AI berguna saat berangkat dari masalah sehari-hari
Kecerdasan buatan adalah teknologi yang memproses data untuk membantu menjalankan tugas atau membuat keputusan, dan manfaatnya paling terasa ketika dirancang untuk menjawab kebutuhan konkret manusia. Prinsip itu tampak pada AeroSpora dan NovaSight, dua proyek pemenang Samsung Solve for Tomorrow (SFT) 2026 yang diumumkan di Jakarta pada 29 Oktober. Tim BryotechAlpha dari SMA Negeri 81 Jakarta meraih juara pertama kategori SMA/SMK/MA lewat AeroSpora, sedangkan tim I-SEUNG dari Universitas Komputer Indonesia menang di kategori perguruan tinggi dengan NovaSight. Pilihan masalah mereka berbeda: polusi udara perkotaan dan hambatan belajar matematika bagi siswa tunanetra. Perbedaan itu justru menjadi kekuatan. AI di sini bukan tujuan atau pajangan teknologi, melainkan alat yang ditautkan pada konteks penggunaan dan penerima manfaat yang jelas.
Keduanya lahir dalam kompetisi yang menerima lebih dari 4.000 pendaftar dan membekali peserta terpilih lewat lokakarya Design Thinking, pelatihan AI, serta pendampingan mentor. Skala partisipasi tersebut penting, tetapi ukuran keberhasilan berikutnya bukan jumlah prototipe. Yang lebih berarti adalah apakah solusi dapat dipakai secara konsisten dan dikembangkan bersama orang yang menghadapi masalahnya. Dari sisi itu, riset lapangan NovaSight dan rancangan AeroSpora yang memadukan lumut, sensor, serta kontrol otomatis menawarkan pendekatan yang menjanjikan—meski keduanya masih membutuhkan pembuktian lebih luas.

AeroSpora: AI polusi udara yang bekerja bersama lumut
AeroSpora menawarkan cara yang lebih terarah untuk memanfaatkan kemampuan lumut menyaring udara: dinding lumut pintar dipadukan dengan sensor Internet of Things (IoT) dan AI agar kondisi tanaman tetap terjaga. Ini bukan klaim bahwa satu perangkat akan mengatasi polusi kota, melainkan upaya membawa pemantauan lingkungan ke ruang yang lebih dekat dengan penggunanya. Perangkat berukuran 120 x 50 cm itu memantau suhu, kelembapan, dan partikel PM2.5 secara langsung. Model TinyML pada mikrokontroler ESP32-S3 memperkirakan risiko kekeringan, lalu sistem pengabutan otomatis menjaga kelembapan lumut.
Rancangannya juga mencoba menekan ketergantungan pada sumber daya baru dengan memakai air kondensasi pendingin ruangan. Data tampil melalui V.E.R.A (Visual Environment Real-time Analytics), yang menggunakan tablet bekas sebagai stasiun pemantau. Dengan konsumsi daya 15 hingga 25 watt, perangkat dirancang untuk ruangan seluas 50 hingga 80 meter persegi. Detail teknis itu memberi gambaran bahwa AI polusi udara dapat diwujudkan sebagai sistem pemeliharaan yang spesifik, bukan sekadar dasbor angka. Namun, pemantauan dan pengaturan kelembapan belum dengan sendirinya membuktikan seberapa besar penurunan polutan yang akan dirasakan penghuni. Pengukuran hasil penyaringan dalam penggunaan nyata akan menjadi bukti penting berikutnya.

NovaSight belajar matematika dengan aksesibilitas sebagai dasar
Empat mahasiswa Universitas Komputer Indonesia dalam tim I-SEUNG membuat NovaSight setelah berbicara dan melakukan riset bersama siswa serta guru di SLB Negeri A Citeureup, Cimahi. Mereka menemukan bahwa grafik, diagram, dan pencatatan langkah perhitungan menjadi hambatan bagi siswa tunanetra. Karena itu, AI untuk tunanetra dalam proyek ini tidak berhenti pada membacakan teks: lima fitur NovaSight dirancang untuk mendukung beberapa tahap belajar. Annoter mengubah materi, termasuk grafik dan diagram, menjadi penjelasan teks yang dapat dibacakan pembaca layar. Scriber membantu siswa mencatat langkah penyelesaian melalui papan ketik khusus yang ramah tunanetra. Clarifier menjawab pertanyaan berdasarkan materi, Quizzer membantu guru menyusun kuis, dan Evaluaizer menganalisis jawaban serta proses pengerjaan.
Tim mengembangkan aplikasi menggunakan Flutter, Azure OpenAI, dan TalkBack, tetapi prosesnya juga memperlihatkan pentingnya menguji desain bersama pengguna. Rancangan awal papan ketik ternyata tidak nyaman bagi siswa, sehingga tim memperbaikinya dengan mengacu pada pedoman aksesibilitas digital WCAG. Dalam uji awal, seorang siswa tunanetra menjawab benar empat dari lima soal dalam 15 menit tanpa pendampingan guru. Hasil itu memberi alasan untuk optimistis, bukan dasar untuk menganggap aplikasi sudah terbukti bagi semua siswa. NovaSight belajar matematika menjanjikan kemandirian, tetapi tim masih perlu mengembangkan dan mengujinya lebih luas untuk memastikan kemampuan, kenyamanan, serta konsistensinya.

Dua arah inovasi, satu ukuran: manfaat yang teruji
AeroSpora berurusan dengan lingkungan fisik dan pemantauan kualitas udara; NovaSight berfokus pada akses belajar dan kemandirian siswa tunanetra. Keduanya menunjukkan bahwa penerapan AI paling relevan bukan soal seberapa canggih modelnya, melainkan apakah sistem menjawab hambatan yang dikenali oleh calon pengguna. AeroSpora menghubungkan prediksi risiko kekeringan dengan pengabutan, sementara NovaSight mengubah materi dan proses matematika menjadi lebih mudah diakses.
Samsung Solve Tomorrow menyediakan konteks bagi kedua tim untuk mengubah persoalan nyata menjadi prototipe yang bisa diuji. Tantangan selanjutnya berbeda: AeroSpora perlu menunjukkan dampak penyaringan udara dalam kondisi pemakaian, sedangkan NovaSight memerlukan uji yang lebih luas terhadap kemampuan dan kenyamanan pengguna. Kesimpulannya, dua pemenang ini memberi gambaran kuat tentang arah AI yang layak didukung: teknologi yang dibangun dari kebutuhan manusia, melibatkan calon pengguna, dan dinilai lewat manfaat yang terbukti—bukan hanya janji.






