Keterampilan guru, bukan kecanggihan alat, menjadi kunci
AI untuk guru adalah pemanfaatan kecerdasan buatan sebagai pendukung perencanaan dan kegiatan belajar, dengan guru tetap menentukan tujuan, memeriksa hasil, serta menyesuaikannya dengan kebutuhan siswa. Dua pelatihan terbaru memperlihatkan mengapa kompetensi itu mendesak: teknologi digital telah mengubah cara pembelajaran dirancang, tetapi kehadiran alat baru saja tidak menjamin pengajaran yang lebih baik. Unikama mengadakan workshop bagi guru Bahasa Inggris SMK di Kabupaten Malang untuk merespons perubahan tersebut. Secara terpisah, Program Studi Magister Pendidikan Bahasa Inggris Unismuh Makassar menggandeng University of Luzon dalam pengabdian internasional tentang keterampilan AI untuk guru. Keduanya patut dibaca sebagai langkah membangun kesiapan, bukan perlombaan memakai aplikasi. Ukuran keberhasilannya seharusnya bukan seberapa banyak alat dikuasai, melainkan apakah guru mampu memilih penggunaan yang membantu siswa belajar.

Dari pengenalan teknologi ke praktik yang bisa dipakai
Workshop Unikama memadukan landasan teori dengan kebutuhan praktis pengajaran. Empat akademisi Magister Pendidikan Bahasa Inggris membahas transformasi pedagogi digital, strategi menyusun materi berbasis teknologi, literasi digital, serta pemanfaatan AI secara etis. Peserta juga mengeksplorasi platform AI untuk menyusun perangkat pembelajaran, merancang aktivitas kelas, dan membuat instrumen evaluasi; praktik terbimbing memberi mereka pengalaman yang dapat dibawa ke sekolah masing-masing. Pendekatan ini lebih bernilai daripada demonstrasi alat semata karena menautkan keterampilan digital dengan pekerjaan harian guru. Bagi guru Bahasa Inggris, AI pembelajaran bahasa Inggris berpotensi membantu menyiapkan bahan dan aktivitas yang lebih beragam. Namun, keluaran otomatis tetap perlu ditimbang: relevansi materi, ketepatan bahasa, serta kesesuaiannya dengan kemampuan siswa tidak boleh diserahkan kepada mesin.

Pelatihan lintas bidang menekankan pedagogi lebih dulu
Program pengabdian internasional MPBI Unismuh dan University of Luzon berlangsung di SMP Unismuh Makassar pada 29 Oktober 2026, dengan pemaparan materi, diskusi, dan praktik AI. Kegiatannya terbuka bukan hanya bagi guru bahasa Inggris, tetapi juga guru mata pelajaran lain yang ingin meningkatkan kompetensi digital. Dalam sesi praktik, peserta belajar merumuskan prompt yang memuat konteks, tujuan, jenjang, waktu, dan bentuk kegiatan agar hasil AI lebih sesuai kebutuhan pembelajaran. Pesan terpentingnya adalah prinsip “pedagogy first, technology second”: tentukan apa yang perlu dipelajari sebelum memilih teknologi. Ini inti pelatihan AI guru yang bertanggung jawab. AI dapat membantu menyiapkan materi, aktivitas, dan penilaian, tetapi guru harus memeriksa akurasi, menjaga privasi siswa, memperhatikan keadilan dan integritas akademik, serta menyesuaikan penggunaan dengan usia peserta didik.

Kesiapan berarti kendali tetap berada di tangan guru
Dua program ini menawarkan fondasi yang tepat: pengalaman praktik, pemahaman tentang prompt, dan pengingat bahwa AI bukan pengganti pertimbangan profesional. Unikama menyebut teknologi sebagai mitra untuk merancang pembelajaran yang lebih kreatif, personal, dan efektif, sementara guru tetap menjadi pengarah proses belajar. MPBI Unismuh juga menekankan bahwa keluaran AI perlu diawasi dan disesuaikan, bukan diterima sebagai jawaban yang pasti benar. Tantangan berikutnya adalah menjaga pelatihan tetap berkelanjutan dan memastikan keterampilan itu benar-benar diterapkan di kelas. Unikama berharap sinergi perguruan tinggi, MGMP, dan pemerintah daerah terus diperkuat melalui program pengembangan profesional. Sementara itu, gagasan kerja sama lanjutan dalam program internasional masih memerlukan pembahasan sebelum diwujudkan. Kesimpulannya, AI pembelajaran bahasa Inggris akan memberi manfaat bila guru memahami tujuan, batas, dan tanggung jawab penggunaannya. Pelatihan adalah awal; kendali pedagogis guru yang menentukan hasilnya.







