Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Sepuluh Tahun Ganjil-Genap Jakarta: Saatnya Berani Ganti Arah?

Sepuluh Tahun Ganjil-Genap Jakarta: Saatnya Berani Ganti Arah?
Minat|Asia Tenggara

Ganjil-Genap Bukan Lagi Obat Mujarab Kemacetan

Aturan ganjil genap Jakarta adalah kebijakan pembatasan kendaraan roda empat berdasarkan angka terakhir pelat nomor yang diterapkan di 25 ruas jalan dan sejumlah jalan arteri yang terhubung ke 28 akses gerbang tol, berlaku pada dua sesi pagi dan sore hari kerja, dengan tujuan mengurangi kemacetan, emisi, dan mendorong peralihan ke transportasi umum. Setelah sepuluh tahun, pertanyaan yang lebih jujur bukan lagi “seberapa besar manfaatnya?”, melainkan “berapa besar ongkos sosial-ekonominya dibandingkan hasil yang tersisa?”. Dinas Perhubungan DKI kini menggelar FGD dan kajian komprehensif untuk menilai efektivitas aturan ini dari sisi ekonomi, lingkungan, hingga korelasi dengan emisi dan jenis kendaraan. Pemerintah provinsi secara resmi menyatakan ganjil-genap sedang dievaluasi, namun belum ada keputusan mengganti atau mempertahankannya. Sementara proses ini berjalan, aturan tetap diberlakukan, seolah kota terjebak di ruang tunggu kebijakan.

Sepuluh Tahun Ganjil-Genap Jakarta: Saatnya Berani Ganti Arah?

Efek Lalu Lintas: Turun di Koridor, Pindah Macet ke Pinggiran

Dari kacamata evaluasi kebijakan lalu lintas, ganjil-genap terbukti efektif di koridor tertentu dalam jangka pendek: volume kendaraan turun dan kecepatan rata-rata di ruas seperti Sudirman–Thamrin lebih terjaga pada jam sibuk. Namun keberhasilan lokal ini dibayar dengan kegagalan skala kota. Kepadatan tidak menghilang, hanya berpindah ke jalan alternatif yang tidak tersentuh aturan, memanjangkan antrean dan menambah waktu tempuh di area pinggiran. Pengendara roda empat dipaksa menyesuaikan angka terakhir pelat nomor dan jam perjalanan mereka, berangkat sebelum 06.00 atau pulang setelah 21.00 untuk menghindari sanksi tilang maksimal Rp500.000, sehingga durasi kemacetan Jakarta melar menjadi lebih panjang. Ironisnya, sepeda motor yang populasinya terus naik tidak tersentuh aturan ini, membuat ruang jalan yang ditinggalkan mobil segera terisi motor dan menggerus dampak positif ganjil-genap.

Sepuluh Tahun Ganjil-Genap Jakarta: Saatnya Berani Ganti Arah?

Dampak Ekonomi: Mal Turun Omzet, Pola Kota Bergeser

Biaya ganjil-genap tidak hanya berupa waktu terbuang, tetapi juga pergeseran ekonomi yang mengkhawatirkan. Sejumlah pusat perbelanjaan dan kawasan ekonomi di koridor aturan ganjil genap Jakarta melaporkan penurunan omzet, bahkan sebagian sampai tutup, mendorong gelombang pembangunan mal ke wilayah pinggiran yang bebas aturan. Dalam rapat resmi, anggota DPRD menegaskan bahwa rekayasa lalu lintas tidak boleh mengorbankan keberlangsungan usaha di sepanjang koridor tersebut. Kepala Dinas Perhubungan mengakui, evaluasi kini harus menimbang ulang keseimbangan antara pengendalian lalu lintas dan aktivitas ekonomi di area tangkapan (catchment area) ganjil-genap, termasuk jumlah kunjungan, aktivitas tenant, parkir, investasi, dan penerimaan daerah. Di titik ini, ganjil-genap bukan sekadar regulasi lalu lintas, tapi variabel yang ikut mengubah peta bisnis dan pola pergerakan warga Jakarta.

Sepuluh Tahun Ganjil-Genap Jakarta: Saatnya Berani Ganti Arah?

Kejenuhan Kebijakan dan Jalan Buntu Gage

Setelah satu dekade, banyak pengamat menilai ganjil-genap telah mencapai titik jenuh. Warga beradaptasi dengan cara yang sering kali merusak tujuan awal kebijakan: membeli mobil kedua dengan pelat berbeda, memakai pelat bodong, atau memanfaatkan celah pengawasan. Ketika pembatasan lalu lintas dibiarkan terlalu lama tanpa disinsentif finansial yang kuat, masyarakat membangun pola adaptasi yang menggerus efektivitas aturan. Akibatnya, ganjil-genap makin terasa sebagai beban administratif, bukan solusi kemacetan Jakarta yang meyakinkan. Sementara itu, sebagian pelaku usaha meminta relaksasi aturan karena tekanan terhadap omzet dan kunjungan pelanggan. Pemerintah provinsi menegaskan tidak ingin kebijakan lalu lintas hanya seremonial dan minim dampak, tetapi keberanian untuk memutuskan arah baru belum tampak jelas di lapangan.

ERP sebagai Solusi Lebih Adil: Mau Serius Atau Mundur Pelan-Pelan?

Jika ganjil-genap adalah kebijakan transisi, pertanyaannya: transisi menuju apa? Sejumlah pakar mendorong pemerintah beralih ke sistem ERP elektronik, yakni jalan berbayar yang memberi disinsentif ekonomi kepada setiap kendaraan yang melintas, tanpa diskriminasi pelat ganjil atau genap. Menurut mereka, ERP lebih adil dan lebih tepat sasaran, karena siapa pun yang memilih membawa mobil ke kawasan padat membayar biaya kemacetan yang ia timbulkan. ERP juga bisa dirangkai dengan tarif parkir tinggi di pusat bisnis dan penguatan transportasi umum sebagai paket solusi kemacetan Jakarta yang konsisten. Saat ini, Dishub DKI sudah meneliti dampak ganjil-genap terhadap lingkungan dan emisi, sambil menyiapkan evaluasi komprehensif yang memasukkan dimensi ekonomi dan akses tol. Kesimpulannya, mempertahankan ganjil-genap apa adanya adalah pilihan paling mahal: kota menanggung macet, pelaku usaha menanggung rugi, sementara insentif berubah perilaku nyaris habis. Jakarta butuh keberanian politik untuk bertransisi ke sistem yang lebih rasional seperti ERP, bukan menambal kebijakan yang sudah lelah.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!