TMMD dimulai dari kebutuhan warga
Program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) adalah kerja bersama TNI dan pemerintah daerah untuk mempercepat pembangunan pedesaan melalui pekerjaan fisik yang menjawab kebutuhan masyarakat. Perbedaan tahap di Lamongan dan Jombang menunjukkan bahwa keberhasilan program tidak hanya diukur dari bangunan yang selesai, tetapi juga dari ketepatan memilih sasaran.
Pada Jumat, 30 Oktober 2026, Kodim 0812/Lamongan bersama Pemerintah Kabupaten Lamongan memulai survei lapangan di Desa Wonorejo, Kecamatan Sambeng, untuk persiapan TMMD Imbangan ke-132. Peninjauan ini penting sebelum pekerjaan dimulai: lokasi dan kebutuhan harus dipetakan agar program tidak berhenti pada daftar proyek, tetapi benar-benar sesuai dengan keadaan desa. Dengan demikian, tahap survei bukan sekadar urusan administratif, melainkan penentu apakah dukungan yang direncanakan akan berguna bagi warga.
Lamongan merencanakan lebih dari jalan
Cakupan TMMD Lamongan memperlihatkan pendekatan yang lebih luas daripada pembangunan satu akses. Sasaran yang ditinjau meliputi jalan rabat beton, perbaikan rumah warga melalui program Rumah Tidak Layak Huni, lapangan voli dan sepak bola, serta saluran irigasi. Beragam kebutuhan ini menghubungkan infrastruktur desa dengan kehidupan sehari-hari: akses, kondisi hunian, ruang olahraga, dan dukungan bagi kegiatan pertanian.
Survei melibatkan jajaran TNI, pemerintah kecamatan dan desa, serta sejumlah organisasi perangkat daerah. Pelibatan lintas instansi masuk akal karena kebutuhan Wonorejo tidak dapat ditangani oleh satu bidang saja. Namun, keluasan rencana juga menuntut penentuan prioritas dan kesiapan pelaksanaan yang cermat. Tahap berikutnya adalah memastikan lokasi sasaran siap sebelum TMMD dimulai, sehingga rencana yang telah diperiksa dapat diterjemahkan menjadi pekerjaan yang tepat guna.
Jombang menunjukkan hasil yang bisa dirasakan
Di Desa Klitih, Kecamatan Plandaan, Kabupaten Jombang, pembangunan jalan dalam TMMD ke-130 Kodim 0814/Jombang telah memasuki tahap finishing. Berbeda dengan Lamongan yang masih memetakan sasaran, TMMD Jombang memperlihatkan hasil pekerjaan yang hampir tuntas: jalan yang sebelumnya berlumpur dan sulit dilewati saat hujan kini telah menjadi jalan beton yang lebih kuat dan nyaman.
Dampaknya terasa pada mobilitas warga dan kegiatan ekonomi desa. Jalan yang lebih layak memudahkan aktivitas harian, termasuk petani saat mengangkut hasil panen. Komandan Satgas TMMD ke-130, Letkol Kav Dicky Prasojo, menyatakan bahwa akses tersebut diharapkan memberi manfaat jangka panjang dan meminta masyarakat merawat hasil pembangunan bersama. Pesan itu penting: kualitas jalan tidak hanya bergantung pada pengerjaan, tetapi juga pada pemeliharaan setelah pekerjaan selesai.

Ukuran keberhasilan ada pada manfaat berkelanjutan
Perbandingan kedua desa menegaskan dua tahap yang sama-sama menentukan. Lamongan perlu menjaga agar survei menghasilkan daftar prioritas yang benar-benar menjawab kebutuhan Wonorejo; Jombang perlu memastikan jalan yang selesai tetap terawat dan terus mendukung perjalanan warga. Tahap awal yang teliti dapat mencegah pembangunan salah sasaran, sementara hasil fisik yang baik memberi manfaat nyata hanya jika digunakan dan dijaga.
Karena itu, keberhasilan TMMD sebaiknya dinilai bukan semata dari banyaknya proyek atau selesainya pekerjaan. Yang lebih penting ialah apakah jalan desa mempermudah mobilitas, rumah warga menjadi lebih layak, dan sarana lain sesuai kebutuhan setempat. Lamongan kini berada pada tahap memastikan pilihan, sedangkan Jombang menunjukkan arti menuntaskan pekerjaan. Keduanya mengingatkan bahwa pembangunan desa yang berguna memerlukan perencanaan tepat, pelaksanaan tuntas, dan tanggung jawab bersama untuk merawat hasilnya.






