Penjangkauan membuka masalah yang tersembunyi
Anak tidak sekolah adalah anak usia sekolah yang belum memperoleh akses pendidikan formal maupun nonformal, baik karena putus sekolah maupun belum pernah masuk sekolah sama sekali. Temuan penjangkauan di Tuban menunjukkan bahwa persoalan ini belum selesai hanya dengan tersedianya sekolah: masih ada puluhan anak berstatus tidak sekolah, termasuk anak yang sama sekali belum pernah bersekolah. Pada penjangkauan tahap kedua, tim menemukan calon siswa di berbagai jenjang dan berhasil menjangkau 29 anak untuk jenjang SMP serta 30 untuk SMA. Pendamping Program Keluarga Harapan, Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan, dan Dinas Sosial terlibat dalam proses tersebut. Kisah seorang anak yatim piatu yang pendidikan dan kesehariannya tidak terurus oleh keluarga tempat tinggalnya memperlihatkan bahwa hambatan akses dapat berakar pada situasi pengasuhan, bukan semata-mata jarak ke sekolah. Setelah didampingi, anak itu bersedia masuk Sekolah Rakyat.
Dari identifikasi menuju kesempatan belajar
Penjangkauan siswa putus sekolah baru berarti jika anak yang ditemukan benar-benar mendapat jalan kembali untuk belajar. Di Tuban, anak berstatus tidak sekolah tetap diprioritaskan masuk Sekolah Rakyat meskipun tahun pelajaran sudah dimulai dan rombongan belajar telah penuh. Kebijakan itu penting karena daftar calon siswa atau pendataan saja tidak mengubah keadaan anak. Pemkab Sumedang, sementara itu, menargetkan penanganan sekitar 5.000 anak tidak sekolah pada 2027 lewat Relima Peduli Pendidikan, program yang digagas Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Upayanya mencakup identifikasi, pendampingan, dan pengarahan kembali ke pendidikan formal maupun nonformal. Ini merupakan arah program reintegrasi pendidikan yang tepat: jalur kembali tidak harus seragam, tetapi mesti sesuai dengan kebutuhan dan keadaan anak. Ukuran keberhasilan seharusnya bukan banyaknya nama yang terdata, melainkan apakah mereka memperoleh kesempatan belajar yang berkelanjutan.
Target besar perlu berpijak pada kebutuhan anak
Target Sumedang menempatkan skala persoalan secara jelas: sekitar 5.000 anak diperkirakan belum mengakses pendidikan, dengan penanganan ditargetkan tuntas pada 2027. Program Relima Peduli Pendidikan juga menghubungkan gerakan literasi dengan perluasan akses pendidikan, dan Sumedang dipilih sebagai daerah percontohan. Sebagai inisiatif daerah pendidikan, pendekatan ini menjanjikan karena mengakui bahwa akses belajar dan kemampuan masyarakat memahami informasi publik saling berkaitan. Namun, target angka harus dibaca sebagai komitmen untuk menemukan dan mendampingi anak, bukan alasan untuk memaksakan satu jalur sekolah kepada semua. Pengalaman Tuban menunjukkan bahwa anak yang belum pernah bersekolah pun dapat menerima kesempatan kembali setelah pendampingan, bahkan ketika kelas sudah penuh. Kedua contoh ini menegaskan prioritas yang semestinya: menjangkau anak yang luput, menawarkan jalur belajar yang sesuai, dan memastikan status tidak sekolah tidak menjadi keadaan permanen.






