Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Dari Buku Braille hingga Kelas Pelajar: Mengajarkan Rupiah dengan Inklusif

Dari Buku Braille hingga Kelas Pelajar: Mengajarkan Rupiah dengan Inklusif
Minat|Pendidikan Usia Sekolah

Literasi Rupiah harus bisa dijangkau semua anak

Edukasi Rupiah adalah pembelajaran yang membantu seseorang mengenali uang, memahami nilainya, menggunakannya secara tepat, serta melihat perannya dalam kehidupan dan sebagai simbol kedaulatan. Agar bermakna, pembelajaran ini harus disajikan dengan cara yang dapat diakses oleh anak-anak dengan kebutuhan berbeda.

Bagi penyandang disabilitas netra, memastikan nominal uang yang dipegang dapat menjadi tantangan, terutama ketika bertransaksi tanpa pendamping. Karena itu, buku Braille Rupiah bukan pelengkap semata: akses pada informasi yang sesuai format dapat mendukung kemampuan mengambil keputusan dan bertransaksi secara mandiri.

Di Jember, Riva Akmaliah Amanda, guru SLB Negeri Jember, dan Rachman Hadi menyusun buku Braille Cinta, Bangga, Paham (CBP) Rupiah agar siswa tunanetra dapat mengenali Rupiah dan menggunakannya secara mandiri. Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jember meluncurkan buku tersebut pada Senin (12/10), bertepatan dengan peringatan Hari Tongkat Putih Sedunia di Jember.

Buku Braille yang berangkat dari kebutuhan pembaca

Nilai penting buku ini terletak pada cara materi disesuaikan, bukan sekadar dialihkan ke huruf Braille. Bahan dan literatur disiapkan BI Jember, lalu Riva dan Rachman mengemasnya agar lebih mudah dipahami anak-anak dengan disabilitas netra. Naskah disusun, ditinjau BI, dan diperbaiki bersama sebelum menjadi buku.

Proses itu menegaskan bahwa aksesibilitas memerlukan perhatian pada bahasa, susunan, dan kebutuhan pembaca. Mengetahui nama atau bentuk nominal saja belum cukup bila seseorang masih kesulitan memahami nilai uang yang dipegang. Materi CBP Rupiah yang dirancang untuk siswa netra berpotensi menghubungkan pengenalan uang dengan penggunaan praktisnya.

Kemandirian dalam transaksi adalah dampak sehari-hari yang paling berarti dari pendekatan ini. Buku Braille tidak menghapus seluruh hambatan, tetapi dapat memberi siswa bekal untuk mengenali uang dengan lebih percaya diri. Inisiatif semacam ini juga mengingatkan bahwa literasi keuangan siswa harus mencakup cara belajar yang dapat diakses, bukan hanya isi pelajaran yang sama untuk semua.

Dari kompetisi ke kebiasaan keuangan

Di Semarang, BI Jawa Tengah menggunakan pendekatan berbeda melalui LINTAS CBP Rupiah 2026, sebuah program edukasi rutin yang menurut Deputi Kepala KPwBI Provinsi Jawa Tengah Anggis Rakhmi telah berlangsung selama empat tahun. Dalam kompetisi, pelajar menguji pemahaman tentang keaslian uang, Rupiah sebagai lambang kedaulatan, dan literasi keuangan.

Cakupan pembelajarannya lebih luas daripada mengenali uang sebagai alat transaksi. Siswa diajak memahami cara memperlakukan Rupiah dengan benar serta pentingnya mengelola keuangan sehari-hari. BI juga mendukung edukasi Rupiah pelajar melalui pembelajaran langsung di sekolah dan kunjungan ke kantor BI, sehingga materi dapat dipelajari lewat pengalaman, bukan hanya teori.

Kompetisi dapat menarik perhatian dan memberi ruang bagi siswa menguji pengetahuan, tetapi ukuran keberhasilannya seharusnya tidak berhenti pada prestasi lomba. BI berharap peserta mampu mengenali keaslian uang, mengelola keuangan secara bijak, dan menghargai Rupiah. Mereka juga diharapkan membagikan pemahaman kepada teman, keluarga, dan lingkungan sekitar.

Dari Buku Braille hingga Kelas Pelajar: Mengajarkan Rupiah dengan Inklusif

Dua metode, satu tujuan pendidikan

Buku Braille dan LINTAS CBP Rupiah menjawab kebutuhan yang berlainan. Yang pertama menutup kesenjangan akses bagi siswa tunanetra melalui bahan belajar yang disesuaikan; yang kedua menjangkau pelajar lewat kompetisi serta kegiatan sekolah. Keduanya menunjukkan bahwa edukasi keuangan sejak dini perlu menggabungkan aksesibilitas dengan kesempatan belajar yang menarik dan dekat dengan kehidupan.

Perbedaan sasaran bukan alasan untuk memisahkan upaya tersebut. Justru, pendekatan yang beragam dapat memperluas pemahaman tentang Rupiah: setiap anak perlu mengenali uang dan nilainya, sementara cara penyampaian harus sesuai dengan kebutuhan mereka. Untuk menjaga dampak jangka panjang, materi di sekolah, kegiatan BI, dan sumber belajar yang aksesibel perlu saling melengkapi.

Pada akhirnya, pendidikan Rupiah yang baik bukan hanya membuat siswa hafal ciri uang atau pesan kebangsaan. Pendidikan itu mesti membantu mereka menggunakan uang dengan lebih mandiri, mengelola keuangan secara bijak, dan meneruskan pengetahuan kepada orang lain. Dua inisiatif ini menawarkan langkah berbeda menuju tujuan yang sama: pemahaman Rupiah yang lebih inklusif dan berguna.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!