Pendidikan harus terbuka bagi setiap anak
Sekolah Rakyat adalah program pendidikan yang membuka kesempatan belajar bagi anak dari keluarga kurang mampu, termasuk mereka yang pernah putus sekolah, agar latar belakang ekonomi tidak menutup jalan menuju cita-cita. Karena itu, dorongan Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto untuk memperluas jangkauannya patut dipandang sebagai kebutuhan, bukan sekadar gagasan baik. Ia menyampaikan dorongan tersebut setelah mengunjungi Sekolah Rakyat di kawasan BPSDM Provinsi Jawa Timur, Kota Malang, pada 21 Oktober 2026 dan mendengar langsung cerita para siswa. Kesempatan belajar yang datang setelah pendidikan terhenti dapat menentukan apakah seorang anak kembali membangun masa depan atau kehilangan ruang untuk berkembang. Perluasan program akan berarti bila menjangkau anak-anak yang selama ini tersisih oleh kondisi keluarga dan ekonomi, bukan hanya menambah kapasitas di lokasi yang sudah terlayani.

Cita-cita tetap hidup di tengah kesulitan
Kisah siswa yang didengar Bima memperlihatkan bahwa hambatan akses pendidikan bukan perkara abstrak. Ada anak dengan orang tua yang bekerja sebagai buruh, ada yang kehilangan orang tua, dan ada siswa yang ingin menjadi tentara atau hakim. Seorang anak bahkan bertekad kembali sekolah setelah hampir empat tahun berhenti belajar. Bima menyebut semangat untuk kembali menempuh pendidikan itu luar biasa. Cerita-cerita ini menunjukkan mengapa dukungan tidak boleh berhenti pada ajakan agar anak terus bermimpi: mereka memerlukan jalur nyata untuk kembali belajar dan mengembangkan kemampuan. Sekolah Rakyat dapat menjadi jalur tersebut, tetapi jangkauan yang terbatas akan meninggalkan banyak anak dalam keadaan serupa. Pemerataan berarti memastikan anak kurang mampu tidak harus menghadapi hambatan ekonomi sendirian saat berusaha meraih cita-cita.

Open house menguji gagasan pendidikan untuk semua
Open house Sekolah Rakyat di Kabupaten Cirebon pada 17 Oktober 2026 memberi kesempatan untuk melihat kegiatan belajar sekaligus menegaskan bahwa pendidikan harus dapat diakses semua kalangan. Wakil Bupati Cirebon Agus Kurniawan Budiman menghadiri kegiatan tersebut. Sekolah itu menampung 540 siswa: 270 berasal dari Kabupaten Cirebon dan 270 lainnya dari Kabupaten Kuningan, Kabupaten Majalengka, serta Kota Cirebon; jumlah tenaga pengajar dan pendidik tercatat 107 orang. Skala ini memperlihatkan daya jangkau lintas daerah, tetapi angka penerimaan saja belum membuktikan bahwa akses telah merata. Pemerintah perlu memastikan anak yang paling menghadapi hambatan dapat menemukan informasi, mendaftar, dan mengikuti pembelajaran. Open house akan lebih bermakna jika keterbukaan yang diperlihatkan diterjemahkan menjadi pendidikan inklusif yang tidak membedakan latar belakang.

Perluasan harus diikuti dukungan nyata
Pemerintah daerah berharap Sekolah Rakyat terus memberi manfaat dengan memperluas akses pendidikan dan membantu generasi muda membangun masa depan. Harapan itu sejalan dengan seruan Bima agar jangkauan program terus diperbesar, tetapi perlu disertai perhatian berkelanjutan terhadap anak yang sempat tertinggal dan keluarga yang menghadapi kesulitan. Open house dapat membantu masyarakat mengenal pelaksanaan sekolah; langkah berikutnya ialah memastikan kesempatan belajar benar-benar sampai kepada mereka yang membutuhkan, termasuk anak yang sudah lama tidak bersekolah. Pendidikan bukan hadiah bagi keluarga yang mampu mengatasi semua hambatan sendiri. Ia adalah kesempatan dasar yang semestinya tersedia bagi setiap anak. Karena itu, perluasan Sekolah Rakyat layak didukung sebagai langkah penting, dengan keberhasilan diukur dari siapa yang berhasil dijangkau dan kembali belajar, bukan hanya dari jumlah kegiatan yang diselenggarakan.






