Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Psikoterapi Islam dan Ruqyah Syar’iyyah dalam Kesehatan Mental Modern

Psikoterapi Islam dan Ruqyah Syar’iyyah dalam Kesehatan Mental Modern
Minat|Kesehatan Mental

Psikoterapi Islam: Dari Praktik Keagamaan ke Model Kesehatan Mental

Psikoterapi Islam adalah pendekatan kesehatan mental yang menggabungkan konsep psikologi modern dengan nilai-nilai spiritual Islam, termasuk tasawuf, ruqyah syar’iyyah, dan thibbun nabawi, untuk membantu individu mengatasi kegelisahan, tekanan batin, serta gangguan psikis melalui ikhtiar ilmiah dan praktik ibadah yang terarah. Pendekatan ini tidak netral; ia secara sadar menempatkan iman, dzikir, dan bacaan Al-Qur’an sebagai bagian dari intervensi psikologis. Di kampus-kampus Islam, psikoterapi Islam sedang bergerak dari sekadar wacana normatif menjadi kurikulum, praktik laboratorium, dan objek penelitian. Ini adalah jawaban atas kegelisahan generasi muda yang merasa terapi konvensional sering mengabaikan dimensi tauhid dan kesehatan spiritual mereka, padahal keseimbangan psikologis dan spiritual dibutuhkan untuk menghadapi tantangan kehidupan.

Thibbun Nabawi dan Ruqyah Syar’iyyah: Laboratorium Ikhtiar Spiritual di Kampus

Langkah paling konkret terlihat di UIN Sunan Gunung Djati Bandung, yang mengajarkan ruqyah syar’iyyah melalui mata kuliah Thibbun Nabawi kepada 100 mahasiswa Jurusan Tasawuf dan Psikoterapi. Di sini, ruqyah tidak diajarkan sebagai ritual mistik, tetapi sebagai ikhtiar spiritual berbasis ayat-ayat Al-Qur’an yang dikaitkan langsung dengan kesehatan psikis dalam perspektif Islam. Mahasiswa mempelajari prinsip, tujuan, dan tata cara ruqyah syar’iyyah, lalu mempraktikkannya sebagai terapi untuk kesehatan fisik dan psikis, termasuk ruqyah mandiri ketika terserang penyakit. Praktik ruqyah dilakukan hanya melalui pembacaan ayat Al-Qur’an, tanpa medium jin, dan kesembuhan sepenuhnya disandarkan kepada Allah SWT. Sikap ini penting: ruqyah ditempatkan sebagai bagian dari psikoterapi Islam yang harus berjalan beriringan dengan pemeriksaan medis dan penanganan psikologis profesional, bukan menggantikannya.

Psikoterapi Islam dan Ruqyah Syar’iyyah dalam Kesehatan Mental Modern

Psikosufistik: Menjembatani Psikologi Modern dan Tasawuf

Jika Bandung menguatkan thibbun nabawi, UIN Raden Intan Lampung mengembangkan psikosufistik sebagai model kesehatan mental dan spiritual yang lebih sistematis. Psikosufistik diposisikan sebagai keberlanjutan pengembangan keilmuan psikologi dengan kejernihan berpikir dalam tasawuf, bukan pengganti psikologi maupun tasawuf itu sendiri. Dalam kuliah umum bertema “Psikosufistik dalam Pengembangan Kesehatan Mental dan Spiritual”, Prof. Wijaya menegaskan bahwa psikosufistik tidak boleh berhenti pada aspek kognitif; ia harus dilanjutkan melalui pelatihan dan praktik untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang dibutuhkan dunia kerja. Ini sikap yang berani: kesehatan mental tidak dilihat hanya sebagai isu klinis, tetapi sebagai modal profesional. Psikosufistik menggabungkan pemahaman psikologis modern dengan latihan spiritual seperti dzikir, tafakkur, dan penguatan iman, sehingga mahasiswa belajar menyeimbangkan kesehatan mental dan kesehatan spiritual dalam satu kerangka keilmuan yang utuh.

Kesehatan Spiritual sebagai Fondasi Kesehatan Mental Mahasiswa

Pendekatan psikosufistik dan psikoterapi Islam di dua kampus ini menunjukkan satu pesan: kesehatan spiritual bukan pelengkap, tetapi fondasi kesehatan mental mahasiswa. Di Bandung, pembelajaran ruqyah syar’iyyah memberi ruang bagi mahasiswa untuk mengkaji hubungan antara nilai keagamaan, kesehatan spiritual, dan ketenangan jiwa dalam menghadapi kegelisahan dan tekanan batin. Di Lampung, rangkaian peringatan kesehatan mental dan kuliah umum psikosufistik dirancang sebagai pembekalan bagi mahasiswa baru agar memahami pentingnya keseimbangan psikologis dan spiritual dalam menghadapi tantangan kehidupan. Pendekatan ini menolak dikotomi “ilmiah vs religius”: mahasiswa didorong mengembangkan pemahaman keilmuan yang berlandaskan nilai-nilai Islam sekaligus memperhatikan kebutuhan penanganan kesehatan secara tepat. Dengan kata lain, iman tidak dijadikan pengganti terapi, tetapi dijadikan energi yang menguatkan proses pemulihan.

Psikoterapi Islam dan Ruqyah Syar’iyyah dalam Kesehatan Mental Modern

Menguatkan Riset Psikoterapi Islam: Dari Gagasan ke Bukti Ilmiah

Integrasi psikoterapi Islam, psikosufistik kesehatan mental, dan ruqyah syar’iyyah akan rapuh jika tidak ditopang riset serius. Di titik ini, kerja sama antara PT Wijaya Riset Institusi melalui The Wijaya Institute dan Fakultas Psikologi Islam UIN Raden Intan Lampung menjadi krusial. Kontrak kerja sama ini fokus pada pembiayaan penelitian dan penulisan skripsi bagi mahasiswa yang mengkaji keilmuan psikosufistik berdasarkan pemikiran Prof. Wijaya. Program tersebut bertujuan meningkatkan kualitas penelitian akademik sekaligus mendorong pengembangan psikosufistik secara ilmiah dan berkelanjutan. Dekan fakultas menyambutnya sebagai dukungan terhadap penguatan budaya akademik dan kajian kesehatan mental dan spiritual. Di sini terlihat arah baru: efektivitas psikoterapi Islam tidak cukup diklaim dari mimbar, tetapi harus diuji melalui metodologi penelitian yang ketat. Jika konsisten, ekosistem ini berpotensi melahirkan model intervensi kesehatan mental berbasis iman yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan bermanfaat luas.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!