Dua nama teratas dalam penilaian publik
Survei kinerja menteri adalah pengukuran persepsi publik terhadap prestasi anggota kabinet dan pejabat badan pemerintah dalam periode tertentu; hasilnya mencerminkan penilaian responden, bukan ukuran tunggal keberhasilan kebijakan. Dalam survei IndocPolls yang menilai jajaran Kabinet Merah Putih setelah dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya meraih posisi teratas dengan 15,8 persen, disusul Menteri Pertanian Amran Sulaiman dengan 13,6 persen. Angka itu memberi Teddy keunggulan 2,2 poin persentase, tetapi tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa ia unggul dalam seluruh ukuran kinerja. Lebih tepat dibaca sebagai tanda bahwa peran dan kiprahnya paling menonjol di antara nama-nama yang dinilai. Dalam menakar kinerja kabinet Prabowo, posisi puncak ini menjadi sinyal persepsi yang penting, bukan rapor lengkap bagi seluruh pemerintahan.

Mengapa Teddy mendapat penilaian tertinggi
Tingginya posisi Teddy punya penjelasan yang terkait langsung dengan fungsi Seskab: ia dekat dengan Presiden Prabowo sekaligus berperan dalam koordinasi komunikasi antarkementerian. Direktur Komunikasi IndocPolls, Taufik Ch, menilai Teddy mampu menyelaraskan dan mengomunikasikan kebijakan pemerintah kepada publik di tengah berbagai tantangan. Peran komunikasi semacam ini mudah terlihat oleh masyarakat, sehingga dapat membentuk kesan tentang efektivitas kerja pemerintah. Popularitas Teddy yang sudah terbentuk sebelum menjabat sebagai Seskab juga disebut ikut memengaruhi penilaian responden. Namun, hasil survei tidak menghapus kritik terhadap cara ia menjalankan tugas. Karena itu, angka 15,8 persen sebaiknya dibaca dengan dua sisi: ia menunjukkan pengenalan dan penerimaan publik, tetapi bukan bukti bahwa seluruh kritik telah terjawab atau bahwa setiap kebijakan berjalan tanpa masalah.
Posisi Amran dan batas makna angka survei
Amran Sulaiman menempati urutan kedua dengan 13,6 persen, hasil yang menempatkannya sebagai pejabat dengan penilaian tertinggi berikutnya setelah Teddy. Kedekatan skor keduanya menunjukkan persaingan persepsi yang cukup rapat pada posisi teratas, meski Teddy tetap memimpin. Di sisi lain, angka paling rendah dalam laporan yang tersedia memperlihatkan jarak yang lebar: Menteri ATR/BPN Nusron Wahid memperoleh 0,17 persen, sementara Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo meraih 0,25 persen. Kontras ini patut dicatat, tetapi tanpa rincian metode, jumlah responden, atau penilaian per bidang, angka tersebut tidak menjelaskan sendiri mengapa tiap pejabat mendapat skor demikian. Membaca hasil secara bertanggung jawab berarti mengakui sorotan positif kepada Teddy dan Amran tanpa mengubah peringkat menjadi vonis menyeluruh atas mutu kerja masing-masing.
Peringkat sebagai sinyal, bukan kesimpulan akhir
Survei dilakukan pada 15–20 Oktober 2026 dan mengukur penilaian masyarakat terhadap kinerja menteri serta kepala badan selama dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran. Waktu pelaksanaannya memberi gambaran tentang persepsi publik pada saat itu, tetapi satu hasil survei tetap merupakan potret, bukan evaluasi menyeluruh atas seluruh kebijakan kabinet. Peringkat Teddy dan Amran penting karena menunjukkan dua pejabat yang paling menonjol dalam penilaian tersebut. Namun, angka 15,8 dan 13,6 persen tidak boleh diperlakukan sebagai dukungan mayoritas: keduanya berada jauh di bawah separuh responden. Penilaian terhadap kinerja kabinet Prabowo akan lebih bermakna jika dipahami bersama bukti pelaksanaan kebijakan dan dampaknya, bukan hanya urutan nama. Kesimpulannya, survei ini memberi Teddy keunggulan persepsi dan menempatkan Amran tepat di belakangnya, sambil mengingatkan bahwa popularitas dan kinerja substantif bukan hal yang selalu sama.






