Pertumbuhan investasi harus terasa di lapangan
Investasi daerah adalah penanaman modal dalam negeri maupun asing yang masuk ke suatu wilayah untuk menjalankan proyek usaha, membangun kapasitas ekonomi, dan membuka peluang kerja bagi penduduk setempat. Pada Januari–September 2026, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mencatat realisasi investasi Rp72,54 triliun, tumbuh 9,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, dengan serapan tenaga kerja 340.334 orang. Angka ini menggembirakan, tetapi ukurannya bukan hanya nilai modal: manfaatnya perlu terlihat pada pekerjaan yang tersedia dan tersebar di berbagai daerah. Capaian tersebut setara 73,21 persen dari target resmi tahunan Rp99,09 triliun. Investasi dalam negeri menyumbang Rp31,77 triliun, sedangkan investasi asing mencapai Rp40,77 triliun. Komposisi itu menegaskan bahwa modal asing menjadi bagian lebih besar dari capaian, sehingga pemerintah perlu memastikan pertumbuhan tidak bergantung pada beberapa pusat saja.

Pekerjaan bertambah, tetapi mutu dan sebarannya penting
Sebanyak 82.420 proyek menghasilkan 340.334 kesempatan kerja pada sembilan bulan pertama 2026, naik 4,25 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Dampak ini memberi alasan kuat untuk menyambut realisasi investasi Jateng, terutama bagi warga yang membutuhkan pekerjaan. Namun, jumlah kesempatan kerja saja belum cukup untuk menilai dampak jangka panjang: keterampilan, kestabilan pekerjaan, dan akses warga di luar pusat industri juga perlu diperhatikan. Industri barang dari kulit dan alas kaki menyerap 77.330 pekerja, sementara industri tekstil menampung 69.422 orang. Besarnya peran sektor padat karya membuat kesiapan tenaga kerja lokal kian menentukan. Provinsi ini mengandalkan 1.557 SMK negeri dan swasta dengan lebih dari 800.000 siswa, serta lembaga pelatihan kerja. Tantangannya ialah menyelaraskan pelatihan dengan kebutuhan perusahaan, agar warga dapat mengisi pekerjaan yang tumbuh bersama investasi.
Kendal dan Batang menjadi magnet modal
Konsentrasi modal menjadi sisi yang patut dicermati. Kendal dan Batang membukukan investasi gabungan Rp19,5 triliun pada Januari–September 2026, hampir 27 persen dari total provinsi. Dalam investasi asing, Kendal menerima Rp11,65 triliun dan Batang Rp7,85 triliun. Keunggulan dua kabupaten ini bukan kebetulan: keduanya memiliki kawasan industri, yakni KEK Kendal dan KEK Industropolis Batang. Infrastruktur tersebut memberi alasan praktis bagi investor untuk memilih lokasi yang siap, tetapi dominasi kawasan ini juga mengingatkan bahwa pertumbuhan provinsi belum otomatis merata. Pemerataan tidak harus berarti membatasi investasi di Kendal dan Batang; yang lebih masuk akal ialah memperkuat konektivitas, layanan usaha, dan kesiapan pekerja di daerah lain. Dengan begitu, investasi Kendal Batang dapat menjadi pengungkit rantai pasok dan peluang kerja yang menjangkau wilayah lebih luas.
Perluasan kawasan harus diikuti pengawasan hasil
Kinerja triwulan III memberi sinyal bahwa arus modal masih bergerak naik: investasi mencapai Rp24 triliun, meningkat 16,78 persen dibandingkan Rp20,55 triliun pada triwulan III 2025. Pemerintah daerah menyebut pengawalan perizinan dari tahap penjajakan hingga realisasi dan upaya menjaga iklim usaha sebagai bagian dari dukungan terhadap capaian ini. Namun, kemudahan bagi investor sebaiknya berjalan beriringan dengan ukuran manfaat yang jelas bagi pekerja dan daerah. Pemerintah merencanakan penambahan 12 kawasan industri baru di sejumlah kabupaten dan kota. Jawa Tengah juga menjajaki peluang investasi baru, termasuk rencana calon investor dari Uni Emirat Arab membangun fasilitas kilang mikro di Jepara. Rencana tersebut perlu dinilai berdasarkan kesiapan tenaga kerja, dampak lokal, dan penyebaran kegiatan usaha, bukan sekadar nilai modal yang diumumkan.
Kesimpulannya, investasi Jawa Tengah telah menunjukkan pertumbuhan dan menghasilkan ratusan ribu kesempatan kerja, tetapi angka agregat belum menjamin manfaat tersebar merata. Fokus berikutnya semestinya bukan hanya mengejar target tahunan, melainkan memastikan kawasan baru membuka akses kerja dan peluang usaha bagi lebih banyak warga. Kendal dan Batang membuktikan bahwa kesiapan kawasan industri mampu menarik modal; tantangan pemerintah ialah memperluas kesiapan itu ke daerah lain sambil menjaga mutu serapan tenaga kerja.






