Pertumbuhan investasi harus dinilai dari pekerjaan yang tercipta
Investasi daerah adalah penanaman modal yang membiayai kegiatan usaha dan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus membuka pekerjaan bagi masyarakat setempat. Pada Januari-September 2026, realisasi investasi Jawa Tengah mencapai Rp72,54 triliun dan menyerap 340.334 pekerja, naik 9,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka ini menggembirakan, tetapi ukurannya tidak semestinya berhenti pada nilai modal: manfaatnya juga perlu terlihat dalam pekerjaan yang tersedia dan tersebar di berbagai daerah. Capaian provinsi tersebut mencapai 73,21 persen dari target tahunan Rp99,09 triliun. Sebanyak Rp40,77 triliun berasal dari penanaman modal asing, sementara penanaman modal dalam negeri menyumbang Rp31,77 triliun. Pada triwulan III saja, investasi menembus Rp24 triliun, naik 16,78 persen dari triwulan yang sama setahun sebelumnya. Momentum ini kuat, namun mutu pertumbuhan pada akhirnya ditentukan oleh seberapa luas manfaatnya dirasakan warga.
Kendal dan Batang menjadi magnet modal
Konsentrasi investasi di Kendal dan Batang memperlihatkan betapa besar pengaruh kawasan industri dalam menarik modal. Pada Januari-September, kedua kabupaten itu mencatat Rp19,5 triliun, hampir 27 persen dari total investasi provinsi. Kendal menerima investasi asing Rp11,65 triliun dan Batang Rp7,85 triliun; keberadaan KEK Kendal dan KEK Industropolis Batang menjadi penopang utama arus tersebut. Jika investasi asing dan domestik digabungkan, Kendal mencapai Rp13,61 triliun dan Batang Rp8,55 triliun. Itu menempatkan keduanya di antara pusat kegiatan ekonomi paling menonjol di provinsi ini. Dampak pada pekerjaan pun terlihat: Kendal menyerap 30.668 tenaga kerja hingga September. Namun, besarnya aliran modal sebaiknya diikuti perhatian pada kesinambungan pekerjaan dan keterlibatan masyarakat lokal, agar kawasan industri bukan hanya menjadi tujuan investor, tetapi juga sumber penghidupan yang nyata.

Temanggung menunjukkan dampak di luar pusat industri
Temanggung memberi gambaran lain: investasi dapat menghasilkan kegiatan usaha dan pekerjaan tanpa hanya bertumpu pada dua kawasan industri besar. Hingga 26 Oktober 2026, investasi Temanggung mencapai Rp1,806 triliun dari 8.791 kegiatan usaha dan menyerap 22.307 tenaga kerja. Realisasi itu telah memenuhi 84 persen target tahunan Rp2,15 triliun, sehingga masih tersisa sekitar Rp344 miliar yang perlu dikejar sampai akhir tahun. Pada rekap gabungan modal asing dan domestik untuk periode Januari-September, Temanggung berada di posisi keempat dengan Rp5,05 triliun. Kedua angka tersebut memakai cakupan dan tanggal pencatatan berbeda, tetapi sama-sama menegaskan peran daerah ini dalam peta investasi provinsi. Banyaknya kegiatan usaha dan besarnya penyerapan tenaga kerja membuat capaian Temanggung relevan bagi warga, bukan sekadar statistik. Tantangan pemerintah daerah adalah menjaga iklim usaha dan mempermudah perizinan agar pertumbuhan berlanjut.
Ujian berikutnya: memperluas manfaat dan mengejar target
Angka pekerjaan provinsi menunjukkan bahwa sektor padat karya masih menentukan hasil investasi bagi rumah tangga. Dari 82.420 proyek, penyerapan tenaga kerja naik 4,25 persen; industri barang dari kulit dan alas kaki menyerap 77.330 orang, disusul industri tekstil dengan 69.422 pekerja. Kota Semarang mencatat serapan terbanyak, 44.459 orang, disusul Kendal dengan 30.668 dan Jepara dengan 30.552. Ini memberi alasan untuk menilai investasi bukan hanya dari nilai rupiahnya, tetapi juga dari akses warga terhadap pekerjaan. Jawa Tengah mengandalkan 1.557 SMK negeri dan swasta dengan lebih dari 800.000 siswa serta lembaga pelatihan kerja untuk menyiapkan tenaga kerja. Sementara itu, Temanggung masih mengejar target tahunan, dan provinsi baru merealisasikan 73,21 persen dari target resmi. Kesimpulannya, capaian Rp72,54 triliun adalah kemajuan berarti, tetapi keberhasilan akhirnya bergantung pada investasi yang berkelanjutan, pekerjaan yang tersebar, dan keterampilan yang sesuai kebutuhan usaha.






