Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Bank Syariah Selevel BSI Perlu Modal dan Kepercayaan Publik

Bank Syariah Selevel BSI Perlu Modal dan Kepercayaan Publik
Minat|Asia Tenggara

Skala besar harus menjadi lebih dari sekadar target

Bank syariah berskala besar adalah lembaga yang memiliki modal dan kapasitas bisnis cukup untuk memperluas layanan, membiayai kebutuhan masyarakat, serta bersaing tanpa bergantung pada satu pemain dominan. Karena itu, dorongan OJK agar lahir bank-bank selevel Bank Syariah Indonesia (BSI) layak dibaca sebagai agenda memperkuat pilihan dan daya saing, bukan semata mengejar ukuran. Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae menyampaikan dorongan tersebut dalam Indonesia Islamic Finance Summit 2026 di Makassar pada 2 November. OJK menargetkan tiga hingga empat bank syariah jumbo baru muncul pada 2027. Dian menekankan bahwa infrastruktur dan permodalan menentukan kemampuan bank untuk membuat terobosan; institusi kecil dengan modal terbatas akan sulit melakukan loncatan bisnis signifikan. Target itu masuk akal, tetapi ukuran besar hanya bernilai bila menghasilkan layanan yang lebih mudah dijangkau dan pembiayaan yang berguna bagi nasabah.

Aset tumbuh, pemanfaatan belum mengejar

Angka industri menunjukkan momentum sekaligus pekerjaan rumah. OJK mencatat aset keuangan syariah mencapai Rp3.307,73 triliun per September 2026, naik 9,28 persen dibandingkan periode yang sama setahun sebelumnya. Di perbankan syariah, pembiayaan tercatat Rp757,32 triliun dan tumbuh sekitar 12,05 persen, sedangkan dana pihak ketiga mencapai Rp853,75 triliun, naik sekitar 7,48 persen. NPF berada di 2,28 persen. Namun, besarnya aset belum otomatis berarti masyarakat menggunakan layanan syariah secara luas. Hasil SNLIK 2026 mencatat indeks literasi keuangan syariah 43,07 persen, sementara inklusinya baru 13,24 persen. Kesenjangan ini penting: masyarakat bisa mengenal prinsipnya, tetapi belum tentu menemukan produk yang cocok, akses yang dekat, atau alasan praktis untuk beralih. Pertumbuhan yang dinilai dari aset saja berisiko menutupi jarak antara industri dan kebutuhan sehari-hari.

Bank Syariah Selevel BSI Perlu Modal dan Kepercayaan Publik

Pelita Syariah mendekatkan edukasi ke kehidupan warga

Karena itu, pembangunan bank besar perlu berjalan beriringan dengan literasi dan akses. Dalam Syariah Financial Fair (SYAFIF) Goes to Makassar pada 30 Oktober hingga 1 November 2026, Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi menekankan kolaborasi lintas lembaga dan keterlibatan generasi muda. Kegiatan tersebut juga menjadi momentum peluncuran Pelita Syariah, Panduan Literasi dan Referensi Dakwah Keuangan Syariah, yang disiapkan bersama Kementerian Agama dan pemangku kepentingan lain. Menempatkan panduan keuangan dalam kegiatan dakwah dapat membantu menjelaskan pilihan dan risiko dengan bahasa yang akrab bagi masyarakat. Namun, edukasi tidak boleh berhenti pada pengenalan istilah atau prinsip. Literasi keuangan syariah berarti masyarakat mampu menilai pilihan, memahami konsekuensi, dan mengambil keputusan sesuai kebutuhannya. Agar pengetahuan berubah menjadi pemanfaatan, lembaga keuangan juga harus menyediakan produk yang relevan serta mudah dijangkau.

Konsolidasi, akses, dan kolaborasi perlu berjalan bersama

Agenda OJK memadukan penguatan permodalan dengan empat jalur pengembangan: edukasi berbasis kolaborasi, perluasan akses dan mutu layanan, pemanfaatan digitalisasi, serta kerja sama antarpemangku kepentingan. OJK juga mendorong penggunaan Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah agar layanan menjawab kebutuhan tiap wilayah. Arah ini lebih meyakinkan daripada mengandalkan konsolidasi saja. Bank berukuran besar dapat memperluas kapasitas pembiayaan, tetapi masyarakat tetap membutuhkan layanan yang mudah dipahami dan sesuai kemampuan. Di sisi lain, edukasi tanpa pilihan produk yang memadai sulit mendorong inklusi. Jadi, hubungan OJK dan BSI sebagai tolok ukur skala seharusnya mendorong persaingan sehat, bukan menjadikan ukuran sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan. Keberhasilan akan terlihat ketika lebih banyak orang dapat memilih layanan syariah dengan pemahaman yang cukup, sementara bank memiliki modal dan infrastruktur untuk melayani mereka.

Kesimpulannya, target melahirkan bank syariah besar selevel BSI memberi industri sasaran yang jelas, tetapi tidak akan cukup jika berdiri sendiri. Permodalan dan konsolidasi perlu disertai edukasi, akses yang nyata, dan produk yang menjawab kebutuhan nasabah. SYAFIF Makassar dan Pelita Syariah memberi OJK jalur untuk memperluas pemahaman; tantangan berikutnya adalah memastikan pemahaman itu berujung pada pemanfaatan yang aman dan bermanfaat. Ukuran bank penting, tetapi kepercayaan dan manfaat bagi masyarakatlah yang menentukan apakah pertumbuhan industri benar-benar inklusif.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!