Ruang Publik sebagai Pintu Masuk Minat Baca Anak
Komunitas literasi anak yang mengaktifkan ruang publik adalah gerakan pembelajaran berbasis komunitas yang menghadirkan buku, dongeng, dan aktivitas membaca ke taman, alun-alun, atau ruang terbuka lain, sehingga program minat baca tidak lagi terbatas pada sekolah dan rumah, melainkan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari anak di lingkungan sosialnya. Di titik inilah, ruang publik berubah fungsi: dari sekadar tempat rekreasi menjadi ekosistem pengembangan anak dini yang memadukan bermain, berinteraksi, dan belajar. Pendekatan jelajah literasi publik menolak anggapan bahwa literasi adalah kegiatan formal dan serius; sebaliknya, membaca diposisikan sebagai pengalaman yang menyenangkan, sosial, dan mudah diakses bagi anak dari berbagai latar belakang. Jika kita ingin budaya baca tumbuh, akses dan rasa senang harus hadir bersamaan.
Komunitas Literasi HSS: Menanam Budaya Baca Lewat Ruang Cerita
Di Kabupaten Hulu Sungai Selatan, kehadiran komunitas literasi anak dibaca sebagai peluang membangun budaya baca dari bawah, bukan sekadar kampanye seremonial. Bunda Literasi setempat, Hj. Mustaidah Syafrudin Noor, menegaskan bahwa komunitas ini membuka ruang bagi generasi muda agar lebih dekat dengan buku dan aktivitas membaca. Kegiatan ruang cerita dan diskusi positif yang digelar Klub Buku HSS bersama komunitas dari Tabalong bukan hanya ajang kumpul, tetapi laboratorium sosial untuk menguji bagaimana anak dan remaja merespons buku dalam suasana santai. Menurut Hj. Mustaidah, generasi muda perlu didorong menjadikan membaca sebagai aktivitas yang menyenangkan dan bermanfaat. Ada gagasan penting di sini: kebiasaan membaca tidak tumbuh dari kewajiban, melainkan dari pengalaman emosional yang positif. Ruang baca dan ruang diskusi dipandang penting untuk memperluas wawasan dan melatih keberanian menyampaikan gagasan.
Jelajah Literasi di Taman Jahri Saleh: Komitmen Terstruktur untuk Anak Dini
Program Jelajah Literasi Bersama Bunda PAUD di Taman Edukasi dan Satwa Jahri Saleh menunjukkan bagaimana pemerintah daerah bisa menjadikan jelajah literasi publik sebagai kebijakan konkret, bukan sekadar slogan. Bunda PAUD Banjarmasin Hj Neli Listriani mencanangkan program ini di taman tersebut pada Sabtu, 8 Agustus 2026, dengan mengajak ratusan anak dari TK Negeri Pembina Banjarmasin Utara belajar di luar kelas. Anak mengikuti dongeng inspiratif, bermain, belajar, dan mengenal satwa yang ada di taman. Menurut Neli, program ini dirancang untuk menumbuhkan minat baca anak melalui suasana belajar yang menyenangkan. Momentum Hari Anak Nasional 2026 dimanfaatkan untuk mengembangkan konsep Jelajah Literasi, di mana anak tidak hanya diajak membaca, tetapi juga bermain dan berinteraksi langsung dengan hewan di taman. Kutipan penting dari kegiatan ini adalah, "Anak-anak bisa membaca dengan happy di lingkungan taman, sekaligus melihat secara langsung hewan-hewan yang ada di Taman Edukasi dan Satwa Jahri Saleh".

Kolaborasi Komunitas, Orang Tua, dan Pemerintah: Ekosistem Literasi Inklusif
Baik di Hulu Sungai Selatan maupun Banjarmasin, benang merahnya jelas: aktivitas literasi komunitas bergerak ketika banyak pihak berbagi peran. Di HSS, kegiatan ruang baca dan diskusi diusung dengan tema “Membangun Ruang Baca, Bertumbuh, dan Berdaya Bersama Komunitas Literasi”, sebagai wadah berbagi cerita, bertukar gagasan, dan mendorong minat baca di masyarakat. Bunda Literasi menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, komunitas, keluarga, sekolah, dan masyarakat agar budaya membaca tumbuh berkelanjutan. Di Banjarmasin, Jelajah Literasi adalah hasil kolaborasi Bunda PAUD dengan Dinas Perhubungan dan pengelola Taman Jahri Saleh. Ke depan, program ini akan melibatkan Bunda PAUD di tingkat kecamatan dan kelurahan secara bergantian untuk mendongeng bagi anak-anak yang berkunjung. Ini menunjukkan bahwa pengembangan anak dini yang berorientasi literasi membutuhkan ekosistem pembelajaran inklusif, di mana orang tua, guru PAUD, dan pemerintah lokal saling menguatkan alih-alih berjalan sendiri-sendiri.

Mengapa Aktivasi Ruang Publik Penting untuk Masa Depan Literasi Anak
Aktivasi ruang publik sebagai pusat literasi mengubah peta akses pengetahuan bagi anak. Ketika kegiatan membaca, mendongeng, dan eksplorasi lingkungan dihadirkan di taman kota, anak dari berbagai latar belakang sosial ekonomi bisa ikut tanpa terhalang tembok sekolah atau biaya tambahan. Di Banjarmasin, literasi diperluas dari sekolah dan rumah ke lingkungan sekitar, melalui mobil pintar perpustakaan keliling yang hadir setiap Ahad sore di Taman Jahri Saleh. Neli berharap kegiatan ini rutin tiap pekan, dengan literasi yang dikemas melalui bermain dan eksplorasi lingkungan untuk membangun kebiasaan membaca sejak usia dini. Persoalannya kini bukan lagi, “apakah anak mau membaca?”, melainkan “apakah kita menyediakan ruang yang ramah dan dekat dengan kehidupan mereka?”. Jawabannya ada di komunitas literasi anak yang berani menghidupkan ruang publik sebagai kelas besar tanpa dinding, tempat buku dan pengalaman konkret bertemu.






