Kemitraan pasar harus berujung pada manfaat lokal
Desa wisata adalah destinasi yang mengandalkan alam, budaya, dan keterlibatan masyarakat setempat untuk menawarkan pengalaman perjalanan yang khas sekaligus menopang ekonomi lokal. Karena itu, promosi internasionalnya semestinya tidak berhenti pada kunjungan agen, tetapi harus menghasilkan jalur penjualan dan manfaat yang sampai kepada warga.
BCA membawa 50 agen perjalanan dan operator tur asing dalam Mega Famtrip untuk memperluas pasar dua desa binaannya. Rombongan mengunjungi Bukit Peramun di Belitung pada 13 Oktober 2026 dan Desa Wisata Wayang Wukirsari di Yogyakarta pada 19 Oktober 2026. Pesertanya berasal dari beragam negara, sehingga kegiatan ini berpotensi mempertemukan pelaku lokal dengan jaringan pasar yang lebih luas. Bagi pengunjung, promosi semacam ini dapat membuka pilihan perjalanan yang lebih beragam; bagi warga, nilainya bergantung pada apakah kemitraan berlanjut menjadi kunjungan dan transaksi yang nyata.
Desa menawarkan cerita, bukan sekadar tempat
Kekuatan desa wisata Indonesia terletak pada pengalaman yang sulit dipindahkan ke destinasi lain. Bukit Peramun memadukan hutan granit purba di kawasan UNESCO Global Geopark Belitong, habitat tarsius, konsep Hutan Digital berbasis kode QR, serta budaya seperti Tari Sekapur Sirih dan makan Bedulang. Sementara itu, Wukirsari bertumpu pada tradisi tatah sungging dan kerajinan wayang kulit; pengakuan sebagai salah satu desa wisata terbaik UN Tourism pada 2024 memberi cerita tambahan untuk pasar internasional.
Model ini berbeda dari pemasaran Bali atau Labuan Bajo yang dapat menyusun perjalanan dari atraksi terkenal, akomodasi, dan akses transportasi. Desa perlu menjual keterlibatan manusia dan kekhasan budaya dengan cara yang menjaga kendali masyarakat atas pengalaman tersebut. Angka hasil awal memberi alasan untuk melanjutkan upaya: akses pasar internasional menghasilkan pendapatan Rp536 juta pada 2024–2025, sedangkan partisipasi ITB Berlin pada 2026 mencatat potensi transaksi Rp1,9 miliar—angka potensi, bukan pendapatan terealisasi.
Bali dan Labuan Bajo mengejar pasar yang tumbuh
Di jalur lain, Kementerian Pariwisata menggandeng tujuh agen perjalanan China dalam famtrip 19–25 Oktober 2026 untuk menyusun paket wisata Bali dan Labuan Bajo. Pendekatan ini lebih terarah pada satu pasar: agen diajak merasakan produk secara langsung agar dapat merancang perjalanan yang cocok bagi wisatawan China. Di Labuan Bajo, rangkaian pengalaman mencakup Pulau Kelor, Pulau Padar, Pink Beach, Pulau Komodo, pelayaran kapal pinisi, snorkeling, dan makan malam saat matahari terbenam.
Kemenpar juga menggelar business matching yang mempertemukan para agen dengan 14 pelaku industri Indonesia untuk membuka kerja sama pemasaran, akomodasi, dan penerbangan. Taruhannya jelas: kunjungan wisatawan China mencapai 1,054 juta pada Januari–Agustus 2026, naik 16,46% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, lebih cepat daripada pertumbuhan total kunjungan wisatawan mancanegara sebesar 5,38%. Dengan pertumbuhan itu, menyusun paket wisata Labuan Bajo dan Bali untuk kebutuhan pasar China masuk akal, asalkan promosi tidak mengabaikan mutu layanan dan tekanan pada destinasi.
Dua strategi, satu ukuran keberhasilan
Perbedaan pendekatan kedua program patut dipertahankan. BCA mengundang 50 agen perjalanan asing dari berbagai negara untuk membuka jaringan bagi dua desa dengan daya tarik yang spesifik; Kemenpar bekerja dengan tujuh agen China untuk mengembangkan produk terarah bagi pasar yang sedang tumbuh. Yang pertama membangun pengenalan dan kemitraan lintas pasar, sedangkan yang kedua menguji susunan paket untuk kelompok wisatawan tertentu. Keduanya lebih berguna daripada promosi umum tanpa jalur tindak lanjut.
Namun, jumlah agen yang hadir bukan ukuran akhir. Desa wisata memerlukan pemesanan berulang, pembagian manfaat yang adil, dan perlindungan atas alam serta tradisi yang menjadi daya tariknya. Bali dan Labuan Bajo memerlukan paket yang menghubungkan pemasaran dengan kesiapan layanan, penerbangan, dan kapasitas destinasi. Kesimpulannya, kemitraan asing dapat memperluas jangkauan, tetapi keberhasilannya ditentukan oleh hasil yang dirasakan warga dan pengunjung. Promosi yang baik bukan sekadar membawa agen datang; promosi harus membangun hubungan dagang yang berkelanjutan tanpa mengubah keunikan lokal menjadi komoditas kosong.






