Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Mindfulness, Privilege, dan Kesenjangan Kelas dalam Kesehatan Mental

Mindfulness, Privilege, dan Kesenjangan Kelas dalam Kesehatan Mental
Minat|Kesehatan Mental

Mindfulness Bukan Netral: Definisi, Konteks, dan Kontroversi

Mindfulness adalah praktik kesadaran penuh terhadap pikiran, emosi, dan sensasi tubuh pada saat ini, yang sering dipromosikan sebagai cara mengurangi stres, kecemasan, dan kelelahan mental, namun praktik ini tidak pernah benar-benar netral karena selalu bertemu dengan realitas sosial, ekonomi, dan politik orang yang mempraktikkannya. Konten video berjudul “Mindfulness in the Age of Bad News” yang diunggah Maudy Ayunda di YouTube pada 21 Agustus 2026 memunculkan pertanyaan keras tentang hal ini. Ia berbagi cara menjaga kesehatan mental di tengah serbuan kabar buruk tentang bencana, kelangkaan BBM, kebakaran hutan, hingga kebijakan pemerintah. Namun, sebagian warganet menilai sudut pandang itu terlalu dekat dengan isu privilese dan kurang sensitif terhadap mereka yang tidak bisa mengambil jarak dari persoalan sosial yang berdampak langsung pada hidup mereka.

Mindfulness, Privilege, dan Kesenjangan Kelas dalam Kesehatan Mental

Ketika Mindfulness Bertemu Kelas Sosial

Kunci kritik terhadap mindfulness dan privilege dalam kasus ini ada pada gagasan diet berita: anjuran mengurangi paparan informasi negatif demi kesehatan mental. Di atas kertas, ini terdengar wajar. Namun, bagi mereka yang penghasilan, pekerjaan, atau keselamatannya bergantung pada mengikuti perkembangan berita, pilihan untuk “menjauh” tidak tersedia. Inilah titik di mana kesehatan mental kelas sosial menjadi isu politis: siapa yang berhak berhenti membaca kabar buruk, dan siapa yang harus tetap menatapnya karena menyangkut dapur dan nyawa. Radius Setiyawan, pakar Kajian Budaya dan Media dari sebuah universitas, menegaskan bahwa mindfulness pada dasarnya bukan persoalan yang keliru, tetapi bermasalah ketika pengalaman individu diperlakukan seolah-olah universal bagi semua orang. Dengan kata lain, konten wellness yang tak membaca posisi sosial audiens mudah berubah menjadi tone deaf wellness content.

Tone Deaf Wellness: Saat Niat Baik Menjadi Simbol Jarak Sosial

Reaksi keras terhadap video Maudy tidak berhenti pada isi nasihatnya, melainkan pada cara ia menempatkan berbagai peristiwa sebagai sekadar “berita buruk” dalam narasi personal kesehatan mentalnya. Bagi sebagian warganet, ada kontras mencolok antara suasana tenang konten mindfulness dan kenyataan mereka yang sedang menghadapi bencana, kenaikan harga, atau ancaman kehilangan pekerjaan. Di sinilah tudingan tone deaf muncul: konten dianggap kurang peka terhadap pengalaman kelompok lain yang hidup dengan ketidakpastian struktural. Radius mengingatkan, “Berita buruk bagi seseorang bisa jadi hanya informasi. Tetapi bagi orang lain, berita itu adalah realitas hidupnya”. Ketika content creator berbicara seolah semua orang punya keleluasaan yang sama untuk “detoks berita”, mereka tanpa sadar mengubah mindfulness menjadi simbol jarak sosial, bukan jembatan empati.

Aksesibilitas Kesehatan Mental dan Bahaya Mindfulness Eksklusif

Pertanyaan terbesar dari kontroversi ini bukan soal siapa yang salah, tetapi siapa yang tertinggal. Jika kemampuan mengatur paparan informasi, mengambil jeda dari berita, atau mencari terapi hanya mudah dilakukan kelompok berprivilege, maka praktik kesehatan mental berpotensi memperlebar jurang kelas. Menurut Radius, pembicaraan tentang kesehatan mental tidak bisa dilepaskan dari struktur sosial; cara orang merespons kecemasan dan memilih mengambil jarak dari informasi sangat dipengaruhi posisi sosial dan sumber daya yang mereka punya. Ketika mindfulness dijual sebagai solusi universal, padahal akses waktu, ruang aman, dan dukungan finansial jauh dari merata, kita sedang menciptakan dua dunia: mereka yang boleh lelah dan beristirahat, dan mereka yang harus tetap berjaga. Ini bukan sekadar soal konten, tetapi soal aksesibilitas kesehatan mental sebagai hak, bukan kemewahan.

Menuju Mindfulness yang Kontekstual dan Berperspektif Kelas

Menariknya, Maudy kemudian mengakui bahwa kemampuan menjauh dari pemberitaan adalah sebuah keistimewaan dan meminta maaf karena kontennya belum cukup merefleksikan situasi yang dihadapi banyak orang. Pengakuan ini penting, karena membuka ruang bahwa persoalan bukan pada mindfulness itu sendiri, melainkan pada cara ia diabstraksikan dari realitas kelas sosial. Diskusi publik yang muncul menunjukkan satu pelajaran: saran kesehatan mental harus selalu dikontekstualisasikan dengan kondisi sosial ekonomi audiens. Mindfulness yang sensitif kelas tidak berhenti pada ajakan menutup gawai, tetapi mengakui bahwa untuk sebagian orang, kabar buruk adalah pekerjaan, penghidupan, dan ancaman langsung. Jika kesehatan mental ingin menjadi gerakan inklusif, maka kita perlu berpindah dari mantera universalistik menuju bahasa yang mengakui ketimpangan—bahwa tidak semua orang punya kemewahan untuk diam, tetapi semua orang berhak atas kesehatan mental.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda. Artikel ini dibuat dengan AI dari sumber yang dipublikasikan dan data produk.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!