Peran Ayah dalam Tumbuh Kembang Anak: Dari Ketidakhadiran ke Keterlibatan Aktif

Peran Ayah dalam Tumbuh Kembang Anak: Dari Ketidakhadiran ke Keterlibatan Aktif
Minat|Pendidikan Orang Tua dan Anak

Keterlibatan Ayah dalam Pengasuhan Bukan Bonus, Melainkan Hak Anak

Keterlibatan ayah dalam pengasuhan adalah kondisi ketika ayah hadir secara fisik, emosional, dan mental dalam kehidupan sehari-hari anak, ikut mengambil keputusan pengasuhan, menyediakan kedekatan dan rasa aman, serta menjadi figur kepercayaan yang konsisten sehingga tumbuh kembang anak optimal secara kognitif, sosial, dan emosional. Ini bukan tambahan manis, melainkan bagian tak terpisahkan dari pemenuhan hak anak.

Di banyak keluarga, ayah masih diposisikan sebagai dompet berjalan, bukan pengasuh aktif. Pola ini melahirkan fenomena fatherless: ayah mungkin ada di rumah, tetapi kosong secara emosional. Anak tumbuh dengan jurang dalam kepercayaan diri karena kehilangan figur rujukan, sementara ibu menanggung beban ganda yang melelahkan. Dalam konteks inilah parenting aktif ayah menjadi isu politik, bukan sekadar urusan domestik: ia menyentuh kualitas sumber daya manusia, ketahanan keluarga, dan masa depan kota.

Jalan Bareng Ayah: Dari Konten Curhat ke Gerakan Sosial Memutus Fatherless

Ketika banyak orang sibuk mengeluh tentang fenomena fatherless, Aries Adenata memilih bergerak. Ia memulai dari konten hubungan ayah–anak, lalu menerima banjir curhat pilu, termasuk komentar yang menohok: “ternyata ayah itu ada”. Dari sana ia menyimpulkan, ada pola ketidakhadiran ayah yang sistemik dan menahun. Keresahan itu tidak berhenti di media sosial; ia menjelma menjadi Komunitas Jalan Bareng Ayah sebagai kampanye kesadaran yang terorganisir.

Event perdana mereka, Motoran Bareng Ayah #1 di Solo, menjadi bukti bahwa banyak ayah haus ruang untuk terlibat. Sebanyak 1.800 ayah mendaftar, meski panitia hanya mampu menerima 500 peserta. Ini bukan sekadar angka, melainkan sinyal kuat: generasi milenial laki-laki mulai menyadari bahwa menjadi suami tidak otomatis berarti siap menjadi ayah. Komunitas ini bergerak memutus fenomena fatherless dengan cara yang dekat dengan keseharian—bermotor, beraktivitas, lalu pelan-pelan membongkar gagasan lama bahwa pengasuhan adalah wilayah perempuan.

Peran Ayah dalam Tumbuh Kembang Anak: Dari Ketidakhadiran ke Keterlibatan Aktif

‘Ayah Wajib Hadir’: Ketika Kebijakan Kota Turun ke Ruang Keluarga

Sementara komunitas bergerak dari bawah, pemerintah kota menunjukkan bahwa isu keterlibatan ayah dalam pengasuhan layak menjadi agenda resmi. Dalam puncak peringatan Hari Keluarga Nasional bertema “Ayah Wajib Hadir”, wali kota menegaskan bahwa ketahanan kota berawal dari ketahanan keluarga; keluarga adalah lingkungan pertama yang membentuk karakter dan mental anak. Ini pengakuan politik yang jelas: hak anak atas kehadiran ayah bukan persoalan privat, melainkan fondasi pembangunan SDM berkualitas.

Pesan kuncinya tajam: percuma penghasilan besar jika keluarga berantakan dan anak tidak bahagia. Fokusnya bukan sekadar ayah pulang tepat waktu, tetapi hadir secara emosional, khususnya bagi anak perempuan yang membutuhkan figur laki-laki yang aman dan dapat dipercaya sejak dini. Di sini, parenting aktif ayah dimaknai sebagai kehadiran yang menyapa, mendengar, dan mendampingi—bukan sekadar sosok yang muncul saat marah atau mengatur.

Program ‘Ayah Partisipatif’: Merancang Rutinitas Baru dalam Pengasuhan

Kebijakan hanya berarti sesuatu ketika diterjemahkan ke dalam rutinitas. Program “Ayah Partisipatif” menunjukkan bagaimana pemerintah kota mencoba mengikat keterlibatan ayah ke momen-momen konkrit dalam tumbuh kembang anak optimal. Ada Parenting Online Ayah setiap Rabu malam, Sebaya (Sekolah Bersama Ayah) di awal tahun ajaran, hingga gerakan Ayah Mengambil Raport di akhir tahun pembelajaran. Ini rangkaian yang sengaja menempatkan ayah bukan sebagai tamu, tetapi sebagai aktor tetap dalam perjalanan pendidikan anak.

Program ini menegaskan satu pesan: ayah tidak cukup hadir secara fisik di rumah. Ia diharapkan terlibat dalam pengasuhan, memberi dukungan psikologis, membangun kehangatan, dan menciptakan rasa aman bagi anak dan pasangan. Ketika komunikasi, pendampingan, dan perhatian terhadap perkembangan anak menjadi kebiasaan, keterlibatan ayah dalam pengasuhan berhenti menjadi slogan dan berubah menjadi budaya. Di titik ini, istilah “tumbuh kembang anak optimal” punya isi: anak melihat, merasakan, dan mengalami ayah yang terlibat.

Dari Ketidakhadiran ke Budaya Hadir: Masa Depan Gerakan Ayah

Komunitas Jalan Bareng Ayah kini diproses menjadi yayasan. Pemerintah kota meluncurkan serangkaian program bagi ayah yang partisipatif. Dua arus ini—gerakan warga dan kebijakan publik—sedang bertemu. Pertanyaannya: apakah masyarakat akan membiarkan momentum ini lewat, atau menjadikannya titik balik untuk mengakhiri fenomena fatherless? Jawabannya bergantung pada keberanian ayah untuk merombak identitas diri: dari pencari nafkah tunggal menjadi partner pengasuhan setara.

Pemenuhan hak anak atas kehadiran kedua orang tua adalah investasi jangka panjang. Ketika pola pengasuhan dini diperkuat dengan melibatkan ayah, anak tumbuh dengan kepercayaan diri, rasa aman, dan kemampuan membangun relasi sehat. Pada akhirnya, keterlibatan ayah dalam pengasuhan bukan tentang membagi tugas rumah lebih adil saja; ini tentang merancang generasi yang tidak lagi merindukan figur ayah yang tidak pernah mereka kenal.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!