Pendidikan sebagai jalan keluar antargenerasi
Sekolah Rakyat adalah program pendidikan yang menjangkau anak-anak dari keluarga kurang mampu agar mereka memperoleh kesempatan belajar dan membangun masa depan di luar keterbatasan ekonomi keluarganya. Pesan itulah yang menjadi inti peringatan satu tahun program ini di GOR Sudiang, Makassar, Sulawesi Selatan, pada Rabu, 28 Oktober 2026, bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda ke-98. Kementerian Sosial menggelar acara yang dipimpin Menteri Sosial Saifullah Yusuf, atau Gus Ipul, bersama Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono. Tema “Satu Indonesia, Sejuta Cita-Cita” merangkum ambisi program: memutus transmisi kemiskinan antargenerasi melalui pendidikan dan penjangkauan langsung. Namun, peringatan Sekolah Rakyat akan bermakna bukan karena ramainya seremoni, melainkan jika akses belajar itu benar-benar membuka pilihan hidup yang lebih luas bagi anak-anak yang selama ini berisiko tertinggal.

Negara harus hadir sebelum anak tertinggal
Gus Ipul menempatkan Sekolah Rakyat sebagai wujud kehadiran negara dalam memenuhi hak pendidikan dan memberi perlindungan sosial. Ia mengaitkan program ini dengan amanat Pasal 31, Pasal 34 ayat (1), dan Pasal 33 UUD 1945, lalu menegaskan, “Di Sekolah Rakyat, ketiga pasal itu bertemu dalam satu tubuh: seorang anak.” Pernyataan itu memberi ukuran yang lebih jelas bagi keberhasilan program: apakah anak yang rentan benar-benar ditemukan, didampingi, dan mendapat kesempatan belajar. Menurut Gus Ipul, gagasannya berpijak pada prinsip bahwa kemiskinan tidak boleh diwariskan. Karena itu, penjangkauan langsung penting sebagai jawaban bagi anak yang mungkin tidak dapat mengakses pendidikan melalui jalur biasa. Sekolah tidak cukup hanya tersedia; negara juga perlu memastikan anak yang paling membutuhkan tidak luput dari jangkauan.
Panggung memberi bukti tentang potensi
Sekitar 7.000 peserta hadir dalam acara tersebut, termasuk siswa Sekolah Rakyat, orang tua, kepala sekolah, guru, tenaga pendidik, SDM PKH, Tagana, TKSK, PSM, dan unsur sosial lainnya. Puluhan ribu peserta lain mengikuti secara daring dari sekolah dan sentra Kementerian Sosial di berbagai daerah. Bagian paling kuat dari peringatan itu hadir di panggung: 741 siswa datang dari berbagai penjuru untuk menampilkan tarian tradisional, karate, pencak silat, kegiatan pramuka, baris variasi, drama, pembacaan puisi, dan nyanyian. Penampilan tersebut bukan hiasan acara semata. Ia memperlihatkan bahwa anak dari keluarga kurang mampu memiliki bakat dan mampu tampil percaya diri ketika mendapat ruang untuk belajar. Namun tepuk tangan harus diikuti dukungan yang berkelanjutan—sebab satu hari di panggung tidak bisa menggantikan pendidikan, pengasuhan, dan kesempatan yang konsisten.
Ukuran keberhasilan ada setelah perayaan
Peringatan satu tahun ini layak menjadi titik ukur, bukan garis akhir. Pertunjukan siswa menunjukkan potensi, sementara pesan pemerintah menetapkan tujuan yang lebih besar: memutus kemiskinan antargenerasi melalui pendidikan. Tantangannya adalah menjaga agar kesempatan itu tidak berhenti pada seremoni atau bergantung pada perhatian sesaat. Anak-anak dari keluarga rentan membutuhkan dukungan yang terus hadir agar kepercayaan diri, disiplin, dan kemampuan akademik dapat tumbuh. Karena itu, keberhasilan Sekolah Rakyat seharusnya dinilai dari perubahan nyata dalam kehidupan siswa dan keberlanjutan akses belajar mereka. Panggung di GOR Sudiang telah menyampaikan pesan yang kuat: kemampuan tidak ditentukan oleh keadaan keluarga. Kini negara perlu membuktikan pesan tersebut lewat pendampingan dan pendidikan yang konsisten. Itulah cara paling berarti untuk memperingati satu tahun program ini.






