Lari sebagai pintu masuk edukasi keuangan
157 Run OJK adalah ajang lari yang menghubungkan aktivitas fisik dengan edukasi literasi dan inklusi keuangan agar pesan tentang kesehatan dan layanan keuangan lebih dekat dengan masyarakat. Digelar OJK Provinsi Bali bersama Forum Komunikasi Lembaga Jasa Keuangan (FKLJK) Bali di Renon, Denpasar, pada Minggu, 1 November 2026, kegiatan ini diikuti seribuan peserta dari berbagai lapisan masyarakat. Pilihan mengemas edukasi sebagai kegiatan publik yang akrab patut diapresiasi: warga dapat berkumpul untuk bergerak, sekaligus berkenalan dengan isu keuangan di luar ruang formal. Kepala OJK Bali, Parjiman, menyebut 157 Run sebagai pendekatan yang lebih dekat dengan masyarakat untuk meningkatkan literasi dan inklusi keuangan. Dengan demikian, lari untuk kesehatan menjadi lebih dari ajakan berolahraga; ia juga membuka ruang percakapan tentang cara memahami produk dan layanan keuangan.
Kebugaran dan pemahaman berjalan beriringan
Kampanye olahraga punya daya jangkau yang berguna: kegiatan yang mengundang warga untuk bergerak juga dapat menjadi tempat menyampaikan informasi dengan bahasa yang lebih dekat. Sekretaris Daerah Provinsi Bali, Dewa Made Indra, menilai kegiatan olahraga efektif untuk menyosialisasikan program dan membantu masyarakat memahami produk serta layanan sektor keuangan. Itu penting karena memperluas akses saja belum cukup. Warga juga perlu mengetahui kegunaan dan risiko produk yang mereka pilih agar keputusan keuangan tidak dibuat tanpa pemahaman yang memadai. Parjiman pun mengaitkan tujuan acara dengan kesehatan masyarakat secara menyeluruh, termasuk kesehatan pribadi dan kesehatan finansial. Hubungan ini membuat pesan 157 Run terasa masuk akal: kebiasaan menjaga tubuh dan kebiasaan mengambil keputusan keuangan yang terinformasi sama-sama membutuhkan perhatian berkelanjutan, bukan kampanye sesaat.
UMKM ikut mendapat ruang
Nilai acara ini tidak berhenti pada peserta lari. Rangkaian 157 Run mencakup Pasar Murah Pekenan Bulan Inklusi Keuangan yang melibatkan UMKM binaan OJK dan lembaga jasa keuangan sebagai dukungan bagi usaha lokal. Pasar tersebut juga menyediakan canang sari untuk kebutuhan Hari Suci Saraswati: masyarakat dapat memperoleh 15 biji dengan pembayaran Rp157 melalui QRIS. Contoh transaksi kecil ini mempertemukan warga, produk UMKM, dan pembayaran digital dalam konteks yang mudah dipahami. Pasar murah juga diharapkan membantu pertumbuhan UMKM dan menyediakan kebutuhan masyarakat dengan harga terjangkau, sekaligus mendukung upaya pengendalian inflasi. Pendekatan seperti ini memberi alasan praktis bagi warga untuk mengenal akses keuangan, sementara pelaku usaha memperoleh ruang untuk menjangkau pembeli.
Dari partisipasi menuju inklusi yang bermakna
Agar dampak 157 Run bertahan setelah acara selesai, semangat partisipasi perlu disertai pemahaman yang bisa digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Inklusi keuangan berarti memperluas akses terhadap produk dan layanan, sedangkan literasi keuangan membantu warga menilai manfaat, kegunaan, serta risikonya. Keduanya harus berjalan bersama: akses tanpa pemahaman dapat membuat pilihan kurang tepat, sementara pengetahuan tanpa akses membatasi manfaat yang dapat dirasakan. Nomor 157 pada nama acara merujuk pada layanan pengaduan dan informasi OJK yang melayani masyarakat serta konsumen jasa keuangan selama 24 jam. Identitas ini memberi pengingat bahwa edukasi seharusnya berujung pada sumber bantuan yang dapat dijangkau. Pada akhirnya, kekuatan acara ini terletak pada perpaduan yang nyata—lari untuk kesehatan, edukasi keuangan yang dekat, dan dukungan bagi UMKM. Inilah model kampanye publik yang layak diteruskan.






