Setahun merayakan akses pendidikan
Sekolah Rakyat adalah program pendidikan yang menjangkau anak-anak dari keluarga kurang mampu agar mereka memperoleh kesempatan belajar dan membangun masa depan di luar keterbatasan ekonomi keluarga. Makna itu menjadi pusat peringatan setahun penyelenggaraannya yang digelar Kementerian Sosial di GOR Sudiang, Makassar, Sulawesi Selatan, pada Rabu, 28 Oktober 2026.
Dipimpin Menteri Sosial Saifullah Yusuf, yang akrab disapa Gus Ipul, bersama Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono, acara bertema “Satu Indonesia, Sejuta Cita-Cita” ini dihadiri sekitar 7.000 orang. Para peserta mencakup siswa, orang tua, kepala sekolah, guru, tenaga pendidik, pendamping sosial, dan unsur pilar sosial. Puluhan ribu orang lainnya mengikuti secara daring dari sekolah dan sentra Kemensos di berbagai wilayah.
Peringatan ini lebih dari seremoni tahunan: ia mengingatkan bahwa akses pendidikan harus aktif dibuka bagi anak-anak yang kerap luput dari jangkauan layanan. Kehadiran ribuan peserta memberi wajah pada gagasan tersebut, tetapi ukuran keberhasilan program pada akhirnya terletak pada kesempatan belajar yang berkelanjutan, bukan kemeriahan satu hari.
Panggung siswa membawa pesan tentang kesempatan
Sebanyak 741 siswa dari berbagai penjuru ikut tampil, menampilkan tarian tradisional dari Aceh, Sulawesi, Papua, dan Nusa Tenggara Timur, serta karate, pencak silat, pramuka, dan baris variasi. Drama, puisi, nyanyian, dan pembacaan teks Sumpah Pemuda turut mengisi acara. Ragam penampilan itu bukan sekadar hiburan; ia memperlihatkan apa yang dapat muncul ketika anak memperoleh ruang untuk belajar dan tampil.
Gus Ipul menilai kepercayaan diri, disiplin, dan karakter siswa tumbuh ketika mereka mendapat kesempatan dan ruang belajar. Ia menyebut kebanggaan program terlihat saat anak kembali percaya diri, membaca, dan mengenal bangku sekolah. Pesan ini penting karena anak dari keluarga miskin terlalu sering dinilai melalui keadaan rumahnya, bukan kemampuan yang bisa berkembang jika hambatan pendidikan disingkirkan.
Dalam sambutannya, Gus Ipul menghubungkan Sekolah Rakyat dengan amanat konstitusi mengenai pendidikan, kesejahteraan sosial, dan perekonomian. Intinya, seorang anak menjadi titik temu antara hak belajar dan tanggung jawab negara. Penampilan para siswa membuat gagasan itu terasa konkret: kesempatan bukan jaminan bahwa semua hambatan selesai, tetapi tanpanya bakat dan cita-cita lebih sulit terlihat.
Penjangkauan sebagai upaya memutus rantai kemiskinan
Gus Ipul menegaskan bahwa Sekolah Rakyat dirancang untuk memutus rantai kemiskinan antargenerasi melalui pendidikan dan penjangkauan langsung. Gagasan program ini berangkat dari prinsip bahwa kemiskinan tidak seharusnya diwariskan. Karena itu, Sekolah Rakyat tidak mengandalkan pendaftaran terbuka seperti sekolah pada umumnya; pendamping sosial mendatangi keluarga yang membutuhkan berdasarkan data.
Penjangkauan dilakukan di 497 kabupaten dan kota. Dari proses tersebut, lebih dari 180.000 anak usia sekolah diketahui sudah bekerja untuk membantu ekonomi keluarga. Angka ini menunjukkan besarnya masalah yang tak dapat diselesaikan hanya dengan menyediakan ruang kelas: kebutuhan ekonomi dapat menarik anak menjauh dari pendidikan sebelum mereka sempat merasakan manfaatnya.
Sebelum belajar, anak yang dijangkau menjalani pemeriksaan kesehatan dan pemulihan psikologis, lalu matrikulasi serta pemetaan bakat. Dari 11.000 anak yang telah dipetakan, empat dari sepuluh menunjukkan bakat kuat di bidang sains dan teknologi. Temuan itu memperkuat alasan untuk memperluas kesempatan, sekaligus mengingatkan bahwa pendampingan harus menjawab kebutuhan kesehatan, psikologis, dan akademik secara bersamaan.
Pertumbuhan program harus diikuti kesinambungan
Sekolah Rakyat kini memiliki 100 titik permanen: 93 telah beroperasi dan tujuh masih dalam pembangunan. Selain itu, terdapat 82 sekolah rintisan. Secara keseluruhan, 182 titik melayani 44.000 siswa. Skala ini menunjukkan perkembangan yang berarti, tetapi jumlah lokasi saja belum cukup untuk membuktikan bahwa setiap anak memperoleh pendidikan yang konsisten dan bermutu.
Penyelenggaraan program didukung hampir 5.000 guru, 7.000 wali asuh, dan lebih dari 2.000 wali asrama. Pendekatannya mencakup kesehatan dan gizi, kepercayaan diri serta karakter, dan pembelajaran akademik. Keluarga siswa juga dipastikan menerima bantuan sosial lengkap. Dukungan yang menyertai pendidikan ini penting, sebab keberlanjutan belajar anak tak bisa dipisahkan dari keadaan keluarga dan lingkungan pengasuhannya.
Peringatan setahun di Makassar memberi alasan untuk mengapresiasi upaya menjangkau anak yang sebelumnya berisiko tertinggal. Namun, pesan tentang akses pendidikan menuntut tindak lanjut: sekolah yang masih dibangun perlu diselesaikan, pendampingan harus terus berjalan, dan capaian belajar perlu dijaga. Sekolah Rakyat akan benar-benar membantu memutus rantai kemiskinan jika kesempatan yang dibuka hari ini tetap tersedia sampai anak mampu menapaki masa depan yang ia pilih sendiri.






