Pertumbuhan yang kian bergantung pada kualitas layanan
Ekonomi digital adalah aktivitas jual beli dan layanan yang berlangsung melalui platform digital, dengan nilai transaksi sebagai salah satu ukuran besarnya kegiatan tersebut. Di Asia Tenggara, ukurannya diperkirakan tumbuh 17% pada 2026, menjadikannya pasar yang kian penting bagi bisnis dan konsumen.
Laporan e-Conomy SEA 2026, yang diterbitkan Google, Temasek, dan Bain & Company pada 21 Oktober, memproyeksikan nilai barang dagangan bruto ekonomi digital kawasan mencapai US$368 miliar, naik dari US$315 miliar pada 2025. Angka itu memberi sinyal bahwa pertumbuhan ekonomi digital tetap kuat meski ketidakpastian makroekonomi dan geopolitik belum mereda. Namun, ukuran pasar saja bukan cerita utamanya: persaingan bergeser dari sekadar menambah pengguna menuju pengalaman yang lebih relevan dan mudah digunakan. AI menjadi salah satu mesin perubahan tersebut, sementara investasi dan infrastruktur digital menyediakan landasan agar layanan dapat berkembang. Bagi konsumen, perubahan ini akan terasa pada cara mereka menemukan produk, membandingkan pilihan, dan melakukan pemesanan.

AI membuat transaksi lebih dekat dengan kebutuhan pengguna
AI Asia Tenggara bukan lagi sekadar teknologi di balik layar: manfaatnya mulai terlihat dalam kegiatan belanja sehari-hari. Penjual dapat membuat video produk dan menyusun pemasaran yang lebih tepat, sedangkan konsumen memperoleh rekomendasi untuk menemukan serta membandingkan barang. Dalam survei di enam negara kawasan, 69% responden menyatakan menggunakan AI untuk membandingkan produk. Ini menunjukkan bahwa AI bisa memengaruhi keputusan belanja, bukan hanya mempercepat kerja perusahaan.
Perdagangan elektronik diperkirakan tetap menjadi sektor terbesar, dengan pertumbuhan 18% pada 2026. Menurut Florian Hoppe dari Bain & Company, perangkat AI yang digunakan penjual berpotensi menaikkan tingkat konversi penjualan sebesar 10%–15%. Dampak praktisnya dapat berupa pencarian yang lebih cepat dan pilihan yang lebih sesuai, meski mutu rekomendasi serta perlindungan data tetap perlu diperhatikan. AI juga membantu merencanakan perjalanan, memilih destinasi, dan mengatur pemesanan. Bahkan, asisten suara untuk memesan transportasi berpotensi memudahkan akses bagi lansia dan penyandang disabilitas.
Vietnam menunjukkan kedalaman adopsi, bukan hanya jumlah pengguna
Kontribusi Vietnam pada ekonomi digital kawasan tampak jelas dari cara masyarakatnya memakai teknologi. Laporan tersebut menggambarkan Vietnam sebagai titik terang, ditopang fondasi makroekonomi yang kuat dan adopsi teknologi tinggi. GenAI telah menjangkau 57% angkatan kerja Vietnam; 65% menggunakan aplikasi AI setiap minggu dan 26% setiap hari, menempatkan negara itu di posisi pertama kawasan untuk penggunaan harian.
Yang lebih penting dari peringkatnya adalah pola pemakaian. Di Google Gemini, 17% pertanyaan pengguna Vietnam berkaitan dengan pembelajaran dan penelitian, termasuk matematika dan pemrograman. Ini mengisyaratkan bahwa AI dipakai sebagai alat untuk meningkatkan keterampilan, bukan hanya mencari hiburan. Bagi pertumbuhan ekonomi digital Vietnam, kebiasaan tersebut dapat memperluas kemampuan pekerja dan memperkuat kesiapan bisnis mengadopsi layanan baru. Karena itu, kontribusi Vietnam tidak sebaiknya dibaca hanya sebagai tambahan transaksi regional: kualitas penggunaan teknologi juga menjadikannya contoh bagaimana adopsi digital dapat berhubungan dengan produktivitas.
Peluang besar, tetapi hasilnya bergantung pada penerapan
Pertumbuhan kawasan ditopang beberapa sektor, bukan satu aplikasi atau tren. E-commerce tetap menjadi pilar, sementara media digital diperkirakan tumbuh paling cepat di antara sektor yang disebutkan laporan. Perjalanan daring serta layanan transportasi dan pesan-antar makanan juga menambah aktivitas. AI dapat meningkatkan ketepatan iklan, menyesuaikan rekomendasi konten, dan membantu konsumen merencanakan perjalanan. Namun, kenaikan nilai transaksi tidak otomatis berarti pengalaman semua pengguna membaik. Keandalan rekomendasi, aksesibilitas layanan, dan kemampuan masyarakat memahami teknologi akan menentukan siapa yang benar-benar mendapat manfaat.
Ada pula faktor yang perlu dibaca hati-hati: nilai transaksi perjalanan dapat terdorong kenaikan harga tiket, meskipun jumlah kursi penerbangan menurun. Jadi, angka pertumbuhan tidak selalu mencerminkan bertambahnya volume layanan atau keterjangkauan. Kesimpulannya, AI memberi ekonomi digital ASEAN peluang untuk tumbuh lebih cerdas, bukan sekadar lebih besar. Vietnam memperlihatkan bagaimana adopsi yang terarah pada pembelajaran dan kerja dapat memperkuat posisi sebuah negara. Agar proyeksi pertumbuhan menjadi manfaat nyata, pelaku usaha dan pembuat kebijakan perlu memastikan teknologi memperbaiki akses serta produktivitas, bukan hanya mengejar transaksi.






