Jelajah Literasi di Taman Publik: Saat Ruang Terbuka Menjadi Kelas Baca Interaktif

Jelajah Literasi di Taman Publik: Saat Ruang Terbuka Menjadi Kelas Baca Interaktif
Minat|Pendidikan Orang Tua dan Anak

Jelajah literasi: ketika taman berubah menjadi ruang baca hidup

Jelajah literasi di taman edukasi anak adalah program literasi anak berbasis komunitas yang mengubah ruang terbuka publik menjadi kelas baca interaktif, di mana anak belajar sambil bermain melalui dongeng, eksplorasi lingkungan, dan interaksi langsung dengan berbagai elemen taman yang dirancang untuk menumbuhkan minat baca sejak usia dini.

Kuncinya: literasi dipindahkan dari ruang formal ke ruang publik yang akrab dan menyenangkan. Bunda PAUD Kota Banjarmasin, Hj Neli Listriani, mengajak anak-anak mengenal literasi melalui kegiatan yang menyenangkan dan edukatif di Taman Edukasi dan Satwa Jahri Saleh pada Sabtu, 8 Agustus 2026. Pencanangan program Jelajah Literasi Bersama Bunda PAUD menjadi bukti bahwa taman bisa berfungsi lebih dari sekadar tempat rekreasi; ia berubah menjadi laboratorium kecil bagi budaya baca anak. Inilah bentuk nyata bagaimana program literasi anak bisa terasa dekat, gratis, dan relevan dengan dunia keseharian mereka.

Jelajah Literasi di Taman Publik: Saat Ruang Terbuka Menjadi Kelas Baca Interaktif

Belajar sambil bermain: strategi cerdas menyalakan minat baca

Jelajah Literasi di Taman Jahri Saleh dirancang jelas sebagai program belajar sambil bermain, bukan kelas membaca versi luar ruangan. Neli bersama ratusan anak dari TK Negeri Pembina Banjarmasin Utara mengikuti aktivitas dongeng inspiratif, bermain dan belajar, hingga mengenal satwa di lingkungan taman. Anak tidak dipaksa duduk rapi memegang buku; mereka diajak bergerak, bertanya, menyentuh, dan menghubungkan cerita dengan hewan yang mereka lihat langsung.

Di sinilah kekuatan program literasi anak berbasis pengalaman. Anak-anak bisa membaca dengan happy di lingkungan taman, sambil melihat secara langsung hewan-hewan yang ada di Taman Edukasi dan Satwa Jahri Saleh. Menurut Neli, kegiatan literasi yang dikemas melalui aktivitas bermain dan eksplorasi lingkungan menjadi salah satu cara membangun kebiasaan membaca sekaligus memberi pengalaman belajar menyenangkan sejak dini. Pendekatan ini secara halus memutus asosiasi bahwa membaca identik dengan tugas dan hukuman; membaca diposisikan sebagai petualangan.

Jelajah Literasi di Taman Publik: Saat Ruang Terbuka Menjadi Kelas Baca Interaktif

Komunitas literasi positif: Bunda PAUD sebagai motor penggerak

Program Jelajah Literasi tidak berdiri sendiri; ia tumbuh dari komunitas literasi positif yang dipelopori Bunda PAUD. Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi Bunda PAUD Banjarmasin bersama Dinas Perhubungan dan pengelola Taman Edukasi dan Satwa Jahri Saleh. Ini penting, karena literasi anak tidak mungkin hanya ditanggung sekolah atau keluarga, butuh jejaring tokoh lokal yang mau turun langsung mendongeng, mengorganisir kegiatan, dan menyapa anak satu per satu.

Ke depan, Program Jelajah Literasi akan melibatkan Bunda PAUD tingkat kecamatan dan kelurahan secara bergantian untuk mendongeng dan berinteraksi dengan anak-anak yang berkunjung. Artinya, yang dibangun bukan hanya acara, melainkan ekosistem pendamping anak di ruang publik. Harapan Neli agar kegiatan ini berjalan rutin setiap pekan menegaskan bahwa komunitas literasi positif harus hadir konsisten, bukan sekadar proyek seremonial menjelang peringatan tertentu. Ketika tokoh masyarakat hadir, pesan yang dibawa kepada anak jelas: membaca itu bagian dari kehidupan sosial, bukan urusan individu semata.

Taman edukasi anak dan dukungan pemerintah: literasi sebagai kebijakan ruang publik

Transformasi taman edukasi anak menjadi ruang literasi bukan kebetulan, melainkan pilihan kebijakan. Pemerintah kota disebut terus memperkuat komitmen mendukung tumbuh kembang anak melalui pengembangan kegiatan literasi yang dikemas menyenangkan dan edukatif. Kegiatan Jelajah Literasi ini secara eksplisit disebut sebagai salah satu upaya pemerintah dalam mendukung tumbuh kembang anak melalui penguatan budaya literasi sejak usia dini. Dengan kata lain, taman publik diakui sebagai instrumen pendidikan, bukan sekadar fasilitas pelengkap.

Penting pula dicatat, literasi di Taman Jahri Saleh sebelumnya telah berjalan setiap Minggu atau Ahad sore melalui mobil pintar perpustakaan keliling. Hadirnya layanan ini menghapus sebagian hambatan akses ke sumber belajar bagi keluarga yang jauh dari perpustakaan formal. Di sini, taman edukasi anak bekerja ganda: ia menjadi tempat wisata, ruang bermain, dan perpustakaan terbuka. Saat buku, hewan, dan ruang hijau menyatu, anak-anak diberi sinyal kuat bahwa belajar tidak punya batas tembok.

Momentum Hari Anak, arah masa depan: menjadikan literasi sebagai kebiasaan ruang publik

Momentum peringatan Hari Anak Nasional 2026 dimanfaatkan untuk mengembangkan kegiatan di Taman Jahri Saleh melalui konsep Jelajah Literasi. Ini bukan sekadar pengayaan agenda, tetapi pernyataan simbolik bahwa hak anak untuk bermain dan belajar bisa dipenuhi bersamaan, di ruang yang sama. Anak tidak hanya diajak membaca, tetapi juga bermain dan mengenal satwa secara langsung.

Ke depan, tantangannya adalah menjadikan program literasi anak di ruang publik sebagai kebiasaan kota, bukan sekadar event. Harapan agar kegiatan ini berlangsung rutin setiap pekan, dengan melibatkan Bunda PAUD kecamatan dan kelurahan se-Banjarmasin, memberi kerangka yang jelas: literasi harus terus hadir dan mudah dijangkau. Jika taman publik di berbagai wilayah berani meniru pola ini—memadukan belajar sambil bermain, komunitas literasi positif, dan dukungan pemerintah—maka budaya baca tidak lagi berhenti di ruang kelas, tetapi tumbuh di setiap jengkal ruang kota yang diisi tawa anak.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda. Artikel ini dibuat dengan AI dari sumber yang dipublikasikan dan data produk.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!