Ketahanan emosional perlu dipelajari, bukan diasumsikan
Resiliensi emosional adalah kemampuan menghadapi tekanan, mengelola stres dan emosi, beradaptasi terhadap perubahan, serta menjaga keseimbangan psikologis dalam beragam situasi kehidupan. Kemampuan ini menjadi pokok Summer Course FK-KMK UGM yang berlangsung pada 26 Oktober hingga 6 November 2026. Program bertema Modern Mental Wellness: Science-Based Strategies for Emotional Resilience itu mengajak mahasiswa melihat kesehatan mental sebagai bagian penting dari kesejahteraan, bukan persoalan yang baru layak ditangani setelah krisis muncul. Sudut pandang ini tepat: tekanan sosial, persaingan, dan paparan ruang digital dapat mengguncang ketahanan emosional, sementara tanda awal gangguan psikologis kerap tidak tampak seperti masalah kesehatan fisik. Karena itu, pembelajaran tentang pencegahan dan dukungan berbasis ilmu pengetahuan harus menjadi bagian dari pendidikan, bukan sekadar respons saat masalah memburuk.
Summer course tersebut diikuti 56 mahasiswa sarjana dan pascasarjana dari Indonesia, Belanda, Pakistan, dan Thailand. Kehadiran peserta lintas negara memberi ruang untuk membandingkan pengalaman, tetapi nilai utamanya terletak pada perhatian bersama terhadap tantangan yang makin dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Tekanan digital bukan perkara layar semata
Tekanan pekerjaan, paparan media sosial, kelelahan digital, dan perubahan sosial dapat memengaruhi kesejahteraan psikologis. Dalam pembelajaran, peserta membahas pula durasi penggunaan layar, hiper-konektivitas, serta perundungan siber—faktor yang dapat memperbesar beban mental ketika ruang digital terus menyita perhatian tanpa jeda. Teknologi memang membuka peluang untuk berinteraksi dan mengakses bantuan, tetapi keterhubungan sepanjang waktu bukan tanda bahwa seseorang baik-baik saja. Menyadari batas dan dampaknya merupakan bagian penting dari upaya menjaga kesehatan mental.
Kursus ini juga memasukkan kecerdasan artifisial, terapi digital, dan layanan kesehatan mental jarak jauh dalam pembahasan. Pendekatan tersebut berpotensi memperluas akses terhadap dukungan psikologis, tetapi sebaiknya dipandang sebagai pilihan yang melengkapi hubungan dan layanan manusia, bukan pengganti otomatis. Materi praktis seperti mindfulness, latihan pernapasan, pengelolaan stres dan emosi, tidur, aktivitas fisik, serta ritme sirkadian mengingatkan peserta bahwa kesejahteraan dibangun melalui kebiasaan dan dukungan yang berkelanjutan.

Kolaborasi lintas disiplin membawa pembelajaran ke masyarakat
Pembelajaran interprofesional menjadi pilihan yang masuk akal karena persoalan kesehatan mental tidak berhenti di ruang praktik medis. Program ini melibatkan kolaborasi lintas fakultas, termasuk Farmasi dan Kedokteran Gigi UGM, serta menghadirkan akademisi dan pakar dari sejumlah negara. Keluarga, komunitas, tenaga kesehatan, dan berbagai disiplin ilmu juga berperan dalam penanganan. Dengan demikian, mahasiswa diajak memahami bahwa dukungan psikologis memerlukan kerja bersama, bukan dibebankan kepada satu profesi atau fasilitas layanan saja.
Setelah tiga hari perkuliahan bersama para pakar, peserta meneruskan pembelajaran lapangan di 10 Puskesmas di Kabupaten Kulon Progo. Mereka mengidentifikasi persoalan melalui wawancara dengan tenaga kesehatan dan kader, serta berinteraksi dengan pasien dan keluarga. Pengalaman ini penting karena membantu mahasiswa melihat bagaimana tantangan kesehatan jiwa hadir dalam kehidupan masyarakat, sekaligus memahami perlunya koordinasi lintas sektor. Hasil pengamatan menjadi bahan untuk merumuskan gagasan program kesehatan masyarakat sebagai tugas akhir. UGM dengan demikian tidak hanya mengajarkan konsep resiliensi emosional, tetapi juga menguji apakah pemahaman itu dapat digunakan untuk membaca kebutuhan nyata.

Perhatian dini adalah bagian dari ketahanan
Salah satu pelajaran terpenting dari summer course ini ialah bahwa kesehatan mental mudah terabaikan justru karena kesulitannya sering tidak terlihat. Menunggu sampai dampaknya parah berarti kehilangan kesempatan untuk mengenali kebutuhan dan memberi dukungan lebih awal. Karena itu, pendidikan lintas profesi dan pengalaman langsung di masyarakat patut dipertahankan: keduanya memperluas pemahaman melampaui gejala klinis, sekaligus menempatkan keluarga dan komunitas dalam gambaran penanganan.
Tekanan digital tidak dapat dihapus sepenuhnya, begitu pula perubahan sosial yang membentuk kehidupan modern. Namun, kemampuan mengenali beban, mengelola stres, dan mencari dukungan dapat diperkuat. Summer Course FK-KMK UGM menunjukkan bahwa pembahasan kesehatan mental paling berguna ketika ilmu, keterampilan praktis, dan kolaborasi interprofesional dipertemukan. Itulah arah yang seharusnya diutamakan: membangun resiliensi emosional sejak dini dan membuat perhatian terhadap kesejahteraan psikologis menjadi tanggung jawab bersama.







