Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Perguruan Tinggi dan Desa Wisata Berkolaborasi Mewujudkan Pariwisata Berkelanjutan

Perguruan Tinggi dan Desa Wisata Berkolaborasi Mewujudkan Pariwisata Berkelanjutan
Minat|Destinasi Luar Negeri

Pariwisata Berkelanjutan Butuh Ruang Belajar, Bukan Sekadar Promosi

Pariwisata berkelanjutan adalah pendekatan pengembangan destinasi yang menyeimbangkan keuntungan ekonomi, pelestarian budaya lokal, dan perlindungan lingkungan melalui keterlibatan aktif masyarakat, penggunaan praktik usaha hijau, serta strategi pemasaran yang bertanggung jawab agar desa wisata dapat tumbuh tanpa mengorbankan identitas dan kualitas hidup warganya. Di titik inilah perguruan tinggi mulai memainkan peran yang semakin strategis. Alih-alih hanya menjadi pengamat, kampus masuk langsung ke desa wisata, menguji konsep, dan membangun kapasitas pelaku usaha. Dua contoh yang mencolok adalah kolaborasi internasional di Desa Wisata Pentingsari, Sleman, dan Labuan Bajo, Manggarai Barat, yang sama-sama menjadikan desa sebagai laboratorium hidup pariwisata berkelanjutan. Polanya jelas: kolaborasi universitas wisata lintas negara dipakai sebagai mesin perubahan, bukan sekadar seremoni akademik.

Pentingsari: Desa Wisata Lokal yang Belajar Menjadi Pemain Global

Desa Wisata Pentingsari di Sleman menjadi contoh bagaimana desa wisata internasional bisa tumbuh dari kolaborasi kampus lintas negara. Melalui Indonesia–Malaysia International Community Service bertajuk “Improving CBT Quality”, tiga perguruan tinggi, yaitu STIE Pariwisata API Yogyakarta, Universiti Malaysia Sarawak (UNIMAS), dan Universitas Bina Sarana Informatika, turun langsung menemani pemilik homestay dan pengelola desa wisata. Kegiatan dikemas dalam sesi berbagi tentang penguatan Community-Based Tourism (CBT), strategi pemasaran, kreativitas digital, dan keberlanjutan desa wisata. Profesor Shaik Azahar Bin Shaik Hussain menekankan bahwa pemasaran strategis yang dipimpin komunitas menjadi syarat agar Pentingsari kompetitif, sementara materi tentang digital kreatif mendorong potensi lokal tampil di pasar global. Program ini jelas tidak netral: ia berpihak pada masyarakat sebagai pelaku dan penerima manfaat utama, sebagaimana ditegaskan Direktur PUSDEWI, Setiawan Priatmoko.

Perguruan Tinggi dan Desa Wisata Berkolaborasi Mewujudkan Pariwisata Berkelanjutan

Labuan Bajo: UMKM Pariwisata Berkelanjutan Naik Kelas Lewat Kolaborasi

Di Labuan Bajo, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Nusa Cendana menggandeng perguruan tinggi internasional dan pemerintah daerah dalam International Collaboration Community Service bertema “Go Green, Stay Competitive: Practical Tools for Sustainable Tourism Businesses”. Fokusnya terang: meningkatkan kapasitas UMKM pariwisata agar hijau sekaligus kompetitif. Sebanyak 30 UMKM diberi pelatihan praktis tentang usaha ramah lingkungan dan pengelolaan yang berkelanjutan. Pernyataan Debryana Yoga Salean menggarisbawahi pergeseran pasar: untuk menembus pasar luar negeri, kualitas dan harga premium saja tidak cukup, aspek hijau dan keberlanjutan menjadi pendorong daya saing. Penerapan konsep go green dipandang sebagai upaya pencegahan, bukan pemadam kebakaran saat masalah sampah dan lingkungan terlanjur membesar. Di sini tampak dengan jelas bahwa pariwisata berkelanjutan bukan slogan, melainkan strategi bisnis yang diajarkan, diuji, dan diinternalisasi bersama UMKM.

Perguruan Tinggi dan Desa Wisata Berkolaborasi Mewujudkan Pariwisata Berkelanjutan

Dari Desa ke Dunia: Mengapa Kolaborasi Lintas Negara Penting

Kolaborasi universitas wisata lintas negara mengubah desa wisata menjadi aktor global tanpa memaksa mereka mengorbankan akar lokal. Di Pentingsari, kerja sama dua negara dan tiga perguruan tinggi dipandang sebagai momentum memperkuat jejaring internasional sekaligus memberi manfaat langsung bagi masyarakat. Di Labuan Bajo, kehadiran mitra dari Malaysia dan India tidak hanya menghadirkan pertukaran pengetahuan, tetapi juga memperkenalkan Manggarai Barat sebagai destinasi premium kepada jaringan internasional. Namun nilai terbesarnya ada pada cara kolaborasi ini memaksa destinasi melihat keberlanjutan sebagai bagian tak terpisahkan dari daya saing. Saat pasar global makin sensitif terhadap tanggung jawab lingkungan, desa wisata internasional yang tidak membangun kapasitas hijau akan tertinggal. Relasi kampus–desa adalah bentuk investasi jangka panjang: pengetahuan, jejaring, dan sikap kritis yang menjaga desa wisata tetap menjadi milik warga, bukan sekadar objek eksploitasi.

Kesimpulan: Kampus Harus Terus Berdiri di Tengah Desa Wisata

Dua contoh di Pentingsari dan Labuan Bajo menunjukkan satu kesimpulan tegas: pariwisata berkelanjutan akan mandek jika desa dibiarkan berjalan sendiri tanpa mitra pengetahuan. Ketika perguruan tinggi menjadikan desa sebagai ruang praktik, UMKM pariwisata berkelanjutan memperoleh alat untuk naik kelas, dan desa wisata internasional punya pijakan kuat untuk go global tanpa kehilangan karakter lokal. Ke depan, yang diperlukan bukan sekadar lebih banyak program, tetapi desain kolaborasi yang memasukkan keberlanjutan sebagai prinsip bisnis, bukan pelengkap. Kampus perlu berperan sebagai penghubung antara teori dan tanah, sementara pemerintah daerah memastikan kebijakan mendukung pelaku kecil. Jika tiga aktor ini terus bersinergi, desa wisata tidak hanya menjadi destinasi instagramable, tetapi contoh bagaimana pembangunan bisa adil, hijau, dan menguntungkan warga.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!