Survei mengukur persepsi, bukan seluruh kinerja
Survei pejabat kabinet adalah gambaran persepsi responden terhadap para pejabat pemerintah pada waktu tertentu, bukan penilaian menyeluruh atas keberhasilan kebijakan atau mutu kerja setiap kementerian. Dalam evaluasi dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran, IndocPolls menempatkan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya di urutan teratas dengan penilaian 15,8 persen, disusul Menteri Pertanian Amran Sulaiman dengan 13,6 persen. Hasil ini menarik karena dua sosok teratas menonjol lewat jenis peran yang berbeda: Teddy berada di pusat koordinasi pemerintahan, sedangkan Amran memimpin sektor yang kinerjanya dinilai melalui hasil produksi dan cadangan pangan. Selisih angka mereka relatif dekat, tetapi angka itu sendiri tidak cukup untuk menyimpulkan siapa yang paling efektif secara keseluruhan. Pembaca sebaiknya melihatnya sebagai petunjuk tentang citra dan prioritas publik, lalu menimbangnya bersama konteks tugas masing-masing.

Teddy menonjol karena posisi koordinasi
Keunggulan Teddy paling masuk akal dibaca melalui sifat jabatannya. Sebagai Sekretaris Kabinet, ia dekat dengan Presiden Prabowo dan berperan menjembatani koordinasi dengan para menteri serta pejabat lain. Direktur Komunikasi IndocPolls, Taufik Ch, menyebut Teddy mampu menyelaraskan langkah dan mengomunikasikan kebijakan pemerintah kepada publik. Ini membuat kontribusinya terlihat lintas sektor, terutama ketika pemerintah menghadapi berbagai persoalan dan perlu menjelaskan keputusan kepada masyarakat. Namun, visibilitas bukan sinonim otomatis bagi keberhasilan kebijakan. Popularitas Teddy sebelum menjabat juga disebut turut membentuk persepsi responden, sementara kritik terhadap cara ia menjalankan tugas tetap ada. Karena itu, posisi teratasnya menunjukkan kuatnya penerimaan publik terhadap peran koordinatif dan komunikasinya, tetapi belum menjadi bukti tunggal bahwa seluruh proses kabinet berjalan efektif.
Amran dinilai melalui capaian sektor pangan
Penilaian terhadap Amran bertumpu pada medan yang lebih spesifik: pertanian dan pangan. Ia kembali dipercaya memimpin bidang yang sama setelah kiprahnya sejak era Presiden Joko Widodo, dan dikenal sebagai figur utama di sektor pertanian. Dalam evaluasi kinerja kabinet, konteks ini membuat penilaian atas Amran terkait erat dengan ambisi pemerintah mempercepat swasembada pangan. Sumber menyebut produksi beras nasional terus meningkat di bawah komandonya dan serapan cadangan beras pemerintah tinggi; pada pertengahan Juli 2026, cadangan itu mencapai 5,4 juta ton. Angka tersebut memberi ukuran konkret bagi kerja sektoral, berbeda dari fokus Teddy pada koordinasi dan komunikasi. Meski demikian, satu capaian atau satu hasil survei belum cukup untuk mengadili keseluruhan kinerja kementerian. Penilaian yang adil perlu mempertimbangkan sasaran, tantangan, dan keberlanjutan hasil di bidang pertanian.
Angka terendah bukan vonis menyeluruh
Survei yang sama juga mencatat Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala BPN Nusron Wahid pada 0,17 persen dan Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo pada 0,25 persen dalam kelompok penilaian terendah. Angka-angka itu memberi kontras tajam dengan posisi Teddy dan Amran, tetapi tidak menjelaskan dengan sendirinya penyebab penilaian rendah ataupun kualitas seluruh pekerjaan kedua pejabat tersebut. Terlebih, reshuffle kabinet merupakan hak prerogatif Presiden dan telah dilakukan delapan kali selama dua tahun pemerintahan; dinamika itu ikut membuka ruang bagi publik untuk menilai kinerja pemerintah. Kesimpulan yang lebih berguna bukan menganggap survei sebagai rapor final, melainkan membaca perbedaan ukuran yang dipakai publik: koordinasi serta komunikasi bagi Teddy, dan capaian pangan bagi Amran. Dengan batas itu, hasil IndocPolls tetap menjadi sinyal penting, tetapi harus dipadukan dengan bukti kinerja yang lebih luas.






