Harga terjangkau menjadi daya tarik utama
Pasar murah adalah kegiatan penjualan bahan pokok dengan harga terjangkau untuk membantu warga memenuhi kebutuhan sehari-hari dan menjaga kestabilan harga pangan. Di Slahung, Ponorogo, dan Kota Batu, kegiatan semacam ini menunjukkan bahwa akses pada beras dan minyak goreng murah bukan sekadar soal selisih harga: warga membutuhkan pilihan yang lebih terjangkau, sementara stok yang cepat habis memperlihatkan kuatnya permintaan. Kedua pasar digelar dalam rangka Hari Jadi ke-81 Provinsi Jawa Timur, dengan beras SPHP dan minyak sebagai komoditas yang menonjol. Perbandingannya memberi gambaran jelas: harga beras SPHP sama-sama Rp55.000 per kemasan lima kilogram, sedangkan minyak dijual Rp15.000 per liter. Antusiasme warga di kedua lokasi menjadi alasan kuat agar pasar murah beras tetap dipandang sebagai akses nyata terhadap kebutuhan pokok, bukan sekadar acara seremonial.
Slahung: stok Bulog ludes, dari beras hingga Minyakita
Gerakan Pangan Murah berlangsung di Jalan Soekarno Hatta, Dusun Dawang, Kecamatan Slahung, Ponorogo, pada 27 Oktober 2026. Bulog Ponorogo menyediakan beras SPHP, beras premium, dan Minyakita, sementara lapak lain menawarkan kebutuhan seperti gula, telur, tepung terigu, bawang, serta cabai. Beras SPHP murah dibanderol Rp55.000 per kemasan atau Rp11.000 per kilogram; beras premium dijual Rp72.000 per kemasan atau Rp14.400 per kilogram. Harga Minyakita Rp15.000 per liter, di bawah HET Rp15.700 dan harga pasar yang disebut telah melampaui Rp17.000 per liter. Seluruh stok Bulog habis: 400 kemasan beras SPHP, 60 kemasan beras premium, serta 360 liter Minyakita. Ludesnya barang menunjukkan harga rendah langsung menjawab kebutuhan warga, tetapi juga menegaskan bahwa ketersediaan stok sama pentingnya dengan penetapan harga.
Batu: harga sama, antrean sejak pagi
Sehari setelah kegiatan di Slahung, pasar murah digelar di halaman Kantor Desa Sumberejo, Kecamatan Batu, pada 28 Oktober 2026. Warga datang sejak subuh untuk mengantre dan mengamankan nomor, lalu sejumlah komoditas habis dalam waktu sekitar satu jam setelah gerai dibuka pukul 09.00 WIB. Beras SPHP 5 kilogram dijual Rp55.000—sama dengan harga per kemasan di Slahung—dan minyak goreng Rp15.000 per liter. Beras premium tersedia Rp72.000 per 5 kilogram; gula pasir Rp16.000 per kilogram, tepung terigu Rp10.000 per kilogram, dan telur ayam ras Rp21.000 per kemasan. Bawang serta cabai juga dijual dengan harga subsidi. Pemerintah menyebut pasar ini sebagai upaya menjaga stabilitas harga, ketersediaan stok, dan daya beli. Namun antrean panjang memperlihatkan ukuran keberhasilannya yang paling mudah dirasakan warga: apakah bahan pokok terjangkau dan tersedia saat mereka datang.
Kesamaan harga beras SPHP dan minyak antara dua lokasi memudahkan warga melihat manfaat langsung pasar murah. Perbedaan yang mencolok justru tampak pada respons: di Slahung, seluruh jatah Bulog habis terjual; di Sumberejo, warga sudah mengantre sejak pagi dan sejumlah barang cepat ludes. Artinya, perhatian warga bukan semata pada satu komoditas, melainkan pada peluang memperoleh kebutuhan pokok dengan harga di bawah pasar. Program seperti ini memberi bantuan yang terasa saat belanja, tetapi permintaan yang tinggi juga menuntut pasokan yang cukup agar akses tidak hanya dinikmati mereka yang datang paling awal.

Kesimpulan: harga menarik harus diiringi ketersediaan
Dua pasar murah di Slahung dan Batu memperlihatkan pola yang sama: beras SPHP dijual Rp55.000 per kemasan lima kilogram, minyak Rp15.000 per liter, dan warga datang dengan antusias. Di Ponorogo, stok beras dan Minyakita yang disediakan Bulog habis; di Batu, antrean terbentuk sebelum lapak dibuka dan sejumlah barang cepat ludes. Respons ini menegaskan bahwa harga terjangkau penting bagi akses bahan pokok, tetapi harga saja belum cukup bila pasokan terbatas. Pasar murah layak dinilai dari kemampuannya menghadirkan barang yang dibutuhkan warga dengan harga yang lebih ringan, sekaligus memastikan kesempatan berbelanja tidak hanya berpihak pada mereka yang tiba paling awal.







