Kesempatan belajar harus berangkat dari kebutuhan anak
Sekolah Rakyat adalah program pendidikan yang menggabungkan pembelajaran, rehabilitasi, dan pelatihan keterampilan agar anak memperoleh layanan sesuai kondisi dan kebutuhannya. Kemensos memastikan anak penyandang disabilitas dapat mengikuti program ini, tetapi penerimaan siswa disesuaikan dengan asesmen masing-masing. Kebijakan itu disampaikan Menteri Sosial Saifullah Yusuf setelah bertemu pimpinan Komisi Perlindungan Anak Indonesia di Jakarta pada 5 November 2026.
Keterbukaan ini penting karena akses pendidikan tidak semestinya ditutup hanya berdasarkan label disabilitas. Namun, menerima semua anak dengan satu pola pembelajaran juga bukan solusi. Asesmen penerimaan dapat membantu menimbang kondisi, kebutuhan, dan kemampuan beradaptasi, sehingga keputusan tidak berhenti pada jawaban ya atau tidak, tetapi mempertimbangkan dukungan yang diperlukan. Prinsipnya tepat selama asesmen menjadi pintu untuk menemukan layanan yang sesuai, bukan alasan untuk menyingkirkan anak.
Asesmen menentukan bentuk dukungan
Menurut Saifullah, anak yang dinilai siap dapat bergabung dalam pembelajaran bersama siswa lain. Sebaliknya, anak yang belum siap secara psikologis atau motorik tidak akan dipaksakan masuk kelas reguler. Kemensos dapat mengarahkan mereka ke balai atau sentra rehabilitasi sosial terlebih dahulu, dengan penanganan sampai kondisinya dinilai siap untuk bergabung.
Pendekatan bertahap ini masuk akal jika rehabilitasi benar-benar menjadi jembatan menuju pendidikan, bukan ruang tunggu tanpa kepastian. Karena itu, keluarga perlu memahami bahwa hasil asesmen dapat menentukan jalur layanan awal, sekaligus meminta penjelasan tentang alasan dan tindak lanjut keputusan. Kemensos menyebut Sekolah Rakyat mengintegrasikan pendidikan, rehabilitasi, serta vokasi atau pelatihan keterampilan kerja. Integrasi itu memberi peluang dukungan yang lebih luas, tetapi pelaksanaannya harus tetap berpijak pada kebutuhan setiap anak.
Ada pengalaman awal, tetapi informasi pendaftaran masih perlu diperjelas
Saifullah menyebut sejumlah anak penyandang disabilitas mental di Bekasi, Sumatera Selatan, dan Sulawesi Utara telah mengikuti Sekolah Rakyat. Mereka dilaporkan menunjukkan perkembangan positif setelah satu tahun belajar. Pengalaman ini memberi gambaran bahwa partisipasi siswa disabilitas dapat berjalan, tetapi bukan bukti bahwa kebutuhan semua anak sama atau bahwa setiap lokasi menyediakan dukungan yang seragam.
Keluarga yang mempertimbangkan pendaftaran sebaiknya memastikan langsung kepada penyelenggara tentang alur asesmen, dokumen yang diminta, layanan pendampingan yang tersedia, dan langkah berikutnya bila anak diarahkan menjalani rehabilitasi. Informasi persyaratan pendaftaran yang terperinci belum dijelaskan dalam keterangan Kemensos yang tersedia. Maka, keluarga perlu meminta penjelasan resmi sebelum mengambil keputusan, alih-alih menganggap satu hasil asesmen otomatis berlaku untuk semua keadaan.
Keterbukaan perlu disertai kepastian tindak lanjut
Kebijakan ini mengakui bahwa siswa disabilitas berhak mendapat kesempatan, sementara kesiapan dan kebutuhan dukungan tiap anak berbeda. Itu arah yang lebih baik daripada menolak secara menyeluruh atau memaksakan pembelajaran yang belum sesuai. Namun, asesmen hanya akan memperluas akses pendidikan bila hasilnya diikuti penjelasan yang jelas, layanan yang tepat, dan jalur untuk bergabung ketika anak dinilai siap.
Kesimpulannya, Sekolah Rakyat terbuka bagi anak penyandang disabilitas, tetapi penerimaan dan bentuk layanannya bergantung pada asesmen. Keluarga patut menyambut peluang tersebut sekaligus meminta rincian tentang persyaratan, dukungan, dan tindak lanjut. Tanpa kepastian itu, keterbukaan berisiko hanya menjadi pernyataan; dengan pendampingan yang sesuai, asesmen dapat menjadi cara untuk menghubungkan anak dengan pendidikan, bukan penghalangnya.






