Ayah Bukan Figuran dalam Pengasuhan
Peran ayah dalam pengasuhan adalah keterlibatan aktif dan emosional seorang ayah dalam mendampingi tumbuh kembang anak melalui kehadiran, komunikasi, kasih sayang, dan aktivitas sehari-hari, bukan hanya memenuhi kebutuhan finansial keluarga. Di banyak keluarga, pengasuhan masih ditempatkan di bahu ibu, sementara ayah dikerdilkan menjadi sekadar pencari nafkah utama. Paradigma ini bukan hanya ketinggalan zaman, tetapi berbahaya, karena absennya keterlibatan emosional ayah (fatherless) terbukti membawa dampak besar bagi perkembangan mental dan perilaku anak. Menganggap ayah sebagai figur pelengkap membuat anak kehilangan salah satu sumber kelekatan psikologis yang penting. Jika keluarga terus memelihara pola lama ini, mereka sedang menyiapkan generasi yang tumbuh dengan luka pengasuhan, bukan dengan fondasi emosional yang sehat.

Validasi dan Role Model: Dua Wajah Kasih Sayang Ayah
Ayah menghadirkan kualitas pengasuhan yang berbeda dari ibu, dan perbedaan ini justru melengkapi tumbuh kembang anak. Konselor Heru Mugiarso menegaskan, bagi anak perempuan, ayah adalah sumber utama kasih sayang dan tempat mendapatkan validasi harga diri. Pujian tulus, pelukan, dan perhatian sehari-hari mengajarkan bahwa dirinya layak dicintai. Tanpa itu, anak mudah mencari pengganti di luar rumah dan rentan terseret ke hubungan toksik yang manipulatif. Sementara bagi anak laki-laki, ayah adalah cermin: dari cara berbicara, mengelola emosi, hingga bertanggung jawab, semuanya diamati sebagai role model kehidupan dewasa. Ketika ayah absen atau tidak menghadirkan teladan yang sehat, anak kehilangan gambaran utuh tentang seperti apa menjadi pria yang matang dan berempati.
Bermain dengan Anak: Bahasa Cinta Ayah yang Paling Nyata
Tumbuh kembang anak sangat dipengaruhi oleh kualitas momen bermain dengan orangtua. Bermain dengan anak bukan sekadar menghabiskan waktu, tetapi kesempatan tertawa, bergerak, bercanda, dan merasakan perhatian dari orang yang mereka sayangi. Menariknya, dalam sebuah penelitian terhadap 154 anak usia 6–13 tahun, 43 anak atau 27,9 persen menyebut momen bermain bersama ayah sebagai saat paling membahagiakan, sementara hanya 9 anak atau 5,8 persen yang menyebut ibu; secara statistik anak hampir 8 kali lebih mungkin menyebut momen bermain bersama ayah dibandingkan ibu. Data ini menampar asumsi bahwa kedekatan emosional anak hanya terbentuk melalui figur ibu. Bola di halaman, bersepeda keliling kompleks, atau bercanda fisik di rumah adalah praktik parenting ayah aktif yang sederhana, murah, tetapi meninggalkan jejak kenangan dan rasa dicintai yang menguatkan anak.
Saatnya Mengubah Mindset Gender dalam Pengasuhan
Jika keluarga masih memaknai pengasuhan sebagai tugas domestik ibu dan menempatkan ayah hanya sebagai penyedia uang, mereka sedang merendahkan potensi pengaruh ayah terhadap masa depan anak. Budaya yang menganggap tugas ayah selesai setelah memenuhi kebutuhan finansial harus berakhir. Pengasuhan modern menuntut pola co-parenting, di mana ayah dan ibu bekerja sama, berbagi beban emosional, fisik, dan mental dalam mendampingi anak. Parenting ayah aktif tidak memerlukan gestur besar: komunikasi hangat, mendengarkan cerita harian, dan meluangkan waktu bermain sudah cukup untuk membuat anak merasa dilihat dan dihargai. Perubahan mindset ini bukan isu gaya hidup, melainkan investasi psikologis jangka panjang. Anak yang dibesarkan oleh dua figur pengasuhan yang sama-sama hadir akan tumbuh dengan rasa aman, kelekatan yang kuat, dan kapasitas relasi yang lebih sehat.
Kesimpulan: Ayah yang Hadir Mengubah Jalan Hidup Anak
Peran ayah dalam pengasuhan tidak bisa lagi dipandang sebagai bonus; ia adalah komponen inti tumbuh kembang anak yang setara dengan peran ibu. Fatherless bukan fenomena abstrak, melainkan kekosongan emosional yang nyata dengan konsekuensi serius bagi mental dan perilaku anak. Bukti bahwa momen paling bahagia anak sering kali adalah bermain bersama ayah menunjukkan betapa kuatnya dampak interaksi ini terhadap rasa dicintai dan diterima. Ayah yang mau memeluk, memuji, mendengar, dan bermain dengan anak sedang menulis ulang skrip hidup anak: dari rentan luka menjadi lebih siap membangun relasi yang sehat. Kesimpulannya, kalau kita ingin generasi yang stabil secara emosional dan tangguh secara sosial, maka parenting ayah aktif bukan pilihan tambahan, melainkan kewajiban moral yang perlu disadari dan dijalankan sejak hari ini.






