Pelatihan guru digital sebagai poros transformasi pendidikan
Pelatihan guru digital yang memadukan literasi teknologi, program coding guru, dan penguatan kompetensi AI pendidik adalah upaya sistematis menjadikan guru bukan sekadar pengguna teknologi, tetapi perancang pembelajaran berbasis data dan kecerdasan artifisial yang relevan dengan kebutuhan murid di era transformasi pendidikan digital. Di Bojonegoro, arah ini sudah jelas: masa depan mutu sekolah ditentukan oleh kemampuan guru menguasai koding dan AI, bukan sekadar mengoperasikan perangkat. Peluncuran program PGRI POWER dan Gerakan Nasional 1 Juta Guru Mahir Koding dan AI secara luring dan daring menandai pilihan sikap tegas bahwa literasi digital guru bukan lagi pelengkap, tetapi fondasi profesionalisme pendidik. Pertanyaannya bukan apakah guru perlu berubah, melainkan seberapa cepat ekosistem pendidikan berani mengubah cara mendidik mereka.
PGRI POWER: menjadikan coding dan AI bagian dari profesi guru
Peluncuran resmi PGRI POWER oleh PGRI Kabupaten Bojonegoro di Aula Dinas Pendidikan pada Sabtu, 5 September 2026, adalah sinyal politik pendidikan yang kuat: organisasi guru tidak menunggu arahan, tetapi memimpin transformasi digital dari dalam profesi. Program ini, adaptasi dari PSLCC, secara eksplisit dirancang untuk membangun ekosistem pendidikan yang adaptif terhadap disrupsi teknologi dan mengakselerasi digitalisasi pembelajaran. Di jantung program ini berdiri Gerakan Nasional 1 Juta Guru Mahir Koding dan AI, yang menjadikan pelatihan koding dan kecerdasan buatan bukan kursus hobi, tetapi kompetensi inti guru abad ke-21. Filosofi POWER—Professionalism, Opportunity, Wisdom, Excellence, Resilience—baru terasa bermakna bila diterjemahkan menjadi kebiasaan guru mengintegrasikan algoritma, data, dan AI ke dalam strategi mengajar sehari-hari, bukan hanya slogan di banner pelatihan.
Kolaborasi LPPM Unigoro, EMCL, dan PBG: pengembangan kapasitas guru berbasis ekosistem
Sementara PGRI mendorong pelatihan guru digital dari sisi profesi, perguruan tinggi dan dunia usaha menggarap pengembangan kapasitas guru dari sisi ekosistem. LPPM Universitas Bojonegoro bersama EMCL dan Pusat Belajar Guru Bojonegoro menggelar FGD pada Kamis, 3 September 2026, untuk mematangkan program peningkatan kapasitas guru yang mencakup penguatan kompetensi pembelajaran dan pemanfaatan teknologi kecerdasan artifisial (AI). Langkah ini penting: literasi digital guru tidak akan tumbuh bila sekolah dibiarkan meraba-raba sendiri kebutuhan dan tantangan. FGD menghadirkan dinas pendidikan, kementerian agama, cabang dinas, kepala sekolah, MGMP, dan KKG sebagai gambaran bahwa pengembangan kapasitas guru membutuhkan kerja kolektif lintas lembaga. Menurut Ketua LPPM Unigoro, forum ini bukan sekadar konsultasi, tetapi upaya memotret kesiapan sekolah SD dan SMP membangun kelas pembibitan siswa berprestasi yang sejalan dengan penguatan kompetensi guru di era AI.

Mengapa penguatan kompetensi AI pendidik menjadi kebutuhan mendesak
Jika kurikulum modern menuntut integrasi teknologi dalam pembelajaran, maka titik lemah terbesar justru berada di tangan guru yang belum dibekali kompetensi digital memadai. FGD LPPM Unigoro, EMCL, dan PBG menunjukkan secara terang bahwa peningkatan kapasitas guru pembimbing adalah kunci agar pembinaan siswa, termasuk untuk OSN, dapat berlangsung optimal. Di era AI, materi olimpiade, soal-soal latihan, dan strategi pembinaan bisa diolah dengan bantuan teknologi kecerdasan artifisial, tetapi hanya guru yang paham AI yang mampu memanfaatkannya secara cerdas. Di sisi lain, peluncuran PGRI POWER menegaskan tujuan untuk memperkuat kompetensi, karakter, dan profesionalisme pendidik sekaligus membangun ekosistem yang adaptif terhadap disrupsi teknologi. Artinya, kompetensi AI pendidik bukan sekadar tambahan, tetapi syarat agar kurikulum yang mengintegrasikan teknologi tidak berhenti sebagai dokumen, melainkan menjadi praktik nyata di kelas-kelas Bojonegoro.
Pelatihan guru digital sebagai strategi jangka panjang, bukan event sesaat
Kelemahan banyak program pelatihan guru digital adalah sifatnya yang seremonial dan berumur pendek. Bojonegoro, melalui kolaborasi LPPM Unigoro, PBG, dan EMCL, mencoba memecahkan masalah klasik ini dengan merancang program yang tidak berhenti pada pelatihan, tetapi berkembang menjadi pendampingan berkelanjutan untuk memperkuat kapasitas guru dan memperluas akses pembinaan siswa berprestasi. Pengaktifan kembali PBG sebagai ruang belajar bersama menunjukkan kesadaran bahwa pengembangan kapasitas guru adalah proses panjang, membutuhkan komunitas praktik dan dukungan lintas sekolah. Di sisi lain, Gerakan 1 Juta Guru Mahir Koding dan AI memberi skala ambisi: memposisikan keterampilan koding dan AI sebagai standar baru profesi guru, bukan kompetensi opsional. Jika konsisten, kombinasi pelatihan koding, literasi digital guru, dan pendampingan AI ini berpotensi mengubah wajah kelas di Bojonegoro dari sekadar tempat ceramah menjadi laboratorium pembelajaran berbasis teknologi yang hidup.






