untuk mengevaluasi dan meningkatkan program yang sudah berjalan. Di wilayah itu, hasil penjualan sampah dikelola sebagai tabungan anggota, sementara pisang, sayuran, dan ikan lele ikut mendukung pangan lokal. Contoh ini menguatkan pelajaran dari Perak Barat: kemandirian ekonomi lebih kokoh saat pengelolaan lingkungan, pangan, dan partisipasi warga saling menopang. Bank sampah memberi nilai pada material yang semula dibuang; pekarangan menyediakan hasil yang bisa dimakan atau dijual. Kesimpulannya, kekuatan Kampung Pancasila bukan semata pada penilaian, melainkan pada kebiasaan gotong royong yang terus menghasilkan manfaat bagi warga.







