Sekolah Rakyat sebagai Jalan Pulang, Bukan Sekadar Tambalan
Program Sekolah Rakyat adalah sebuah program pemerintah pendidikan yang dirancang sebagai jalan pulang bagi anak putus sekolah dan anak yang tidak pernah mengenyam sekolah, dengan menyediakan akses pendidikan inklusif melalui model pendidikan alternatif berbasis asrama yang menyatukan pembelajaran akademik, pemenuhan kebutuhan dasar, dan pembinaan karakter bagi keluarga paling rentan dan kurang mampu. Program ini tidak boleh dibaca sebagai proyek karitatif sesaat, melainkan sebagai koreksi struktural terhadap sistem pendidikan formal yang terlalu mudah melepas anak ketika mereka terhambat ekonomi atau persoalan keluarga. Ketika Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyebut Sekolah Rakyat sebagai cara agar “yang putus sekolah bisa melanjutkan sekolah”, ia sedang menegaskan bahwa negara mengakui kegagalan masa lalu dan memilih membuka pintu kedua bagi mereka yang tertinggal. Secara politis, ini adalah pengakuan bahwa hak belajar bukan berhenti di gedung sekolah negeri, melainkan melekat pada setiap anak, apa pun latar belakang keluarganya.

Motivasi, Dukungan Psikologis, dan Hak untuk Bermimpi Besar
Yang membedakan program Sekolah Rakyat dari pendekatan pendidikan alternatif lain adalah penekanan kuat pada motivasi dan dukungan psikologis bagi anak putus sekolah. Teddy berulang kali mengajak siswa “silakan bermimpi besar, silakan bercita-cita besar”, dan menegaskan tujuan pendidikan bukan cuma mengembalikan anak ke bangku kelas, tetapi membuat mereka berani merancang masa depan dan memulihkan kepercayaan diri yang sempat patah. Sikap ini penting, karena anak yang pernah tersingkir dari sekolah sering membawa rasa malu dan rendah diri. Tanpa intervensi psikososial, akses pendidikan inklusif tinggal slogan. Di sini, Sekolah Rakyat menempatkan mimpi dan harapan sebagai kurikulum tak tertulis. Ketika seorang siswi seperti Tika dapat berbicara tentang cita-cita menjadi psikolog, setelah sebelumnya terhambat biaya sekolah dan kehilangan ibu, itu menunjukkan bahwa program ini sedang merekatkan kembali identitas dan harga diri, bukan hanya menambah angka partisipasi sekolah.
Model Asrama Terintegrasi: Pendidikan dan Kehidupan Sehari-hari
Konsep pendidikan terintegrasi berbasis asrama yang diusung Sekolah Rakyat adalah keberanian mengambil jarak dari pola sekolah umum. Peserta didik bukan hanya duduk di kelas, mereka sekaligus menerima dukungan kebutuhan dasar seperti tempat tinggal dan konsumsi selama proses belajar. Pengalaman Tika yang menyebut seluruh perlengkapan sekolah dan kebutuhan pribadi disediakan, serta makan tiga kali sehari di asrama, menggambarkan betapa program ini mengurangi beban logistik keluarga miskin yang selama ini menjadi alasan utama putus sekolah. Di saat yang sama, Teddy menekankan bahwa siswa diajari etika, sopan santun, adab, dan nilai Pancasila, sehingga pendidikan karakter berjalan bersama pelajaran akademik. Ini patut diapresiasi: akses pendidikan inklusif yang serius tidak hanya mengantar anak ke ujian akhir, tetapi mempersiapkan mereka menjadi warga yang mampu hidup baik. Namun, model asrama juga menuntut kontrol mutu tinggi; tanpa standar yang jelas, risiko pengasuhan yang sempit dan disiplin yang berlebihan dapat mengaburkan tujuan emansipatoris program ini.
Skala Program dan Strategi Pemerintah Mewujudkan Pendidikan Inklusif
Dari sisi skala, Sekolah Rakyat bukan lagi rintisan kecil. Teddy menyebut sekitar 43 ribu anak telah bersekolah melalui program ini, sementara secara kelembagaan telah berdiri 165 Sekolah Rakyat pada 2025 dan bertambah 100 sekolah baru pada 2026. “Sekolah Rakyat adalah gagasan langsung Presiden Prabowo Subianto” yang diperuntukkan bagi keluarga paling tidak mampu, kata Menteri Sosial Saifullah Yusuf. Pernyataan ini menegaskan bahwa Sekolah Rakyat adalah program pemerintah pendidikan yang ditempatkan di jantung agenda kekuasaan, bukan pinggiran birokrasi. Pemerintah secara terang menyebut hak memperoleh pendidikan sebagai perhatian utama dalam pengembangan program ini, dan ingin memastikan keterbatasan ekonomi tidak lagi menjadi penghalang anak bersekolah. Di atas kertas, ini adalah wujud akses pendidikan inklusif yang menjangkau kelompok yang selama ini tertinggal. Namun, pertanyaan kritisnya: apakah Sekolah Rakyat akan mendorong reformasi sistem sekolah formal, atau dibiarkan menjadi kantong tersendiri yang menampung mereka yang miskin tanpa mengubah struktur ketidakadilan yang lebih luas?
Sekolah Rakyat sebagai Pendidikan Alternatif: Peluang, Risiko, dan Arah ke Depan
Sekolah Rakyat jelas menawarkan bentuk pendidikan alternatif bagi anak putus sekolah dan anak yang tidak pernah mengecap bangku formal, terutama dari keluarga sangat tidak mampu. Keunggulannya ada pada kombinasi: akses, asrama, pemenuhan kebutuhan dasar, dukungan kesehatan seperti pemeriksaan mata bagi siswa yang bermasalah penglihatan, serta penanaman nilai kehidupan. Program pemerintah pendidikan ini, jika konsisten, bisa mengubah narasi tentang anak dari keluarga termiskin: bukan lagi objek belas kasihan, tetapi pemilik hak yang setara untuk masa depan. Namun, sebagai pendidikan alternatif, ia juga berisiko dipandang sebagai jalur “kelas dua” bila tidak dijamin kesetaraan mutu dan pengakuan ijazah dengan sistem formal. Di titik ini, pilihan politik sangat menentukan. Jika negara mengintegrasikan Sekolah Rakyat dalam kerangka besar reformasi pendidikan, ia bisa menjadi katalis keadilan sosial. Jika tidak, ia terancam menjadi solusi separuh hati yang merawat gejala kemiskinan tanpa menyentuh akar.






