Kehadiran ayah perlu menjadi kebiasaan
Keterlibatan ayah dalam pengasuhan adalah kehadiran yang mencakup waktu, perhatian, dan kepedulian untuk mendampingi kebutuhan serta perkembangan anak, bukan sekadar memenuhi kebutuhan materi. Gagasan itu menjadi inti Gerakan Ayah Seneng Momong Anak Solo (GAS MAS), yang mengajak ayah rutin bermain dan mengasuh anak untuk membangun kedekatan emosional. Pada Minggu (25/10/2026), Wali Kota Solo Respati Ardi berkendara mengelilingi kota bersama buah hatinya dalam Riding With Dad Vol. 18 Solo. Kegiatan tersebut bukan cuma seremoni: ia memberi contoh bahwa waktu bersama anak bisa disediakan di tengah kesibukan. GAS MAS mendorong ayah menjadikan pengasuhan sebagai rutinitas mingguan. Respati merangkum ajakannya: “setiap seminggu sekali seorang ayah bisa momong atau mengasuh dengan bermain bersama anaknya.” Ini langkah sederhana, tetapi penting karena kedekatan tidak tumbuh dari niat yang hanya sesekali diucapkan.
Ikatan emosional adalah bagian dari perlindungan
Pembentukan karakter anak berlangsung lewat pengalaman berulang di rumah: apakah mereka didengarkan, diperlakukan dengan hormat, dan melihat kepedulian dicontohkan. Keterlibatan figur ayah secara emosional dinilai mampu membentuk fondasi karakter sejak dini. Karena itu, peran ayah tidak semestinya berhenti pada mencari nafkah. Memberi perhatian, mendengarkan cerita, dan mendampingi tumbuh kembang anak ikut memperkuat ikatan emosional keluarga. Ikatan ayah-anak yang terpelihara juga dapat menjadi salah satu benteng pencegahan bullying anak, sebab orang tua lebih mungkin memahami perubahan perilaku dan persoalan pergaulan sebelum membesar. Respati menegaskan bahwa pencegahan perundungan dan penyimpangan bermula dari rumah, melalui pola asuh yang peduli. Ini bukan berarti kedekatan keluarga menjamin tidak akan ada masalah; namun, anak yang merasa aman untuk bercerita memiliki ruang lebih baik untuk meminta bantuan dan belajar memperlakukan orang lain dengan empati.
Memori sederhana bisa melekat seumur hidup
Bonding ayah anak tidak menuntut kegiatan mahal atau rencana rumit. Berkendara bersama, bermain, atau mengobrol sepulang sekolah dapat memberi anak pengalaman merasa diperhatikan. Bagi Respati, kenangan berkeliling dengan ayahnya menggunakan Honda C70 saat kecil tetap membekas dan ikut membentuk karakternya. Kisah itu menunjukkan mengapa aktivitas seperti riding bersama ayah lebih bermakna ketika disertai perhatian dan kebersamaan, bukan sekadar perjalanan. Praktiknya dapat dimulai dengan bertanya tentang teman, keseharian di sekolah, rasa aman, dan cita-cita anak. GAS MAS, yang dideklarasikan Respati pada Juli dan diinisiasi Komunitas Jalan Bareng Ayah, menawarkan pengingat yang mudah diterapkan: sisihkan waktu rutin untuk momong. Pada akhirnya, pencegahan bullying tidak cukup dibebankan kepada sekolah. Keluarga perlu menjadi tempat anak belajar peduli, percaya diri, dan menghargai orang lain—dan kehadiran ayah adalah bagian penting dari ikatan yang menopang proses itu.






