Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Bahasa sebagai Jembatan Antarbudaya

Bahasa sebagai Jembatan Antarbudaya
Minat|Jepang & Korea

Bahasa yang Menjadi Modal Diplomasi

Bahasa Indonesia bagi warga Korea Selatan adalah sarana untuk memahami masyarakat Indonesia dari dekat, sekaligus modal diplomasi yang menghubungkan pengalaman dan pemikiran kedua bangsa. Minat itu tak berhenti pada kelas bahasa: warga Korea yang mempelajarinya dapat menceritakan Indonesia dengan sudut pandang mereka sendiri, bukan semata melalui gambaran yang datang dari luar. Duta Besar RI untuk Korea Selatan Cecep Herawan menyebut bahasa Indonesia telah menjadi aset diplomasi nyata di Korea Selatan.

Tanda-tandanya terlihat pada pendidikan dan pembelajaran publik. Setidaknya dua universitas—Hankuk University of Foreign Studies di Seoul dan Busan University of Foreign Studies di Busan—memiliki program studi bahasa Indonesia. Sejak 2021, KBRI Seoul juga mengadakan kelas Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing secara daring dalam dua gelombang setiap tahun, dengan sekitar 850 peserta warga Korea Selatan pada tiap gelombang. Angka itu menunjukkan bahwa bahasa Indonesia Korea bukan minat sesaat. Ketika semakin banyak warga Korea fasih, kedua masyarakat memperoleh lebih banyak orang yang mampu berbicara lintas konteks, bukan sekadar bertukar sapaan.

Dari Belajar Menyapa ke Menyampaikan Gagasan

Kompetisi karya tulis Indonesia-Korea Young Voices 2026 memperlihatkan apa yang bisa terjadi ketika kemampuan bahasa diberi ruang untuk berkembang. KBRI Seoul bekerja sama dengan harian Kompas untuk menggelar kompetisi bagi warga Korea Selatan, dengan karya yang ditulis dalam bahasa Indonesia. Menurut Cecep, banyak warga Korea memiliki pandangan jernih tentang Indonesia dan hubungan kedua negara; gagasan itu layak didokumentasikan dan dibaca lebih luas.

Perubahan dari percakapan sederhana menuju tulisan utuh penting bagi diplomasi Korea Selatan. Peserta bukan hanya berlatih menyapa, melainkan menyampaikan pengalaman dan gagasan kepada pembaca Indonesia. Pemenang kompetisi, Roh Eunbee, menulis karya berjudul “Sekuat Tepuk Tangan, Sedekat Seoul-Jakarta”. Kegiatan semacam ini membuat bahasa bekerja dua arah: penulis belajar menyampaikan maksud dengan cermat, sementara pembaca berkesempatan melihat Indonesia melalui pengalaman orang Korea. Itulah diplomasi publik yang lebih meyakinkan daripada promosi satu arah.

Kedekatan Dibangun lewat Pengalaman Manusia

Cerita para peserta menegaskan bahwa hubungan lintas budaya tumbuh melalui perjumpaan sehari-hari, bukan hanya agenda resmi. Mereka menulis tentang keberagaman, kebudayaan, makanan, dan perjalanan ke berbagai tempat di Indonesia. Namun, hal yang paling membekas sering kali bukan tujuan wisatanya, melainkan orang-orang yang ditemui: peserta menggambarkan teman Indonesia sebagai sosok yang hangat, peduli, dan suka menolong. Bahasa membantu pengalaman seperti ini menjadi cerita yang dapat dibagikan tanpa kehilangan nuansanya.

Warga Korea fasih berbahasa Indonesia dapat menjembatani perspektif kedua masyarakat karena mereka memahami bukan hanya kosakata, tetapi juga cara menyampaikan maksud dan membaca konteks. Anak muda dari kedua negara, menurut Cecep, berperan strategis dalam diplomasi jalur kedua: menjembatani budaya dan pemikiran yang berbeda serta mengembangkan gagasan baru. Karena itu, hubungan Indonesia Korea sebaiknya tidak dinilai hanya dari kesepakatan pemerintah. Kedekatan antarmasyarakat adalah fondasinya, sementara bahasa menyediakan jalan untuk merawat kedekatan tersebut.

Peluang yang Perlu Diperluas

Popularitas Hallyu di Indonesia jauh lebih terasa daripada arus pengenalan budaya Indonesia di Korea Selatan. Cecep mengakui ketimpangan itu, tetapi melihatnya sebagai pekerjaan rumah sekaligus peluang, bukan persaingan. Pelajarannya jelas: pengenalan budaya tidak dapat dibebankan pada satu lembaga. Pemerintah dapat membuka ruang, sementara kampus, pelaku usaha, media, dan masyarakat mengisinya dengan kegiatan dan kisah yang membuat Indonesia hadir secara berkelanjutan.

Kompetisi tulisan dan kelas bahasa merupakan langkah nyata, tetapi keduanya perlu ditopang lebih banyak pertemuan langsung. Cecep berharap interaksi generasi muda Indonesia dan Korea semakin sering. Pertukaran yang berulang memberi penutur kesempatan menguji pemahaman, membangun kepercayaan, dan menemukan kesamaan tanpa menghapus perbedaan. Bahasa Indonesia Korea akan makin bernilai bila dipakai dalam percakapan, karya, riset, dan persahabatan, bukan hanya dipelajari untuk memperoleh kemampuan formal.

Pada akhirnya, meningkatnya minat warga Korea Selatan terhadap bahasa Indonesia patut dilihat sebagai investasi hubungan antarmasyarakat. Penutur fasih dapat mengoreksi stereotip, menyampaikan pengalaman dengan lebih bernuansa, dan menghubungkan ruang publik kedua negara. Jika pembelajaran bahasa berjalan seiring dengan interaksi nyata, diplomasi tak lagi hanya berlangsung di meja perundingan: ia hidup dalam cerita dan kerja sama warga. Itulah alasan kuat untuk terus memperluas ruang belajar dan bertemu.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!