Forum Sumatera 10: Dari Ajang Seremonial ke Mesin Pertumbuhan
Forum Sumatera 10 adalah wadah kerja sama ekonomi regional yang menghimpun para gubernur se-Sumatera untuk menyatukan kebijakan, proyek, dan investasi lintas provinsi demi memperkuat konektivitas, hilirisasi komoditas, dan pemerataan pertumbuhan ekonomi kawasan secara terencana dan berkelanjutan. Inisiatif ini lahir bukan sebagai forum seremonial, melainkan sebagai jawaban atas kebiasaan lama: setiap provinsi di Sumatera sibuk dengan agenda sendiri, sementara potensi kawasan terfragmentasi dan sering berhenti pada angka kontribusi yang “besar tapi belum maksimal”. Dengan menjadikan IMT-GT Sumatera sebagai panggung peluncuran, Gubernur Bobby Nasution mengirim pesan politik dan ekonomi yang tegas: era kerja sendiri-sendiri di Pulau Sumatera sudah usai, dan kolaborasi lintas provinsi harus menjadi standar baru strategi pertumbuhan.

Mengapa Diluncurkan Sekarang: Potensi Besar, Konektivitas Lemah
Pemicu pembentukan Forum Sumatera 10 adalah kesenjangan yang kontras antara besarnya sumbangan ekonomi Sumatera dan lemahnya keterhubungan antar daerah. Selama ini, provinsi di Sumatera hidup dalam paradoks: penghasil utama karet, kopi, dan kelapa sawit nasional, tetapi rantai nilai berhenti di bahan mentah dan jalur distribusi lintas provinsi belum efisien. Saat IMT-GT ke-32 digelar di Medan dan menyatukan 10 gubernur se-Sumatera dalam satu forum, momentum politik dan diplomatik itu dimanfaatkan untuk mengganti pola kompetisi sempit menjadi kolaborasi kawasan. Dukungan penuh dunia usaha melalui Kadin Sumut serta apresiasi terbuka dari Menteri Ekonomi Malaysia menunjukkan bahwa pasar regional melihat Forum Sumatera 10 bukan sekadar wacana. “Selama ini yang kurang bukan potensinya, tapi konektivitasnya,” tegas Ketua Kadin Sumut Firsal Dida Mutyara.
Empat Skema Kolaborasi: Peta Jalan yang Menuntut Eksekusi
Kekuatan Forum Sumatera 10 terletak pada desain konkret yang dipaparkan Bobby Nasution lewat empat skema kolaborasi lintas provinsi. Pertama, integrasi rantai nilai komoditas unggulan dari basis produksi ke basis industri, dengan contoh kelapa sawit Sumut yang baru menghasilkan sekitar 120 produk turunan—angka yang menggambarkan peluang hilirisasi yang belum digarap penuh. Kedua, pengembangan kawasan logistik terintegrasi, termasuk gagasan jalur kereta yang menghubungkan sentra produksi Aceh, Sumut, dan Sumatera Barat ke pelabuhan ekspor via Selat Malaka dan Samudra Hindia. Ketiga, kerja sama berbasis proyek melalui BUMD gabungan dan sindikasi delapan BPD se-Sumatera sebagai alternatif pembiayaan. Keempat, skema buffer stock pangan antarwilayah untuk menjaga stabilitas harga dan menopang agenda swasembada. Jika empat skema ini berhenti di dokumen, Forum Sumatera 10 akan kehilangan makna; jika dieksekusi, ia bisa menjadi model IMT-GT Sumatera yang berorientasi hasil, bukan basa-basi.
IMT-GT Sumatera, Dukungan Regional, dan Proyek Konkret
Peluncuran Forum Sumatera 10 di dalam agenda IMT-GT ke-32 adalah pilihan strategis: ia menempatkan kerja sama antarprovinsi Sumatera dalam radar investor dan mitra regional. Pertemuan IMT-GT di Medan mendapat apresiasi karena dipandang membuka peluang investasi, memperluas konektivitas, dan mendorong pertumbuhan ekonomi kawasan. Menteri Ekonomi Malaysia Akmal Nasrullah menyebut komitmen kuat Gubernur Bobby dan menilai Sumut menunjukkan banyak peluang ekonomi yang layak dikembangkan. Di forum yang sama, bukan hanya Sumut yang menawarkan proyek; provinsi lain menampilkan inisiatif, mulai rumah sakit wisata medis di Sabang Aceh hingga jalur RORO Dumai–Melaka dan Tanjung Buton di Riau. Lima rekomendasi gubernur tentang mobilisasi sumber daya di koridor IMT-GT, penguatan Green City, dan pemanfaatan dukungan teknis ADB–ASEAN memberi kerangka kebijakan yang memaksa kerja sama ekonomi regional keluar dari slogan.
Mengurangi Ketimpangan, Menggeser Paradigma Pembangunan Sumatera
Pada intinya, Forum Sumatera 10 adalah upaya mengatasi ketimpangan ekonomi antar daerah yang selama ini disembunyikan di balik angka PDB kawasan. Ketimpangan itu lahir dari pola pembangunan yang terfragmentasi: provinsi maju memperkuat diri, provinsi tertinggal dibiarkan mengejar tanpa dukungan rantai pasok, pembiayaan, dan konektivitas yang memadai. Dengan menjadikan koridor IMT-GT sebagai panggung, kerja sama ekonomi regional di Sumatera diarahkan untuk menyatukan sumber daya, membuka jalur logistik baru, dan menyalurkan investasi kawasan Sumatera ke proyek yang berdampak pada masyarakat lokal, bukan sekadar angka di laporan. Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian mengingatkan bahwa jika potensi kerja sama antarprovinsi dimanfaatkan maksimal, dampaknya bukan hanya bagi Sumatera, tetapi juga kontribusi lebih besar bagi perekonomian nasional. Forum Sumatera 10 akan dinilai bukan dari banyaknya rapat, melainkan dari seberapa jauh ia menggeser paradigma pembangunan dari ego sektoral ke kolaborasi yang terasa di lapangan.






