Kepercayaan menjadi kebutuhan utama layanan domain
Identitas digital adalah representasi elektronik yang memungkinkan seseorang dikenali dan diverifikasi dalam layanan daring tanpa selalu mengandalkan pemeriksaan dokumen fisik. Dalam layanan domain .id, penggunaan identitas semacam ini dapat membantu membangun proses yang lebih aman sekaligus mengurangi paparan data pribadi. Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (PANDI) menjalin kerja sama dengan PT Privy Identitas Digital (Privy) untuk memperkuat ekosistem internet, termasuk layanan domain .id. Nota kesepahaman ditandatangani secara digital di Bali oleh Ketua Dewan Pengurus PANDI Isnawan dan CEO sekaligus pendiri Privy, Marshall Pribadi. Langkah ini tepat sasaran: ketika semakin banyak urusan berlangsung daring, pengguna perlu tahu bahwa pihak yang mengajukan layanan dapat diverifikasi dan dokumen yang menyertainya dapat dipercaya. PANDI menyatakan tantangan internet bukan lagi sebatas konektivitas, tetapi juga jaminan keamanan transaksi digital.

Verifikasi dan dokumen elektronik dalam satu ekosistem
Kerja sama ini tidak berhenti pada pencocokan identitas. PANDI dan Privy berfokus pada pemanfaatan identitas digital terverifikasi serta penandatanganan dokumen elektronik untuk layanan domain .id. Riset dan pengembangan juga mencakup Verifiable Credential (VC), yakni kredensial digital yang keaslian dan keutuhannya dapat diperiksa dengan kriptografi, serta Tanda Tangan Elektronik (TTE). Sebagai Penyelenggara Sertifikasi Elektronik, Privy diharapkan membantu merancang mekanisme verifikasi identitas dan autentikasi dokumen elektronik yang sah menurut ketentuan hukum. Ini berpotensi membuat proses administrasi lebih konsisten: identitas pemohon dan keabsahan dokumen dapat diperiksa dalam alur digital, bukan bergantung pada tumpukan salinan kertas. Namun, manfaat tersebut baru terasa jika mekanisme verifikasi mudah dipahami pengguna dan hasil pemeriksaannya dapat dipercaya. Teknologi kriptografi memberi alat untuk membuktikan keaslian; tata kelola yang baik tetap menentukan apakah alat itu digunakan secara bertanggung jawab.
Perlindungan data harus terlihat dalam praktik
Verifikasi identitas memperkuat keamanan, tetapi juga dapat memperbesar risiko bila layanan mengumpulkan data lebih banyak daripada yang diperlukan. Karena itu, proyek percontohan yang disiapkan kedua pihak penting bukan sekadar sebagai uji teknologi, melainkan sebagai kesempatan membuktikan bahwa verifikasi dapat dilakukan dengan cara yang lebih ramah privasi. Pendekatan yang dirujuk mengacu pada Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang Pelindungan Data Pribadi dan Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2019, dengan prinsip minimisasi data. Bagi pengguna, dampak praktis yang diharapkan adalah berkurangnya kebutuhan mengunggah salinan dokumen fisik seperti KTP, sehingga risiko kebocoran data pribadi ikut ditekan. Ini arah yang lebih sehat daripada menjadikan pengumpulan dokumen sebagai kebiasaan tanpa batas. Namun, kepatuhan tidak cukup ditunjukkan dengan menyebut regulasi: rancangan proyek perlu memastikan data yang diminta memang perlu, pengguna memahami penggunaannya, dan perlindungan tetap berjalan setelah verifikasi selesai.
Ujian berikutnya adalah penerapan yang bertanggung jawab
PANDI dan Privy tengah menyiapkan proyek percontohan untuk menguji verifikasi identitas yang lebih aman, efisien, dan ramah privasi. Hasil uji coba itu akan lebih bermakna daripada janji teknologi jika dapat menunjukkan bahwa pengguna tidak perlu menyerahkan data berlebihan, dokumen elektronik dapat diautentikasi, dan prosesnya tetap mudah diakses. Kolaborasi PANDI, Privy, NIXI, dan APJII disebut sebagai bagian dari upaya memperkuat ekosistem domain .id dalam topik kerja sama ini. Akan tetapi, bahan yang tersedia hanya merinci kesepakatan PANDI dan Privy; peran atau bentuk keterlibatan NIXI dan APJII tidak dijelaskan. Karena itu, penilaian yang paling kuat saat ini bertumpu pada rencana verifikasi identitas, kredensial digital, dan tanda tangan elektronik yang memang dipaparkan. Kesimpulannya, kolaborasi ini menjanjikan kemajuan bagi keamanan layanan domain .id, tetapi keberhasilannya harus diukur dari perlindungan data nyata dan kepercayaan pengguna, bukan dari kecanggihan fitur semata.






